Meka Nitrit Kawasari

Satu
jam berlalu, Laila masih saja bersandar di bawah pohon mangga satu-satunya yang
ia miliki. Terererereret......!!!! Akhirnya yang ia tunggu datang juga,
perempuan muda berkerudung hijau dengan wajah ramah itu sontak membuat Laila
senang bukan kepalang. Dan
karena sudah kepalang tanggung Laila meloncat, sekalian juga teriakannya
membahana.
”Hore bukunya dataaaaaaaaaaaaaangggggg!!!!!!”
Belum juga perempuan yang kerap dipanggil Putri
itu merebahkan tubuhnya ke tikar tempat Laila duduk, serentetan pertanyaan
memburu bagaikan desingan peluru yang siap-siap menerobos kulit-kulit manusia.
”Kenapa
lama sekali bu? Ibu dari mana aja to? Ibu gak kenapa-kenapa kan?Ada buku baru
buat Laila kan bu??ayolah bu mana?mana bu bukunya?”Laila terus mengoceh tanpa
jeda. Putri pun tersenyum sembari meletakkan tas punggung, tas selempang plus
dua tas tenteng di tangan kanan dan kirinya yang langsung diserbu dan
diobrak-abrik Laila.
Secuplik
kisah dari sebrang mengantarkan pembaca untuk menikmati untaian kata dan kalimat yang mendayu-dayu setelah kisah
di atas terlampaui.
Kisah
di atas nyata adanya, namun diolah dengan menambahkan penyedap rasa plus dengan
bentuk berbeda. Putri adalah salah satu guru muda yang mendapatkan tugas
mengajar di salah satu wilayah pelosok negeri ini. Setiap hari setelah
mengajar, Putri akan berkeliling, berputar-putar sembari menggendong dan
menenteng tas berisi buku-buku bacaan untuk anak-anak didik dan masyarakat sekitar
tempatnya bertugas.
Tak
hanya ia, teman-teman seperjuangannya yang tersebar di berbagai pelosok
Indonesia juga melakukan hal ini. Panas, hujan, dan lelah tak jua ia pedulikan,
semangatnya terus membara, melangkahkan kaki setapak demi setapak untuk menyalakan
kegemaran membaca serta membagikan ilmu kepada setiap insan di tempatnya hidup
kini.
Riang
hatinya melihat anak-anak didik serta masyarakat selalu menanti kehadiran
buku-buku yang ia bawa. Kondisi ini berubah drastis ketika sebelum ia dan
rekan-rekannya datang. Masyarakat dan para pelajar di daerah-daerah tempat ia
dan rekan-rekannya ditugaskan, awalnya masih kekurangan bahan bacaan yang
berkualitas. Tak urung, kebiasaan membacapun tak bisa melekat erat di benak
mereka. Ditambah wilayah tempat tinggal mereka yang terbilang pelosok dan jauh
dari hiruk pikuk kota, menambah sulitnya buku bacaan yang dapat mereka
manfaatkan. Majalah dan koran saja hanya orang-orang tertentu yang bisa
membeli, itupun belum tentu dua minggu atau sebulan sekali. Ah lengkaplah sudah
derita mereka, tak dapat membuka jendela dunia, karena sang jendela belum
terpasang dengan cantiknya.
Huff
pasti sedih sekali melihat mereka yah....sementara di kota-kota, perpustakaan
yang telah tersedia dengan gedung yang nyaman, buku yang beranegaragam, ada
wifi, ada komik, ada ac, kipas angin, mesin fotocopy dsb masih saja belum
banyak yang mengidolakan. Ada juga Taman bacaan yang menjamur dengan beragam
program dan bacaan. Sedangkan di desa-desa itu....hanya buku tulis yang setiap
hari dapat mereka lihat dan sentuh. Miris sekali yah pembaca....
Untung
ada para guru muda yang bersedia meneteskan peluh dan menebarkan senyum serta
menyalakan obor-obor ilmu itu. Menjadi perpustakaan berputar adalah salah satu
tugas mereka disamping tugas mengajar selama setahun di wilayah penempatan.
Perpustakaan berputar ini merupakan
salah satu program dari ”Indonesia Mengajar” dengan sang pelopor, Anies
Baswedan. Bapak yang peduli akan pendidikan anak-anak ini membuat program
perpustakaan “Indonesia Menyala” untuk wilayah penempatan para Pengajar Muda di
berbagai pelosok Indonesia. Program ini dibuat berdasarkan pengamatan lapangan
para pengajar muda terdahulu. Secara online, perpustakaan ini diluncurkan pada
tanggal 15 April 2011 dengan dua bentuk. Bentuk pertama adalah perpustakaan
tetap, yaitu perpustakaan permanen dan menetap di sekolah-sekolah tempat para
pengajar muda mengajar. Bentuk kedua adalah perpustakaan berputar yang telah
dikisahkan di atas, perpustakaan yang menempel di tubuh para pengajar muda.
