Slogan kami

Redaksi Buletin Pustaka mengucapkan Selamat Hari Soempah Pemoeda, 28 Oktober 2013

Sabtu, 18 Desember 2010

Perlukah Guru Menulis ?


”Perlukah Guru Menulis?”       
*\ Roto

“SIAPA takut!” Seloroh diantara guru. Menulis adalah kebutuhan yang tidak boleh ditawar-tawar...
Maka, menjadi sesuatu hal yang aneh jika para guru tidak bersegera membudayakan menulis dalam sehari-harinya. Budaya menulis bagi para guru wajib dikembangkan dengan cara benar dan tepat. Persoalan menulis dikalangan guru, sebagian besar cenderung “mandul,” dalam arti menulis diktat, buku, karya tulis ilmiah (KTI), penelitian tindakan kelas (PTK), artikel ilmiah populer, jurnal ilmiah dan lain-lain.
Pada bulan belakangan Maret dan April 2010 oleh pengurus Agupena Kabupaten Semarang mencoba memberi tawaran kepada rekan-rekan guru untuk berkenan bergabung guna merumuskan sekaligus mengadakan bimbingan dengan menghadirkan nara sumber tingkat nasional yaitu Prof. Dr. Suharsimi Arikunto. Akankah uluran tersebut direspon oleh para guru sekaligus para pengurus PGRI Kabupaten Semarang untuk berkenan memfasilitasi agar tujuan mulia tersebut terwujud? Kita tunggu reaksi para petinggi di kepengurusan PGRI dan sekaligus para petinggi di Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang.
Setelah membaca uraian ini diharapkan para guru tergerak dan bersegera mau meluangkan waktu untuk mau memulai selangkah untuk menulis. Guru dalam mengajar dan mendidik dihadapkan pada persoalan yang datang silih berganti sejalan dengan berubahnya waktu di era teknologi. Dunia maya telah menghantarkan kita, agar mampu melihat keadaan yang terasa sangat dekat tanpa batas. Implikasinya mampu membuka wacana alam pikir kita untuk menikmati dan memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut.
 Kita selaku guru akan menjadi bahan gunjingan dan tertawaan karena gaptek (gagap teknologi), sebab peserta didik secara berangsur-angsur sebagian besar telah mampu mengoperasikan komputer dan internet. Maka, para guru harus cancut taliwanda, dalam rangka menumbuhkan manajemen budaya menulis, agar mampu mengoperasikan teknologi komputer dan internet tersebut.
            Mencermati persoalan di era komputer dan internet, kita harus bersegera mengambil dan menaklukkan peluang tersebut. Untuk dijadikan wahana tulis menulis, agar guru mampu menyajikan materi kegiatan belajar mengajar  melalui LCD proyektor, menulis diktat, buku pelajaran, memberi tugas dan menerima tugas dari siswa didik melalui email. Bahkan dapat dijadikan wahana menulis untuk kepenulisan artikel ke berbagai media cetak melalui email tersebut. 
Pentingnya merubah persepsi
Sudah seharusnya mulai saat ini persepsi/pola pandang para guru harus bersegera diubah 190 derajat. Bahwa guru harus memanajemen dirinya, untuk memanfaatkan perkembangan teknologi komputer dan internet. Bukankah para guru S1/DIV telah mampu menyelesaikan problema menulis skrepsi?
Profesi guru secara pelan keberadaannya mulai bergeser dengan hadirnya teknologi dunia maya tersebut, maka harus bersegera mampu memanfaatkan teknologi tersebut, agar tidak lagi terdengar guru gaptek.
Pada kesempatan ini penulis bermaksud mengurai ”benang kusut tentang problem menulis.” Bila mendengar kalimat menulis, entah menulis artikel ilmiah populer, buku pelajaran, KTI, PTK, bahkan menulis materi yang diajarkan dalam bentuk diktat sangat sulit terwujud. Guru dibuat kalang kabut, carut marut, depresi berat, jika ada lontaran menulis karya ilmiah. Mengapa hal tersebut terjadi? Itulah persoalan besar yang harus dicarikan solusinya oleh para stakholder dan terlebih pribadi guru. Agar para guru yang telah berpangkat IV/a mampu beranjak meraih pangkat IV/b.
Untuk memperoleh nilai pengembangan profesi senilai 12 kredit, sesuai Kepmenpan nomor: 84/1993 dapat diperoleh dengan berbagai cara. Diantaranya penulisan: diktat, artikel ilmiah populer, buku, PTK, KTI, jurnal ilmiah, menciptakan karya seni dan lain-lain. Jika dicermati secara mendalam, pengumpulan nilai pengembangan profesi berisikan pertanggungjawaban guru terhadap mata pelajaran (mapel) yang diembannya. Dengan tujuan utama mampu mengembangkan mapelnya kepada peserta didik secara maksimal.
Membaca fenomena di atas, guru apapun mapelnya harus benar-benar menunjukkan komitmen tinggi, pekerja keras dan pantang menyerah pasti akan memperoleh hasil yang diharapkan. Pada akhirnya para guru harus mampu menunjukkan jati dirinya untuk memanajemen budaya menulis.
Langkah awal yang dapat ditempuh diantaranya mau mengungkapkan gagasan, pemikiran melalui tulis menulis. Setelah ide tertulis, bacalah tulisan tersebut untuk diadakan revisi. Revisi dapat diulang dari 3 sampai dengan 5 kali bahkan lebih. Pada saat merevisi, ambillah pendapat para pakar yang berkompeten atau peraturan pemerintah yang melandasinya. Dengan tujuan untuk dijadikan rujukan atau landasan pemikiran dalam kepenulisan.
Berbagi rasa (sharing) tentang tulis menulis kepada teman sejawat, guru bahasa, para pakar penulis sangat diperlukan untuk membuka wawasan dalam rangka meningkatkan kualitas tulisanya. Semakin sering melakukan tulis menulis, pasti semakin baik karya tulisanya.
Simpulan paling sederhana adalah memulai menulis dan mengirimkan artikel ke berbagai media cetak sangat diperlukan, disertai tekad jangan mudah berputus asa bila artikel yang dikirim ke media cetak belum termuat. Dengan termuatnya artikel di media cetak, kita pasti merasa bangga dan bahagia yang tidak ternilai harganya. Pada gilirannya peserta didik meningkat prestasinya, dan guru menuai hasilnya. Maka, tersenyumlah para guru, karena generasi bangsa kita tidak lagi tertinggal dengan Malaysia, Singapura, bahkan mampu melampauinya.
Untuk menyukseskan uraian artikel di atas, mari kita cermati nasehat orang bijak berikut ini: ”Ubahlah dirimu dan keluargamu untuk memanajemen budaya menulis, sekaligus budaya membaca sebelum mengubah peserta didikmu, masyarakatmu, bangsamamu dan negaramu.”
Mencermati paparan tersebut, akankah rekan guru yang semula bersifat apatis dan skeptis terhadap era teknologi, kemudian tergerak untuk memanfaatkan teknologi tersebut? Jawabannya terpulang pada pribadi kita masing-masing.
Pendidik SMP 1 Sumowono- Mahasiswa Pascasarjana UMS.

PERPUSTAKAAN DI TENGAH SOLIDARITAS BENCANA


PERPUSTAKAAN DI TENGAH SOLIDARITAS BENCANA
*\  Supardi Pranatyastama

Tanyakan pada rumput yang bergoyang”, demikian lirih Si Ebiet. Lantunan lagu dari Ebiet G. Ade, Iwan Fals dan Si Tombo Hati Opick, terus mengalun mengiring pemberitaan bencana di televisi. Bencana terus beruntun menimpa negeri ini. Tercatat di Bulan Oktober 2010 telah terjadi 3 (tiga) bencana besar yang menyita keprihatinan dunia.  Tanggal 4 Oktober 2010 terjadi banjir bandang di Wasior. Belum tuntas penanganan banjir di Wasior, tanggal 25 Oktober 2010 ada bencana tsunami di Mentawai, dan sehari kemudian tanggal 26 Oktober 2010 Merapi menunjukan keganasannya.
Negeri gemah ripah loh jinawi  seolah mendadak sunyi seiring musibah menerpa wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Kawasan wisata Borobudur ditutup untuk kegiatan wisata, karena abu vulkanik. Komando awas bencana terus-menerus siaga memberi tanda kepada masyarakat agar segera meninggalkan tempat tinggalnya dan menetap sementara di pos pengungsian. Kawasan zona bahaya diperluas dari mulai radius 5 km, menjadi 15 km, dan meningkat menjadi 20 km. para pengungsi terus membanjiri wilayah-wilayah yang dianggap zona aman. Sekolah-sekolah pun terpaksa ikut libur, karena ditinggalkan peserta didik dan secara darurat menjadi pos pengungsian. Sebagai pecinta buku, lantas apa sumbang tenaga yang bisa kita ulurkan?
Awan panas yang setiap saat datang dalam hitungan waktu yang tak terduga, mengakibatkan  kondisi para pengungsi menjadi terkatung-katung. Nasib mereka jadi tidak menentu. Jenuh, bosan dan frustasi sangat jelas terlihat di guratan wajah-wajah lelah mereka. Di pos-pos pengungsian, mereka sekadar duduk, tidur dan menunggu antrian makan, hal yang jauh dari kebiasaan mereka sebagai masyarakat bawah. Masyarakat kita ini biasa bekerja keras, bangun pagi-pagi lantas pergi ke sawah dengan perut kosong. Sebab tak terbiasa dengan sarapan pagi. Kemudian menjelang siang, baru mengganjal perut kosongnya dengan sarapan pagi. Itu rutinitas keseharian mereka dan sungguh luar biasa.  Mereka tetap segar bugar, meski hidup dalam kebersahajaan. Sehingga logis, begitu berada di kamp pengungsian, rasa bosan jelas terpampang pada wajah mereka.
Lantaran kondisi yang tidak menentu, dan rasa jenuh yang terus-menerus menghinggapi mereka, telah mengundang rasa solidaritas dari setiap kalangan. Termasuk para penggerak perpustakaan dan komunitas pecinta buku. Ketika saya bersama Ibu Tirta Nursari –pengelola TBM Warung Pasinaon—ke pos pegungsian TPA Tanjung Muntilan, terlihat disana ada Mobil Perpustakaan Keliling Kabupaten Magelang yang dikerubuti anak-anak pengungsi. Hal yang menggembirakan, betapa buku dan perpustakaan tidak hanya berhubungan dengan waktu senggang dan orang “sekolahan”.
Sebagai insan buku dan pegiat Taman Bacaan Masyarakat, kita bisa menghadirkan buku-buku pelepas jenuh ke tengah-tengah mereka. Terutama untuk anak-anak yang sudah terbiasa dengan suasana belajar. Meski serasa sederhana dan amat remeh, tapi bisa melupakan sesaat kenyataan yang menghimpit. Yakni kenyataan Merapi yang tak kunjung selesai memuntahkan lahar, dan kenyataan hidup yang hanya menunggu uluran belas kasihan orang lain. Kehadiran buku-buku yang kita sediakan, sedikit banyak bisa menjadi oase yang sanggup membuat sejuk suasana. Buku juga bisa menjadi mitra dialog mereka yang sedang dirundung duka.  Buku menjadi peredam emosi mereka yang sedang dihinggapi rasa sepi meski berada di tengah keramaian.
Perpustakaan yang selama ini hanya berada di tempat-tempat nyaman nan aman sentosa, seperti di gedung perpustakaan; di taman kota; di rumah-rumah mapan; di kantor Kepala Desa; di rumah sakit; dan di sekolah-sekolah, kini hadir di tengah suasana duka bencana berperan aktif melalui dengan pengadaan pos-pos baca di setiap pos pengungsian. Bantuan kemanusiaan yang hampir berkisar urusan logistik dan kesehatan, tidaklah cukup meredam emosi duka dan rasa sepi hati. Sehingga kehadiran bahan bacaan ke tengah-tengah mereka yang sedang menangisi nasib, bisa mejadi obat pelipur lara. Buku-buku adalah alternatif bagi para relawan yang kebingungan mencari solusi  untuk membuat para pengungsi ceria.
Kegiatan-kegiatan yang dikerjakan oleh para pegiat perpustakaan dan taman baca seperti kegiatan membaca; bercerita; menggambar; dan bimbingan belajar, yang selama ini sebatas dilakukan di daerahnya masing-masing, kini bisa diusahakan dalam jalinan kerjasama untuk turut meringankan duka bencana. Jaringan komunikasi pengelola perpustakaan dan taman baca yang, kalau pun ada, hanya berkutat di tempat nyaman dan pokok bahasan yang dibahas seputar pengembangan perpustakaan dan minat baca rendah, di tengah-tengah solidaritas yang tinggi atas bencana, bisa menjadi kebajikan yang luput dari perhatian. Egoisme pengelola yang kerap kali muncul, bisa lumer dalam kebersamaan menghapuskan duka sesama.
Duhai para komunitas pecinta buku dan pengelola perpustakaan, tidaklah cukup kita mencintai buku dan berlaku sebagai pekerja sosial karena melayani ilmu lewat buku, kalau belum kita buktikan ke tengah-tengah bencana. Biarlah Merapi terus menaburkan abu vulkanik, namun kita akan terus menebar buku kepada anak-anak pengungsi, menebar kegiatan belajar kepada para pengungsi. Semoga…
Pengelola Pondok Baca “lerengpena“ Ungaran

Perpustakaan Hidup di Masyarakat untuk Masyarakat


Perpustakaan Hidup di Masyarakat untuk Masyarakat
*/ LIVIA T.H.

Juara II Lomba Penulisan Artikel Tk. SMA/K/MA
yang diselenggarakan dalam rangka Ungaran Bookfair 2010

Perpustakaan telah lama hidup di masyarakat sebagai suatu instansi yang mendedikasikan diri untuk masyarakat. Secara hakiki perpustakaan berfungsi untuk menumbuhkan minat baca masyarakat dan turut berperan dalam mencerdaskan bangsa. Sebagai sebuah gudang buku perpustakaan telah sukses mengembangkan sayap sehingga mendapatkan gelar sebagai pusat informasi referensi dan ilmu pengetahuan. Namun tidak hanya berhenti pada titik itu, saat ini perpustakaan sudah lebih dikembangkan lagi sebagai suatu struktur yang memiliki nilai tambah dalam hal  kepedulian sosial dengan tetap berfokus pada dunia baca tulis. Contoh yang tidak dapat dipungkiri adalah sepak terjang perpustakaan dengan perpustakaan kelilingnya.
Perpustakaan Daerah merupakan perpustakaan yang dibangun oleh suatu daerah dan membuka diri untuk setiap lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Dalam hal kepedulian sosial, layanan perpustakaan adalah representasinya. Perpustakaan memberikan layanan ini secara gratis. Baik membaca, meminjam maupun menjadi anggota.
Patut mendapatkan apresiasi yang positif tentunya, karena kesadaran bahwa ada lapisan masyarakat yang kurang mampu. Untuk memfasilitasinya maka segala aktifitas diperpustakaan daerah adalah gratis. Perpustakaan daerah menyediakan media penulisan berupa buletin yang terbit 3 bulan sekali sebagai wadah penulisan ide-ide masyarakat serta berlatih menuangkan ide/gagasan masyarakat.
Perhatian Perpustakaan Daerah terhadap minat baca masyarakat terus dilakukan agar perpustakaan mampu menjadi sarana penunjang pendidikan yang murah dan bermutu bagi masyarakat. Layanan hot spot area di perpustakaan dan layanan komputer bagi anggota perpustakaan secara gratis menambah lengkap dan kehadirannya ikut membuat fungsi perpustakaan daerah semakin lengkap, dan yang cukup menjadi catatan penting semua layanan modern tersebut diberikan Cuma-Cuma alias gratis bagi masyarakat.
Kepedulian yang lain dari perpustakaan daerah, menyelenggarakan pameran buku, Ungaran Bookfair 2010 ini, sehingga masyarakat dapat membeli buku – buku murah yang berkualitas. Kegiatan kegiatan yang bernuansa pendidikan juga di selenggarakan dalam rangka Ungaran Bookfair 2010 ini, antara lain lomba penulisan artikel, cipta puisi, berbagai workshop dan seminar bahkan mendatangkan beberapa motivator seperti Aceng (manusia tanpa tangan yang memecahkan rekor muri dan mampu menulis dengan kaki). Kegiatan ini tentunya merupakan bentuk kepedulian perpustakaan daerah terhadap talenta-talenta yang tesembunyi sembari mengasah pengetahuan masyarakat melalui buku-buku yang disediakan.
Bentuk kepedulian sosial dari  perpustakaan terhadap masyarakat salah satunya adalah layanan perpustakaan keliling. Sesuai namanya, layanan perpustakaan ini memiliki mobilitas dan umumnya berupa mobil yang mengangkut buku-buku koleksi perpustakaan (di perpustakaan daerah kabupaten lain ada juga memakai motor- perpusda belum memiliki-end) dan berkeliling menjangkau masyarakat yang terpencil/ jauh dari keberadaan perpustakaan daerah.
Dengan layanan perpustakaan keliling, pengunjung tidak perlu repot mendatangi perpustakaan, malah mobil perpustakaan yang akan menyambangi masyarakat. Gagasan dasar terciptanya perpustakaan keliling tentunya melihat keadaan sosial, dimana banyak sekolah-sekolah yang tidak mampu menyediakan bacaan bagi anak didiknya. Selain sekolah, kondisi masyarakat yang diliputi keterbatasan untuk mengakses informasi serta faktor ekonomi rang relatif masih rendah menjadikan perpustakaan keliling menjadi primadona sebagai solusi kebutuhan informasi. Suatu bentuk pengabdian kepada masyarakat, dengan tujuan mencerdaskan bangsa.
Menilik uraian diatas, jelas sudah bahwa sudah tidak pada tempatnya lagi, steorotipe perpustakaan sebagai tempat peminjaman dan pengembalian saja. Perpustakaaan kini telah bertransformasi sebagai salah satu pusah pembagunan dasar-dasar pendidikan. Ibarat sebuah bangunan beragam khasanah ilmu pengetahuan yang ditawarkan oleh perpustakaan haruslah bermutu demi menjamin pilar-pilar pendidikan seluruh lapisan masyarakat.
Buku-buku yang merupakan rekaman ilmu pengetahuan harus dijaga serta diwariskan untuk generasi mendatang. Aktifitas / kegiatan perpustakaan sebaiknya lebih sering diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan promosi perpustakaan, kegiatan promosi perpustakaan sebanyak mungkin melibatkan masyarakat luas.
Layanan perpustakaan yang tidak terbatas, akan menjadikan jangkauan layanan (seperti layanan perpustakaan keliling) menjadi kekuatan masyarakat. Masyarakat terpencil akan mampu bersaing dengan masyarakat perkotaan dengan adanya fasilitas perpustakaan keliling.  Berbagai fasilitas yang disediakan oleh perpustakaan diharapkan menjadikan masyarakat untuk terdorong gemar membaca, pengetahuan akan meningkat, wawasan akan luas. Menjadikan masyarakat akan cerdas dan mandiri.
Perpustakaan hidup dimasyarakat untuk masyarakat sebagai wujud kepedulian sosial dalam ranah pendidikan. Semoga dapat terus berkembang untuk mencerdaskan bangsa dan secara terus menerus berfungsi sebagai pusat informasi. Segala bentuk kemajuan pendidikan ada ditangan kita. Majulah perpustakaan.!
*/. Siswa SMA Kristen Satya Wacana Salatiga, Tinggal di Pundung Putih Ungaran


Perpustakaan, My Soul Mate


Perpustakaan, “ My Soul Mate”

*\ Laurensius Bagus

Juara II Lomba Penulisan Artikel Tk. SMP/MTs
yang diselenggarakan dalam rangka Ungaran Bookfair 2010

Membaca adalah salah satu kegiatan yang positif, dapat menambah ilmu didalam dunia pendidikan. Membaca harus ditegaskan sejak dini agar menjadi salah satu bagian hidup masyarakat. Membaca dapat dilakukan dimana saja, salah satunya di perpustakaan.
Menurut Sekretaris Utama Perpusnas RI, Dra. Sri Sularsih, Msi, ”Untuk menumbuhkan minat baca, perlu dorongan berdirinya semua jenis perpustakaan, oleh karena itu mulai sekarang harus ada hubungan antara masyarakat dan perpustakaan sehingga perpustakaan nantinya diharapkan dapat menjadi wahana belajar masyarakat yang secara otomatis menumbuhkan minat baca.
Banyak manfaat yang akan diperoleh dengan membaca buku di perpustakaan, buku adalah gerbang ilmu pengetahuan maka dengan membaca buku  kita bisa menceritakan  apa yang telah terjadi di belahan dunia lain. Misalnya kita membaca mengenai kehidupan warga Amerika Serikat, padahal kita belum pernah kesana. Setelah membaca kita akan mengetahuinya serta dapat menceritakan kembali apa yang terjadi disana.
Manfaat membaca yang lain adalah akan merangsang syaraf otak manusia yang tadinya lemah menjadi kuat dan segar kembali, menumbuhkan kreatifitas dan meningkatkan perbendaharan kata. (Borges, Penyair dan Cerpenis Argentina).
Minat baca masyarakat diupayakan bukan hanya himbauan semata, untuk itu perlu ditunjung fasilitas pendukung seperti keberadaan perpustakaan, baik perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi maupun perpustakaan umum. Buku maupun koleksi yang lain yang tersedia di perpustakaan haruslah bermutu dan menarik.
Saat ini, tuntutan perpustakaan untuk mendayagunakan secara maksimal tugas dan fungsi perpustakaan demi meningkatkan minat baca harus diperhatikan semua pihak, terutama oleh perpustakaan itu sendiri serta pemerintah daerah. Selain itu komunikasi antara perpustakaan dan masyarakat harus terjalin dengan baik, sehingga setiap kebijakan maupun informasi terbaru masyarakat dapat mengetahuinya.
Nikmatnya Membaca
Banyak orang sukses karena membaca!. Dengan membaca mereka dapat berimajinasi dan berpikir kreatif serta menimbulkan pemikiran yang positif setelah membaca. Kita bisa membaca dimana saja, untuk anak sekolah mungkin membaca yang nyaman adalah dirumah mereka, setelah seharian berkutat dengan buku pelajaran, mendinginkan pikiran dengan membaca buku. Para siswa hanya mempunyai sedikit waktu apabila membaca di perpustakaan sekolah, rata-rata hanya 2x 15 menit waktu istirahat para siswa.
Membaca sesungguhnya bukan hal yang sulit, asalkan orang sudah mampu membaca. Membaca itu nikmat, bahkan lebih nikmat daripada duduk melamun seharian di depan rumah, atau ngrumpi. Membaca juga tidak menyebabkan kematian, malah bisa mengurangi kepikunan pada usia lanjut.
Perpustakaan merupakan sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian dan budaya serta beragam informasi lainnya. Seperti yang tertera di ”World Summit of Information Society” WSIS, 12 Desember 2003, bahwa perpustakaan sebagian dari masyarakat dunia untuk ikut serta membangun masyarakat informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi.
Sementara itu, kemerdekaan indonesia telah lebih dari 60 tahun, namun ternyata perpustakaan belum menjadi aktifitas kujungan keseharian. Sungguh suatu kerugian, karena membaca adalah mengeja huruf demi huruf dan memahami maksud atau kandungan makna dari rangkaian kata yang ada dalam buku. Proses ini sebenarnya banyak tersimpan mamfaat. Salah satunya melatih kita untuk berpikir sistematis, mengikuti ulur naskah dari buku. Pada saat membaca dibutuhkan kesabaran dan tidak tergesa-gesa.
Membaca dapat diartikan sama dengan belajar. Belajar yang teratur merupakan syarat mutlak. Abu Ahmadi, (1991), mengungkapkan sebab-sebab seseorang tidak suka membaca atau kurang berkonsentrasi antara lain sebagai berikut; a. Kurang minat terhadap buku yang dibaca, b. Banyak Urusan Yaang mengganggu, c. Meja/ tempat yang digunakan untuk membaca berantakan, d. Terlalu lelah. Untuk memunculkan kesenangan membaca, hal-hal tersebut diatas perlu dihindari.
Membaca seperti makan ayam!
Istilah diatas, menunjukkan bahwa membaca tidak kalah nikmat dengan hal-hal lainnya yang juga menyenangkan. Menurut Syaifatul Bahri dalam bukunya yang berjudul ”Rahasia Sukses Belajar”, dikemukakan bahwa belajar diperlukan konsentrasi, pemusatan fungsi jiwa terhadap suatu masalah atau objek. Isalnya, konsentrasi pikiran, perhatian dan sebagainya.
Gangguan membaca dapat disebakan oleh beberapa hal dan menurut Hasbullah  Thabrony (1994), dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu gangguan dari dalam (internal) dan gangguan dari luar (eksternal). Gangguan dari dalam misalnya, tidak kuatnya tekad untuk membaca, sifat emosi, sifat mudah marah, benci, haus, lapar, sakit, target kerja yang kurang realistis, masalah dengan orang tua, pacar atau guru. Sedangkan gangguan luar misalnya, suara gaduuh. Foto pacar, foto bintang film, kesalahan cara penyusunan jadwal dan urutan belajar.
Bagaimana cara mengatasi gangguan  itu agar dapat berkonsentrasi dengan baik. Abu Ahmadi (1991) mengemukakan cara mengatasinya sehingga dapat berkonsentrasi dengan baik antara lain sebagai berikut : a. Harus berminat pada buku yang akan dibaca, b. Harus mempunyai ruang khusus belajar salah satunya bisa perpustakaan, c. Hindari benda yang tidak bersangkut paut, istirahat yang cukup.
Banyak hal yang akan didapatkan kalau membaca, dalam aktifitas keseharian harus kita bangun dalam diri kita agar membaca menjadi SoulMate. Mari membaca.



*\ siswa SMP N 5 Ambarawa