Slogan kami

Redaksi Buletin Pustaka mengucapkan Selamat Hari Soempah Pemoeda, 28 Oktober 2013

Kamis, 10 September 2009

Perpustakaan CENTINI PUNYA GAWE…..

CENTINI PUNYA GAWE…..

Pringsari, tanggal 9 Agustus 2009 tepatnya di balai desa Desa Pringsari Kecamatan Pringapus, ada keramaian yang mengundang decak kagum. Bagaimana tidak?… Perpustakaan/ Taman Bacaan Masyarakat “Centini” mengadakan perhelatan akbar, mempromosikan keberadaan Perpustakaan/Taman Bacaan Masyarakat “Centini” kepada masyarakat luas dengan kegiatan besar. Perpustakaan desa yang baru 1 tahun berdiri ini telah mampu menunjukkan tajinya untuk ikut memasyarakatkan budaya baca. Tentunya komitmen yang kuat dari Kepala desa dan perangkat, serta tokoh masyarakat desa Pringsari menjadikan Perpustakaan/ Taman Bacaan Masyarakat mampu berkibar kencang dalam menggerakkan budaya masyarakat di desa Pringsari.

Bapak Kades dan  Peserta Lomba
 
“Centini” kami ambilkan dari sejarah, pada masa kerajaan, bagaimanapun kita harus menghargai sejarah, dimana sejarah kita membuktikan bahwa kita adalah bangsa yang besar, jadi kami mengharapkan dengan memakai nama “Centini” ini masyarakat kita akan mampu bangkit kembali menjadi bangsa yang besar melalui membaca, sehingga bangsa kita tidak lagi di hina bangsa lain, seperti akhir – akhir ini”, jelas Bapak Kades Pringsari.
Perpustakaan/ Taman Bacaan Masyarakat “Centini” yang berada di Desa Pringsari terletak berdekatan dengan Kantor Kepala Desa disamping Balai Desa. Keunggulan letak Centini yang strategis ini menjadikan Perpustakaan/ Taman Bacaan cepat familiar di mata masyarakat, terutama anak – anak sekolah. “Tiap harinya tak kurang dari 30 anak- anak yang berkunjung kesini.” jelas Riyanto Pengelola Perpustakaan “Centini”.

Lomba Geguritan
 
Kegiatan promosi yang dilakukan ini bertujuan mendekatkan Perpustakaan/ Taman Bacaan Masyarakat “Centini” kepada masyarakat. Kegiatan – kegiatan yang dilakukan pun nguri – uri kebudayaan lokal, lomba – lombanya pun masih berkaitan dengan adiluhung budaya Indonesia, seperti  Lomba Geguritan, Baca Puisi, lomba mewarnai serta lomba melukis.

Peran serta masyarakat dalam membantu kegiatan ini sangat besar, bahkan perusahaan disekitar Desa Pringsari banyak yang menjadi donatur, baik berupa uang maupun barang, sebagai gambaran di Desa Pringsari yang terletak di Kecamatan Pringapus banyak berada perusahaan besar.


Lomba Melukis
 
Kegiatan promosi perpustakaan yang dilangsungkan bersamaan dengan “Merti Dusun Pringsari” diakhiri dengan kegiatan Pagelaran Wayang Kulit. Penyerahan hadiah lomba dilaksanakan pada saat pagelaran Wayang kulit, penyerahan hadiah ini diberikan oleh Bapak Camat Pringapus, Kapospol Pringapus dan Kepala Desa Pringsari.

Kegiatan seperti ini, direncanakan akan diselenggarakan setiap tahun, dan menjadi agenda yang rutin, sehingga tujuan agar masyarakat lebih akrab dengan perpustakaan dan buku akhirnya tercapai. (*\Bambang)

Cintaku Di Balik Buku

Cintaku  Di Balik Buku
* Wachid El Khwarizm


 Panas terik matahari tak menyurutkan langkahku. Aku keluar dari kampus pukul satu siang setelah terlebih dahulu menunaikan kewajibanku untuk menyembahNya. Bau asap kenalpot dan udara panas menyambutku. Tujuanku satu, aku harus mencari bahan untuk menyelesaikan tugas dari dosen ku. Makan siang aku abaikan dulu. Sebagai mahasiswa Teknik Informatika aku harus kreatif dalam belajar. Kemarin aku sudah dapat bahan untuk tugas matakuliah Elektronic Digital dari internet, tapi itu belum cukup. Maka hari ini aku akan mencari buku di Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang yang berada di alun-alun kota Ungaran. Semakin banyak referensi semakin bagus nilainya. Itu yang dikatakan dosenku.  Sebenarnya buku itu ada sih, di Perpustakaan kampus, tapi semua sudah laris dipinjam teman-temanku. Maklumlah sobat untuk mendapatkan nilai ”A” kami harus segera mengumpulkan tugas itu sebelum ujian akhir semester bulan ini.
Aku melesat melewati Bangjo (trafic light) di depan gerbang kampus ku. Tak perlu waktu lama untuk mencapai tempat tujuan ku. Tinggal satu Bangjo lagi aku belok kiri dan sampailah aku di alun-alun kota Ungaran. Aku tak tahu sobat kenapa tempat itu disebut alun-alun. Karena seperti kebanyakan alun-alun di kota-kota lain, tempat itu harusnya luas seperti lapangan bola yang minimal adalah seratus meter persegi. Tetapi yang ini, jangankan seratus meter, mungkin lima puluh meter persegi aja tidak ada. Fuuuh... kenapa aku yang harus pusing.
            Aku memakirkan motorku di depan kantor Perpusda. Aku masuk dan langsung mengisi buku kunjungan terlebih dahulu. Tas aku letakkan di tempat penitipan tas yang berada disebelah kiri meja petugas. Biasanya ada dua petugas yang melayani, namun ini hanya satu yaitu sorang bapak. Sedang yang biasanya, satu lagi berjilbab sedang tidak ada disana. Sedang istirahat kali, batinku. Ku cari-cari buku Teknik Digital dideretan klasifikasi karya umum. Wuiih... sebodoh-bodohnya aku sobat, aku tahu tentang klasifikasi buku perpustakaan. Aku kan pernah ikut bimbingan teknis perpustakaan yang diselenggarakan Perpusda Kabupaten Semarang!. Gak sombong gitu loch, kalau aku sudah bisa memperkirakan buku yang aku cari berada dimana.
            Untuk hari ini pengunjung Perpusda agak sedikit sepi mungkin mereka sedang ISHOMA (istirahat, sholat, makan) ya?. Ada beberapa pengunjung yang sudah asyik dengan buku bacaannya masing-masing. Aku tebarkan pandangan mencari tempat yang enak untuk membaca.
            ”Subhanalloh” ku ucap dalam hati. Tahukah sobat, seorang gadis berkerudung sedang khusyuk membaca disebelah sana. Dua buku berada didepannya. Satu buku yang dipegangnya berwarna pink berjudul Khadijah, satu lagi masih tergeletak dimeja berwarna biru berjudul Shirah Shahabiyah. Sebagai pengelola Taman Bacaan Aku tahu buku itu. Dua buku best seller, benar-benar bacaan seorang muslimah sejati. Perlu engkau ketahui juga sobat, seperti inilah tipeku (ngaca dulu dong mas....). Bicara masalah tipe sobat, aku suka gadis yang berjilbab dari pada yang tidak. Karena jilbab adalah cermin wanita shalihah. Walaupun itu bukan jaminan, tetapi minimal dia tidak mengumbar auratnya.
            Aku duduk agak jauh dari dia. Sambil curi-curi pandang gitu. Aku pastikan sobat kalau engkau melihatnya dan tidak tertarik, pasti ada yang salah dengan engkau. Yang pertama, kemungkinan engkau sedang sakit. Yang kedua, kupastikan engkau mungkin tidak normal. Dan yang ketiga, segeralah periksa ke dokter. Itu saranku sobat.
            Aku mencoba konsentrasi dengan buku yang aku baca. But i can’t, dia telah menyita pikiranku. Ku coba menghibur pikiranku dengan mengambil buku tulis dan ball point yang ada di tasku untuk mencatat. Dadaku tambah berdesir ketika aku lewat dihadapannya. Apakah aku menyukainya? Kenal saja belum, masak aku sudah suka? Yang pasti dia telah menggangguku. Bukan, maksudku pikirankulah yang terganggu. Oh... tapi ini bukan salahnya. Ini adalah salah Tuhan ku yang telah menciptakannya begitu elok. Kenapa aku harus menyalahkan Tuhan. Wah mulai  error nih.
            Walaupun cuma sedikit yang aku dapatkan dari buku yang aku baca. No problem, yang penting ada pemasukkan buat tugas ku ini. Sedikit lebih baik dari pada tidak sama sekali. Hati dan pikiranku terus berputar, apalagi kalau bukan karena dia. Hingga kutemukan kata-kata ”Tak kenal maka tak sayang”. Ya, aku harus tahu siapa dia, siapa namanya, kalau perlu alamatnya sekalian. Minimal kenalan lah!
            Aku peras pikiranku seperti ketika ujian Kalkulus semester kemarin. Tapi, yang ini lebih rumit sobat, karena aku sangat alergi dengan yang namanya cewek. Apalagi yang satu ini sosok bidadari seperti yang ku damba. Sepertinya dia telah mengganti buku bacaannya. Dan aku tahu buku yang dibacanya sekarang. Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy, atau nama penanya Kang Abik. Sekali lagi buku best seller dengan pengarang kondangnya itu. Buku itu pernah aku baca dan aku suka dengan karya-karya Kang Abik yang lain.
Aku mengembalikan buku Teknik Digital ke tempat semula dan mencari buku lain di deretan buku-buku karya sastra. ”Dalam Mihrab Cinta” adalah salah satu karya Kang Abik juga dan itu menjadi pilihanku selanjutnya. Aku duduk dihadapannya dengan buku yang baru aku pilih.
            ”Suka novelnya Kang Abik juga ya, mas?” Oh teguran itu yang ku tunggu. Akhirnya muncul juga. Tapi kenapa lidah ku jadi kelu untuk menjawab nih!
            ”O.. Eh.. iya mbak”. Jawabku tergagap. Ada perasaan bahagia bercampur grogi bercampur... ah pokoknya campur-campur gitu lah.
            ”Mbak penggemar novelnya Kang Abik juga ya?” aku balik bertanya dengan terlebih dahulu menata hati dan ucapanku.
            ”Iya mas.” jawabnya renyah.
            Oh.. ternyata dia anak yang ramah. Dan yang perlu dicatat oleh mu sobat. Kendati dia ramah tapi dia selalu menundukkan kepala menjaga pandangan atau dalam islam disebut Ghadhul Bashar. Oh... ada lagi sobat yang membuat dia tambah menarik. Senyumnya, membuat udara Ungaran yang panas ini menjadi sejuk bagai kita berada di tengah-tengah taman yang teduh oleh pepohonan di kipasi oleh sepoi angin.
            ”Kenapa mbak suka dengan novel-novelnya Kang Abik?” aku melanjutkan dengan pertanyaan yang rasanya kaku kuucapkan.
            ”Ada pesan da’wah yang tersirat ketika kita membaca novelnya itu. Dengan tuturnya yang sopan seakan mengajak kita ke arah jiwa yang lebih baik.”
            Mengangguk, itulah tandanya aku setuju. Sebuah jawaban yang sangat logis yang keluar dari bibir seorang bidadari seperti dia. Memang dari novel-novelnya yang pernah aku baca. Seakan Kang Abik ini berda’wah dengan cara lain yaitu melalui karya novel maupun cerpen-cerpennya.
            Ternyata dia begitu cair sobat, enak dan nyambung, sampai akhirnya aku memberanikan diri menanyakan namanya.
            ”Panggil saya Octa, lengkapnya Octavia Siti Aisyah.” dia menyebutkan namanya. Sebuah nama yang indah disanding dengan nama istri tercinta Rasullulah SAW. Dia juga mengatakan bahwa dia masih kuliah disalah satu universitas negeri di Semarang. Pendidikan menjadi pilihannya. Ih... aku jadi membayangkan jadi muridnya. Aku mungkin menjadi murid yang paling pandai. Terlalu....!
            Tahukah sobat mungkin tidak ada hati yang paling bahagia selain hatiku. Tak ada hari yang paling indah selain hariku. Hidupku seakan berbunga-bunga bertambah semangat dalam mengarungi kehidupan.
* * *
Mengenalnya membuat aku semakin rajin ke Perpusda, kendati kampus juga memiliki Perpustakaan. Tugas ku sudah selesai dua minggu yang lalu dan sudah aku kumpulkan ke dosen pengampu. Terus terang mungkin cinta yang menggerakkan kakiku kesana. Mungkin ini efek positif dari cinta. Tapi sobat, bukan cinta seperti yang kau pikirkan. Bukan cinta seperti kebanyakan orang yang sedang jatuh cinta. Cinta ini adalah cinta antara saudara seiman, cinta antara sahabat. Terus terang sobat, aku tak sebanding dengannya dalam hal apapun. Mengenalnya, merupakan anugerah tak terkira dari yang Maha Kuasa. Kalau memang dia jodohku maka aku pasti akan dipertemukan dalam suatu ikatan suci yang di ridhoi oleh Tuhan.
            Sering kita berdiskusi tentang buku yang telah kami baca. Kadang aku menanyakan kiat-kiat untuk belajar yang efektif karena aku tahu dia lebih menguasai tentang itu dibanding aku. Tahu sendiri kan, dia dari Fakultas Pendidikan yang nantinya akan menjadi pengajar yang baik.
            Bisa dipastikan, mungkin dia salah satu mahasiswa yang pintar di kampusnya. Aku bisa lihat dari cara bicaranya dan hobinya membaca. Bukankah dengan membaca menjadikan kita tahu isi dunia.
Aku teringat akan slogan dari Perpusda Selangkah kakimu ke Perpustakaan, berjuta manfaat kau dapat”. Aku jadi ingin menambahi, ”Rajinlah baca buku, kau akan tambah ilmu dan mungkin disana Bidadarimu menunggu”, slogan yang manis.
***

(*Pengelola TBM Nurul Fatah Gemawang)


MENUMBUH KEMBANGKAN PERPUSTAKAAN DESA / KELURAHAN

MENUMBUH KEMBANGKAN
PERPUSTAKAAN DESA / KELURAHAN
Oleh Jarwanto  *)


Kalau kita mencermati visi dan misi Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo   “BALI DESO MBANGUN DESO“ mengandung arti yang sangat luas.  Visi dan misi tersebut merupakan cermin kepribadian dan pengabdian dalam rangka kepemimpinan  sebagai orang Nomor satu di Provinsi Jawa Tengah, yang harus diikuti dan diaplikasikan oleh jajarannya  dari Bupati Hingga Ketua RT di wilayah Jawa Tengah. Hal ini tentunya harus ada sinergi antara pemangku kebijakan pemerintah provinsi sampai dengan Pemerintah Desa. Demikian halnya dengan Program Pencanangan Pemberdayaan Perpustakaan Desa/ Kelurahan di Jawa Tengah. Perlu dipahami bersama, bahwa perpustakaan adalah sebagai penunjang, sumber informasi dan tempat menyimpan dokumen penting.
Pertumbuhan dan perkembangan Perpustakaan desa/ kelurahan untuk saat ini tentunya bukan hanya sekedar sebagai pelengkap struktural pemerintah desa/ kelurahan,  namun  sudah merupakan hal pokok yang harus dipenuhi untuk memberikan inspirasi  dan mengubah pola piker mengubah pola pikir masyarakat. Misal Bagaimana kelompok tani akan mengembangkan kegiatan usaha dibidang pertanian, itu tidak hanya mengandalkan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian Saja, namun saat ini sudah banyak yang mencari referensi buku, dan juga kegiatan lain di Desa/ Kelurahan di wilayah masing - masing.
Dalam menanggapi permasalahan demikian itu tentunya bagaimana Kebijakan Pemerintah Desa dalam Menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja. Desa (RAPBDes), dibidang Pengembangan  perpustakaan Desa/ Kelurahan.
 Ada  beberapa Faktor yang perlu diperhatikan  antara  lain :
1.   Pengelola Perpustakaan  Desa / Kelurahan
      Desa/ kelurahan di wilayah Kabupaten Semarang ini tentu ada yang belum memiliki Perpustakaan Desa/ Kelurahan, dan apabila sudah ada, apakah perpustakaan tersebut sudah dikelola dengan baik, hal ini merupakan bahan pengambilan kebijakan dalam menyusun RAPBDes. Mengelola perpustakaan desa/ kelurahan apakah sudah ada pemakai atau pembaca, serta bagaimana bentuk laporan pertanggung jawaban  pengelola Perpustakaan.
2.   Pemustaka
      Pemustaka merupakan  salah satu factor penting dalam perkembangan penyelenggaraan Perpustakaan Desa/ Kelurahan. Dalam hal ini (Pemustaka) adalah golongan  masyarakat yang biasa membaca (Anak – anak SD, Remaja, Masyarakat Umum)  itu juga dapat devaluasi, untuk menentukan pengambilan kebijaksanaan Pemerintah Desa/ Kelurahan. 
3.   Bahan Pustaka (Buku – Buku Bacaan)
      Buku bacaan tak kalah penting yang juga merupakan faktor penentu keberadaan  sebuah perpustakaan Jenis Bacaan, klasifikasi Bacaan , kwalitas Bacaan , untuk siapa (Petani, Ibu – ibu, Anak Pelajar SD, SMP, SLTA , Mahasiswa dan Lainnya)
4.   Kebijakan Pemerintah
      Sebagai upaya  pengembangan dan pertumbuhan perpustakaan Desa/ Kelurahan  tentunya adanya keikutsertaan  dari berbagai pihak. Dalam hal ini yang lebih berkompeten adalah pemerintah desa sebagai Fasilitator, dinamisator dan motivator pertumbuhan  sebuah perpustakaan. Yang lebih penting lagi bahwa segala sesuatu  hal yang  terkait dengan kegiatan desa dan kelurahan tak lepas dari bagaimana pemerintah  Desa dan kelurahan ini  bisa mewarnai, paling tidak bagaimana  menganggarkan  berapa  besar dari APBDes itu untuk membantu pertumbuhan perpustakaan tersebut.
            Sebelum menentukan anggaran  Pemerintah Desa/ Kelurahan mestinya sudah melalui beberapa  tahapan kegiatan, yang antara lain guna menjaring aspirasi masyarakat,  Musrenbang dan atau usulan program dari berbagai kegiatan yang ada diwilayah kerjanya. Untuk  itu dalam kesempatan yang baik ini  saya mengusulkan untuk dimasukkannya program anggaran  pertumbuhan  perpustakaan desa/ kelurahan. Dari anggaran Dana Alokasi Umum Desa  (DAUD) dari 100% itu mestinya dalam pembagiannya adalah 70% fisik dan 30% nonfisik. Dari yang 30% tersebut tentunya bisa di alokasikan untuk perkembangan pertumbuhan perpustakaan, yang merupakan satu lembaga desa yang bergerak untuk memajukan masyarakat melalui pendidikan dan membuka cakrawala  pengetahuan.
            Terkait Dengan Anggaran yang terbatas dari Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang bisa menganggarkan bantuan baik dari APBD I maupun APBD II dan tentunya dari Bapermasdes bisa menyarankan untuk kebijakan lain keterkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan desa yang lebih menekankan pada Pemerintah Desa untuk menganggarkan  biaya perpustakaan Desa / Kelurahan.
           Sehingga nantinya diharapkan bahwa Pemerintah Desa/ Kelurahan bisa mengarahkan, mengevaluasi dan mengharapkan pelaporan dari pengelola perpustakaan Desa/ Kelurahan Tersebut. Hal ini relevansinya dengan Surat Keputusan Kepala Desa dan Kelurahan tentang berdirinya perpustakaan maupun kepengurusannya, konsekuensi dari penerbitan SK tersebut adalah adanya kebijakan pemerintah untuk memfasilitasi pertumbuhan Perpustakaan Desa dan Kelurahan yang berupa  sarana dan prasarananya.
Sehingga apa yang diharapkan akan bisa terlaksana dengan baik

*) 1.  Ketua Forum Komunikasi  Pengelola  Perpustakaan / TBM Kabupaten Semarang
    2.   Pengelola  Perpustakaan Desa Pawiyatan Luhur  Desa Lemahireng  Kec. Bawen
          Kabupaten Semarang Call 085 640 912 035

Menanamkan Kebiasaan Membaca Sejak Dini

Menanamkan Kebiasaan Membaca Sejak Dini
*Selma Rahmawati

Anak muda sekarang tidak banyak yang senang membaca, kalaupun mereka mau membaca hanyalah bacaan yang ringan saja. Hanya sebatas penghibur hati. Misalnya membaca komik, majalah, cerpen, dan sebagainya. Yang kiranya malah mempersempit wawasan pembaca, karena hanya kesenangan hati yang ia dapat, sedangkan wawasan ilmu pengetahuan yang seharusnya ia dapatkan dari kegiatan membaca malah tidak ia dapatkan. Karena mereka tidak mempertimbangkan buku apa yang ia baca.
Hal itu mungkin disebabkan mereka sejak kecil tidak dibiasakan membaca sejak dini oleh orang tuanya sehingga dimasa mudanya mereka belum bisa untuk membiasakan membaca. Orang tua sangat berperan penting dalam mendidik putra purtinya. Mulai sejak kecil hingga dewasa, sehingga dengan ada bimbingan dan perhatian yang kontinue khususnya dalam hal membaca. Sebagai contoh kecil saja, seorang anak yang sejak dini dibacakan / diceritakan dongeng sebelum tidur oleh orang tuanya, akan bepengaruh pada mental si anak. Sehingga setelah besar si anak tersebut akan mempunyai kesadaran bahwa betapa pentingnya membaca itu.
Memang pada masa sekarang ini kesadaran anak untuk membaca sangatlah kurang, sebagai contoh saja di daerah Ungaran khususnya dan di Kabupaten Semarang pada umumnya, masih banyak pelajar yang kurang menghargai waktunya. Bukannya setelah pulang sekolah mereka istirahat dan belajar, tetapi mereka malah asyik nongkrong dan bermain dengan temannya. Mereka menganggap apa yang ia lakukan sangat menyenangkan apabil dibandingkan dengan membaca buku, memang apa yang mereka katakan tidak ada salahnya. Tetapi apakah mereka juga mau berpikir tentang masa depannya kelak, kalau setiap hari juga mau berpikir tentang pekerjaannya hanya nongkrong saja? Seandainya saja, apabila seorang anak yang setiap pulang sekolah ia mau membaca lagi catatannya yang telah diberikan gurunya, maka akan bertambah pengetahuan yang ia miliki. Pada hakikatnya membaca itu akan menambah wawasan dan meningkatkan kecerdasan berpikir bagi seseorang.
Apabila mereka tahu akan membaca seperti yang dikatakan (Lasa Hs, 2006: 32 – 33) membaca merupakan aktifitas yang paling berharga bagi manusia karena kegiatan ini merupakan jalan yang mengantar manusia untuk mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna. Dengan kata lain, membaca merupakan syarat utama dalam membangun peradaban manusia.
Membaca merupakan kegitan untuk menyerap dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah berjalan sepanjang umur manusia. Kegiatan baca ini dilakukan manusia untuk menunjang fungsi manusia sebagai pengatur di muka bumi ini. (Lasa Hs, 2006 : 96 – 101). Padahal banyak sekali manfaat yang diperoleh seseorang lantaran melakukan kegiatan membaca memang berbeda antara orang yang suka membaca dan orang yang tidak suka membaca karena mereka ada yang tahu manfaatnya tapi tetap cuek atau masa bodoh.
Ini adalah manfaat membaca antara lain :
1.    Merangsang sel-sel otak agar proses berfikir secara positif karena menyerap ide dan pengalaman orang lain.
2.    Menumbuhkan kreatifitas.
Membaca dan memperoleh wawasan, pandangan, penemuan dan pengalaman orang lain. Hasil baca ini kemudian direnungkan dan dipikirkan untuk dipraktikan atau dikembangkan.
3.    Meningkatkan perbendaharaan kata.
Membaca akan memperbanyak kata yang diserap seseorang mempengaruhi kelancaran komunikasi lisan maupun tertulis.
4.    Membantu mengekspresikan pemikiran.
Orang begitu lancar ketika mengajar, ceramah, pidato dan lainnya, tetapi begitu sedikitnya orang yang mampu menulis dengan baik. Hal ini sangat mungkin disebabkan kurangnya membaca.manfaatkanlah waktumu untuk membaca.

(*\Siswa SMK Informatika NU Ungaran, Juara 3 Lomba Penulisan Artikel dalam rangka Pameran Buku Murah Kabupaten Semarang Tahun 2009)












MEMBACA UNTUK KESELARASAN BUMIKU

MEMBACA UNTUK KESELARASAN BUMIKU
*Diah SH

Membaca, mungkin dalam kegiatan sehari-hari kita sering mendengar kata membaca, dan menganggapnya sebagai hal yang biasa. Itu terjadi karena kita belum memahami dan menyadari manfaat yang begitu luar biasa, yang akan kita dapatkan ketika membaca. Dengan membaca wawasan kita akan terbuka untuk menerima hal-hal yang belum pernah kita ketahui dan dapatkan dari sekolah, lingkungan sekitar maupun keluarga kita.
Membaca bukanlah hal yang membosankan, ada banyak pilihan buku yang bisa kita baca seperti komik, majalah, koran, buku pelajaran dan media baca yang lain, yang tentu saja bisa menambah pengetahuan kita dalam berbagai bidang. Selain itu buku sekarang ini sangat mudah didapat dengan harga terjangkau. Jika kita didak mampu untuk membeli buku, kita bisa memanfaatkan perpustakaan sebagai alternatif untuk mencari buku, dimana perpustakaan difungsikan sebagai tempat untuk membaca dan meminjam buku.
Sesuai dengan judul artikel ini “Membaca untuk Keselarasan Bumiku”, maka saya akan menjelaskan mengenai hubungan antara membaca dengan keselarasan bumi. Dimana dengan membaca kita tidak hanya akan mempelajari mengenai ilmu politik, sejarah, ekonomi dan lain-lainnya akan tetapi kita juga dapat belajar tentang alam dengan membaca.
Dengan membaca buku tentang alam dan isinya, kita akan mendapatkan ilmu mengenai bagaimana cara merawat alam dan isinya tanpa merusak makhluk hidup yang lain, seperti menjaga kebersihan lingkungan kita dengan tidak membuang sampah sembarangan, reboisasi hutan yang gundul dan lain sebagainya.
Tanpa adanya alam, manusia dan makhluk hidup yang lain tidak akan ada di bumi ini, dan jika ala mini mengalami kerusakan, nantinya akan mengakibatkan kemusnahan dan merusak ekosistem kehidupan. Lalu dengan kerusakan alam itu, siapa yang bertanggungjawab? Manusia sebagai penghuni yang lebih banyak memanfaatkan alam, maka manusia pula yang harus bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup alam, karena manusia mempunyai sifat yang ingin selalu memiliki segalanya. Hal tersebut membuat manusia tidak sadar akan perbuatannya sehingga mengakibatkan kerusakan tempat yang selama ini mereka tinggali yaitu bumi.
Penebangan pohon secara liar, menangkap ikan baik menggunakan strum atau racun  bahkan peledak, mengambil barang tambang semaunya, membuang sampah di sungai yang mengakibatkan saluran sungai tersumbat, pabrik yang membuah limbah sembarangan. Itu semua merupakan beberapa contoh perbuatan yang sering dilakukan manusia yang dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan alam. Dengan kejadian seperti itu nantinya menjadi penyebab terjadinya banjir yang memakna korban jiwa yang tidak sedikit.
Dari kejadian itu lalu langkah apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan ala mini? Sebagai generasi muda yang memiliki pengetahuan mari kita jaga dan lestarikan ala mini, jangan sampai dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, salah satunya dengan meningkatkan wawasan dan pengetahuan kita terhadap alam dengan membaca buku.
Karena bumi tempat kita berpijak dan dimana kita akan hidup atau mati nantinya, apabila kita bersahabat dengan alam, maka alampun bersahabat dengan kita, serta keselarasan  bumipun akan tercipta.

(*\Siswa SMK N 1 Bawen, Juara 1 Lomba Penulisan Artikel dalam rangka Pameran Buku Murah Kabupaten Semarang Tahun 2009)

Membaca Menuju Citra di Bumi Nan Serasi

Membaca Menuju Citra di Bumi Nan Serasi
*Rini Buana Sari

    Membaca adalah jendela yang membuat seseorang menelaah dan mengetahui segala sesuatu yang dibaca. Melalui Aktifitas membaca , kita dapat menyerap banyak informasi bahkan dapat berkelana ke berbagai negara.
     Namun, ada suatu penelitian yang menyimpulkan bahwa semakin tinggi usia seseorang, semakin berkurang minat membaca. Mereka lebih senang bergaul dengan teman-temanya, berbelanja, dan pergi jalan-jalan daripada membaca buku. Padahal membaca sangat bermanfaat bagi siapa saja tidak hanya mereka yang masih menuntut ilmu di bangku Sekolah.
Salah satu faktor berkurangnya minat baca adalah kurang faham akan manfaat dari membaca, padahal sering kali kita dengar anjuran-anjuran untuk gemar membaca dari Bapak/ Ibu Guru bahkan dari presiden SBY.
Kita tengok tokoh ternama kita, misalnya B.J Habibie. Kunci kesuksesannya adalah karena gemar membaca. beliau juga tidak mudah pikun. karena sering membaca otak selalu diajak berpikir sehinga jaringan otak akan tetap aktif.
Dengan membaca buku dapat dapat melatih otak untuk memusatkan pikiran, otak kita diajak meperhatikan kata demi kata pada bacaan tersebut. kalau kita kehilangan beberapa kata saja, kita tidak bisa menangkap keseluruhan maksud dari kalimat yang ada. Dengan sering membaca kita dapat menemukan kosakata baru yang dapat kita cerna sehinga kita akan memperkaya perbendaharaan kata. Dengan kekayaan kosa kata yang kita miliki dapat kita jadikan modal untuk mendukung kegiatan yang lain seperti menulis, berbicara, dan mendengarkan. Dalam kegiatan sehari-hari khususnya bagi pelajar dan Mahasiswa tentunya tidak lepas dari kegiatan menulis. Dalam menulis dibutuhkan kepiawaian dalam mengolah kata. dengan kekayaan kosa kata itulah tulisan yang kita buat akan lebih bervariasi. Kehidupan sehari-hari juga tidak luput dari aktivitas berbicara. Dengan memperkaya membacaa kita akan lebih fasih dan luwes dalam bertutur kata karena kita lebih analitis dan kritis dalam berpikir.
Dengan banyaknya kosa kata yang kita serap dari membaca buku, kita akan mampu menguasai berbagai model kalimat. Kemampuan untuk menyerap konsep dan memahami apa yang tersirat akan lebih mudah sehingga kemampuan mendengarkan lebih baik.
Rangsangan yang kita peroleh dari membaca akan membantu kita untuk dapat mengambil manfaat dari pengalaman orang lain. Apabila kita tidak sering membaca, kemampuan untuk memahami pesan yang tertuang dari sebuah buku lebih lemah bahkan kita tidak mengerti sama sekali.
Kegemaran membaca semestinya ditanamkan sejak kecil. Dengan membaca merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kecerdasan emosi, sehingga dengan kegemaran membaca, akan terbentuk kepribadian yang lebih baik. Membaca dapat mendidik kepribadian, membentuk watak, mendidik akhlak, dan membangun kepribadian. Dari membaca itulah manusia, khususnya generasi muda mendapatkan satu paket untuk mendidik otak dan kepribadian. Berbagai macam alasan remaja untuk tidak membiasakan diri dengan membaca kurang tepat, pasalnya dengan membaca dapat membantu seseorang untuk menyegarkan pikiran dari segala keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia. Lebih dalam lagi, gemar membaca membuat kita lebih cepat melihat kepelikan yang ada sehingga mampu mengatasi masalah pribadi. Oleh sebab itu kita akan mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk meraih kehidupan.
Begitu banyaknya manfaat yang kita peroleh dari membaca buku. untuk itu, marilah kita tanamkan kebiasaan membaca di bumi nan serasi ini. seperti sebuah pepatah " Malas membaca mendekatkan diri pada kebodohan, dan kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan".
(Siswa SMA N 1 Bergas/ Juara 2 Lomba Penulisan Artikel dalam rangka Pameran Buku Murah Kabupaten Semarang Tahun 2009)

BUKU TERLAHIR DARI TANGAN DINGIN, BUKAN KERINGAT DINGIN

BUKU TERLAHIR DARI TANGAN DINGIN, BUKAN KERINGAT DINGIN                      
*\Rima Mayasari
Sebuah buku terlahir di tangan dingin beberapa perajin buku. Perjalanan panjang mutlak dilalui untuk melahirkan sebuah buku yang apik. Kombinasi dari proses kreativitas penulis, editor, penerbit, dan percetakan yang baik akan menghasilkan buku yang berkualitas pula. Sementara penulis berpikir bagaimana cara karya itu diterima penerbit, editor berpikir bagaimana agar buku laku dan terbit dengan baik.                         
Tak dapat menutup mata, sebuah buku yang sebenarnya diciptakan oleh pengarang/ penulis memang membutuhkan sentuhan kecerdasan editor. Editor identik sebagai makhluk di belakang meja dengan urusan memperbaiki naskah. Padahal, editor bisa menjadi garda terdepan bagi penerbit dalam aktivitas multikepentingan, seperti negosiasi, promosi, maupun marketing buku. Memang sulit jika kita  harus menghakimi pekerjaan kita sendiri. Emosi kita terlalu dekat dengan naskah itu. Oleh karena itu, diperlukanlah profesi editor dalam dunia perbukuan. Para editor itu diperlukan untuk menjernihkan makna sebuah tulisan, membuatnya enak dibaca, dan memotivasi minat membaca. Jika melihat perkembangan penerbitan buku, tentu masyarakat akan setuju bahwa mereka sudah semestinya mendapatkan bahan bacaan yang tidak amburadul. Di sinilah peran editor akan terlihat.                                                                                      Editor merupakan salah satu profesi yang mengandalkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Dengan bekal kecerdasan majemuk itulah, ia bisa mengalirkan gagasan penulis/pengarang dengan sangat baik sehingga benar-benar dapaat diterima oleh pembaca buku. Jika editor berkembang memenuhi kebutuhan para penerbit dan para pembaca, dunia penerbitan buku akan turut berkembang pesat .                                    
 Editor yang multicerdas memang harus dilahirkan demi perkembangan dunia buku. Ketika terlihat minat dan talenta yang tinggi dari seorang editor, maka ia harus dibina sekaligus dijaga. Jam terbang yang tinggi diiringi minat serta bakatnya dalam penanganan naskah akan melahirkan pribadi editor yang multicerdas serta piawai. Ia akan menjadi seseorang yang paling dicari oleh para penerbit karena tangan dinginnya bisa menjadikan sebuah buku melambung, baik kualitas maupun penjualannya yang notabene akan memajukan penerbit itu juga.                                                                                              Dari delapan kecerdasan (cerdas alam, cerdas angka, cerdas diri, cerdas bergaul, cerdas logika, cerdas gambar, cerdas musik, dan cerdas kata) yang berhasil diungkap oleh Howard Gardner dalam teori tentang kecerdasan majemuk (multiple intellegencies), cerdas kata (word smart) adalah kecerdasan dominan yang harus dimiliki oleh seorang editor. Untuk menjadi seorang editor, seseorang dituntut memiliki minat tinggi dan kemampuan menonjol dalam keterampilan berbahasa, yang meliputi: kemampuan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara, serta kemampuan memahami sastra. Paling tidak, editor dituntut memahami tata bahasa yang akan digunakan dalam penulisannya. Dengan pemahaman tata bahasa yang baik, editor diharapkan pula mahir menggunakan bahasa tulis, apalagi jika ia mampu menulis berbagai jenis materi tulisan, seperti: artikel, feature, esai, surat, buku, press release, iklan, dan resensi. Dengan kemampuan ini, ia akan leluasa menilai kelayakan sebuah naskah buku dari berbagai jenis serta mampu untuk memberikan saran perbaikan dan menulis ulang dengan baik. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, hasil yang diperoleh pun bukanlah sebuah karya tulis yang layak diedarkan.                                                                                                                                Selain cerdas kata, cerdas logika berpikir juga tak boleh dilalaikan oleh seorang editor. Kemampuan memahami logika berpikir penulis serta mengorganisasi pikiran untuk menyusun atau menulis ulang teks dengan benar merupakan jantung bagi para editor guna menganalisis naskah. Jadi, editor tidak boleh telmi ataupun kurang peka terhadap jalan pikiran penulis. Daniel Mahendra menemukan konsep segitiga aktivitas untuk melatih kepekaan ini dalam pengalamannya menyunting naskah, yaitu: baca pertama, pahami, dan maknai. Kecerdasan logika ini menuntut adanya kemampuan membaca dengan baik sambil kemudian dapat menalar tulisan sang penulis berdasarkan teks yang disusunnya. Jika pemahaman sudah diperoleh, tinggal memaknai teks tersebut untuk diperbaiki atau diabaikan apa adanya.                                                                          Baca pertama dilakukan pada naskah (hardcopy) untuk menilai kekuatan ataupun kelemahan naskah. Pada proses baca pertama, seorang editor dapat membubuhkan tanda-tanda koreksi maupun tanda tanya untuk mengoreksi naskah. Pada tahap ini pula seorang editor dapat memeriksa kelengkapan naskah, teknik penyajian, dan kesesuaian naskah dengan gaya selingkung (house style) penerbit. Proses baca pertama bersifat penting dan tidak boleh dilewatkan untuk dapat menakar kualitas naskah. Yang perlu dipahami pada saat baca pertama adalah seorang editor jangan terlalu berkonsentrasi mencari kesalahan naskah (seperti EYD, kalimat, ataupun kebenaran fakta). Namun, yang semestinya dilakukan adalah proses memaknai naskah. Jadi, seorang editor harus dapat menemukan ‘benang merah” dari sebuah naskah.                                                                                       
Editing mekanik adalah proses selanjutnya setelah naskah dinyatakan layak melalui proses baca pertama. Disebut mekanik karena editing dilakukan secara manual oleh para editor dengan cara membubuhkan tanda-tanda koreksi ke dalam naskah cetak coba pruf (naskah yang sudah di-set dan di-layout layaknya halaman buku). Standar editing mekanik ini dilakukan dua sampai tiga kali. Dalam proses editing mekanik inilah seorang editor menjaga betul tujuh aspek editing yang terkenal itu, yaitu: 1) keterbacaan dan kejelasan; 2) konsistensi; 3) kebenaran bahasa; 4) gaya penulisan; 5) ketelitian fakta dan data; 6) legalitas dan kesopanan; 7) rincian produksi. Memang pada praktiknya menjaga ketujuh aspek tersebut sangatlah berat dan memerlukan kemampuan ekstra dari seorang editor. Karena itu, layak juga kalau dalam dunia editor ada istilah “jam terbang” untuk menilai tingkat kepiawaian seorang editor.                                                             Di sinilah asumsi bahwa editing itu sebenarnya juga sebuah seni. Buku yang baik tentu berasal dari hasil editing yang baik dan benar serta ditambah citarasa seni sang editor dalam mengelola naskah hingga menjadi buku. Setiap buku memiliki riwayat penyuntingannya masing-masing. Dan buku yang baik dengan riwayat penyuntingan yang membanggakan tentu akan menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi editor walau namanya tidak terangkat setinggi nama penulis/pengarangnya. Editor juga makhluk yang diharamkan bersikap kuper (kurang pergaulan). Editor harus menjadi sosok yang gaul, yaitu dapat terbuka untuk berhubungan dengan berbagai pihak. Editor menjalin hubungan tersebut dalam upaya melancarkan profesinya, di antaranya dengan direktur atau manajer penerbitan, pembaca, marketing, atau percetakan. Karena itu, editor harus supel bergaul dengan berbagai personal maupun institusi yang menjadi mitra kerjanya, seperti penulis/pengarang, layouter, desainer, ilustrator, marketing, dan percetakan.                       
Editor tentu harus memiliki kemampuan mengelola diri, sehingga ia tidak terjebak menjadi pribadi yang negatif. Karena itu, editor harus mampu mencerna dirinya (self-digesting) dengan tahapan awal mengenali diri, mengendalikan diri, mengembangkan diri, hingga akhirnya mampu mentransformasi diri menjadi pribadi yang multicerdas. Dari profesi editor, seseorang akan mendapatkan konsekuensi positif jika ia memiliki cerdas diri.  Namun, jika tidak, ia akan mendapatkan konsekuensi negatif dari profesinya itu. Konsekuensi positif dari akumulasi pekerjaan editor, yaitu munculnya sifat-sifat baik, seperti: sabar, teliti, percaya diri, berani, rendah hati, atau disiplin. Sedangkan konsekuensi negatif dari sang editor yang tidak cerdas diri, yakni seperti: frustrasi, kesal, jenuh, rendah diri, takut salah, lambat, dan stress. Pribadi editor dituntut untuk menjadi sempurna karena hal itulah yang dibutuhkan oleh dunia perbukuan saat ini untuk bisa menghasilkan karya-karya buku yang berkualitas bagus. Artinya, ada korelasi antara kualitas diri seorang editor dengan kualitas karya yang ditanganinya. Jika pribadi editor timpang, kualitas karyanya pun kurang bisa dipertanggungjawabkan. Iklim yang kondusif sangat diperlukan di lingkungan seorang editor karena akan memudahkan editor untuk menemukan kecintaan dalam profesinya. Tanpa kecintaan terhadap profesi serta pekerjaannya, editor tidak mungkin menjadi multicerdas, malah akan menjadi pribadi negatif. Akibatnya, editor-editor seperti ini kadang hanya menggunakan otak kiri mereka (logika, kebenaran data dan fakta, keterbacaan, kebenaran teori) tanpa mengaktifkan otak kanan (empati, kreativitas, inovasi).                                                                                                 
Demikianlah proses kelahiran sebuah buku. Meskipun bidang profesinya tidak terkenal, sulit sebenarnya menjadi seorang editor yang piawai. Editor tidak boleh melewatkan kesempatan mengedit naskah sebagai ujian kemampuan bagi jam terbangnya. Penulis profesional saja, siapapun dia, tetap membutuhkan proses editing.              
Keterampilan menulis, cara mengungkapkan tulisan (gaya bahasa), hingga masalah nonteknis bisa menghambat kemajuan karir kepenulisan. Yang paling kerap dilakukan ialah penulis tergesa-gesa mengirim naskah kasar, belum dipoles, belum dibaca ulang, dipikirkan masak-masak isi dan cara penulisannya. Pembukaan yang kurang memancing, bertele-tele, lambat, melelahkan, berpanjang-panjang dengan kalimat berputar-putar dan mengumbar kata, terlalu menceramahi, sementara isi pemikiran kurang dipertimbangkan dengan matang, diperburuk akhiran yang dipaksakan, tulisan penuh tatabahasa berlepotan, salah menggunakan diksi, mengabaikan kaidah berbahasa, hanya akan membuat tulisan kehilangan fokus tema, bahkan bisa mementahkan, akhirnya melantur ke subjek lain yang lepas dari niat awal. Editor yang dari awal kehilangan kesabaran membaca naskah akan cepat menyerah, akhirnya memutuskan menolak naskah karena setelah meraba-raba, gagal menemukan subjek yang ingin diketengahkan penulis. Semestinya, penulis perlu membiarkan tulisan itu mengendap sebentar, kemudian poleslah pelan-pelan. Selanjutnya, edit dan revisi sendiri dulu. Sebelum dikirim atau ditawarkan, minta orang dekat atau orang lain baca sejenak, mintai komentar mereka, dan dengar yang mereka rasakan.                                                                                                                      Buku diakui terlahir dari tangan dingin. Dalam proses kelahiran sebuah buku, bukan keringat yang dikuras, melainkan kehandalan dan kepiawaian perajin buku. Fakta ini mengarah pada pandangan bahwa kerja editor sebelum menyunting, sejak awal membutuhkan konsentrasi tinggi. Ia dituntut baik oleh perusahaan dan calon pembaca agar menetaskan karya yang matang, memikat, disiapkan sebaik mungkin, membuat pembeli pantas membelanjakan sejumlah uang dan mendapat ganti setimpal.              
(*\Pemerhati perpustakaan)