Perpustakaan
melekat dan berputar ini terletak di 140 Sekolah Dasar di 16 Kabupaten
se-Indonesia. Tentunya di SD dan daerah tempat para pengajar muda bertugas.
Ke-16 Kabupaten tersebut adalah Kabupaten Paser (Kalimantan Timur), Kabupaten
Majene (Sulawesi Barat), Kabupaten Bengkalis (Riau), Kabupaten Halmahera
Selatan (Maluku Utara), dan Kabupaten Tulang Bawang Barat (Lampung), Kabupaten
Aceh Utara (Nanggroe Aceh Darussalam), Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten
Muara Enim (Sumatra Selatan), Kabupaten Lebak (Banten), Kabupaten Gresik (Jawa
Timur), Kabupaten Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Kabupaten Kep. Sangihe
(Sulawesi Utara), Kabupaten Bima (Nusa Tenggara Barat), Kabupaten Rote Ndao
(Nusa Tenggara Timur), Kabupaten Maluku Tenggara Barat (Maluku), dan Kabupaten
Fakfak (Papua Barat).
Nama “Indonesia Menyala” tak bukan tanpa
arti. Banyak harapan yang ingin diraih dari nama itu. Menjadi anak-anak desa
yang menyala, denga membaca buku yang baik bersama para pengajar muda, menjadi
baik juga akal dan budi mereka. Jika digambarkan, bagaikan ribuan dan jutaan
lampu yang menyalakan Indonesia dari seluruh pelosok negeri. Filosofi ini
seperti ungkapan Bapak Anies Baswedan di https://indonesiamengajar.org/tentang-indonesia-mengajar/indonesia_menyala/.
Program perpustakaan berputar ini
unik adanya. Selain dibawa oleh para pengajar muda dengan berputar-putar di
desa, buku perpustakaan yang satu ini pun berputar pula. Dalam periode
tertentu, buku yang telah ludes dikonsumsi oleh para pelajar dan masyarakat
salah satu desa penempatan pengajar muda, maka buku tersebut akan diputar
kepada pengajar muda di desa lain yang masih bertugas di satu kabupaten. Wah
asyik kan...jadi buku-buku itu tak hanya bisa dinikmati oleh salah satu desa
saja, tapi bergantian.
Tak
hanya itu, para pengajar muda bebas menerima kiriman buku-buku bacaan yang
sesuai dari para “penyala”, keluarga, kolega, atau teman-teman mereka selain
mendapatkan buku dari para “penyala” di kantor pusat Indoesia mengajar. Penyala
merupakan orang-orang yang tergerak hatinya untuk mendonasikan dana atau buku
untuk anak-anak bangsa di berbagai pelosok negeri.
Selain
perpustakaan tetap di sekolah dan perpustakaan berputar, para pengajar muda ini
tak tertutup kemungkinan untuk membuat atau menghidupkan kembali perpustakaan
di tingkat kecamatan atau desa di wilayah penempatan mereka. Banyak memang
perpustakaan yang “mati segan, hidup pun tak mampu”, seperti ungkapan salah
satu pengajar Muda, Putri. Kala itu Putri bertugas di salah satu Sekolah Dasar
di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik Jawa Timur.
Hmmmm
benar-benar perjuangan yang tak singkat dan tak mudah untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa. Dan para pemuda serta para orang dewasa yang peduli
pendidikan anak muda tersebut tak lantas hanya berpangku tangan atau
berkoar-koar memprotes pemerintah dengan berbagai ancaman saja. Mereka lebih
rajin menggerakkan tangan, berkoar-koar mengajak tetangga-tetangga sebelah
untuk mendonasikan buku, serta mengajak tunas muda untuk membagikan ilmu plus
mewujudkan hak anak untuk mendapatkan pendidikan secara merata.
Dan kalau bukan kita yang peduli, lalu
siapa lagi???? Anak-anak seperti Laila, Icha, Zakiya,
Fuddin, Susan (beberapa siswa-siswi Putri) dll akan mempunyai mata yang
berbinar melihat berbagai buku di sekitar mereka setiap hari. Ah senangnya
melihat anak-anak itu!!! Anak-anak bangsa penerus harapan bangsa. Jadi ada 1
jenis perpustakaan lagi kan??? ”Perpustakaan Berputar”.
Jl. Cenderawasih, No. 27 RT 2 RW 1,
Karangjati, Bergas, Kab. Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar