Pustakawan Adalah Profesi
*\B. Endang Sudarti Respatiningsih

Empat puluh tahun silam lebih perpustakaan telah berkembang di negara negara lain dibalik itu di Negara Indonesia ini ilmu Perpustakaan baru saja di perkenalkan kepada masyarakatmaka tak heran pula masyarakat kita masih kurang menyerap informasi seperti yang terjadi diluar negeri yang sudah maju. Kalau kita kritisi perkembangan Perpustakaan di Indonesia kurang cepat karena selama ini pelaku penyelenggara perpustakaan masih mementingkan kepentingan diri sendiri, contohnya saja karena perhatian terhadap perpustakaan masih kurang, banyaknya buku buku yang seharusnya menjadi konsumsi informasi kepada masyarakat tetapi tidak sampai sasaran (karena kasus kasus korupsi) dibidang perbukuan.
Bagimana para pelajar akan pintar dan cerdas kalau tidak mempunyai bahan bahan bacaan ? Kurangnya koleksi dan tidak memenuhinya stndar sarana Perpustakaan sebagai media ainformasi , hal ini merupkan persoalan yang perlu disikapi pula., kurangnya jumlah Pustakawan mengakibatkan Penyelenggaraan Perpustakaan di Indonesia jauh tertinggal bila dibanding Negara Negara lain.
Dewasa ini dimana mana telah berkembang Perpustakaan Digital , sehingga jumlah buku yang kasat mata tidak nampak, meskipun demikian untuk Pengolahn Bahan pustaka , input data , dan seleksi bahan pustaka sesuai tuntutan pemustaka selalu dibutuhkan.Kurangnya Pustakawan mengakibatkan pengentasan buta aksarapun belum seperti yang diharapkan.masih banyak masyarakat buta huruf. Laporan dengan kenyataan kadang berbeda, sebab desa dinyatakan bebas buta huruf namun stelah diadakan tes langsung pada masyarakat masih banyak terbukti warga yang tidak bisa membaca. Yang saya anggap aneh mereka warga masyarakat yang buta huruf tersebut mengerti hitungan nominal uang. Inilah yang saya tidak mengerti apa penyebabnya,andaikan semua warga bisa membaca seperti mereka mengerti hitungan uang, pastilh akan sangat menyenangkan krena secara otomatis kecerdasan mereka akan meningkat.
Kecerdasan intelektual, dan budaya baca tinggi dapat terwujud apabila masyarakat mempunyai kesadaran tinggi untuk membiasakan diri gemar membaca, hal ini tidak lepas dari pengaruh pustakawan sebagai motor penggerak masyarakat untuk merubah perilaku masyrakat tidak gemar membaca menjadi masyarakat gemar membaca, oleh karenanya para pustakawan harus dapat merubah merubah paradigma yang tidak benar bahwa pustakawan tidak mempunyai potensi. Jabatan fungsional pustakawan diperoleh apbil seorang calon pustakawan benar benar telah melaksanakan tugas tugas kepustakawanan minimum 2 tahun di unit perpustakaan dokumentasi dan informansi, yang bersangkutan telah memiliki nilai angka kredit pustakawan sesuai ketentuan berlaku, dan telah mengajukan usalan kepada pihak yang berwenang dengan memenuhi seluruh butir persyaratan untuk diangkat menjadi pejabat fungsional Pustakawan, kalau seseorang belum pernah mengajukan angka kredit dan tidak melalui proses ini maka kepadanya disebut Calon Pustakawan, atau masih berstatus Tenaga Teknis Perpustakaan dan belum bisa disebut Pustakawan. ketidak tahuan akan masalah ini masih dijumpai SK pengangkatan PNS yang berbunyi pekerjaan pustakawan, padahal PNS yang bersangkutan hanya berijazah SMA sederajad.
Memang tidak bisa disanggah, saat ini profesi pustakawan kadang masih mendapat tanggapan remeh, dipandang aneh, tidak menguntungkan, semua ini karena masih banyak orang lain yang belum memahami benar tugas fungsi, dan peranan pustakawan, memang sesuai kenyataan pada jaman dahulu, pustakawan identikdengan orang buangan, karena dianggap tidak bisa bekerja maka ia dimutasikan ke perpustakaan dengan tugas tugas menjajar buku dan melayani layanan pinjam dan kembali buku, ada juga karena faktor X dari pimpinan yang berusaha menyingkirkan staff yang tidak ia sukai sehingga ditempatkan pada perpustakaan, sebagai tempat titipan pegawai yang akan diorbitkan menduduki jabatan tertentu, sebagai tempat pegawai/guru yang sedang sakit berat, sebagai tempat guru yng kekurangan jam mengajar, karena ada tuntutan menutup jumlh jam mengajar bagi para guru PNS, Sebagai tempat pegawai yang telah mendekati usia Pensiun dengan demikian berakibat sumber daya manusia Perpustakaan pada jaman dulu memang tidak efektif karena hanya sebagai tempat buangan, Bagaimana perasan seorang buangan? pastilah tidak menyenangkan, maka dampaknya kerjapun tidak bersemangat.
Di jaman sekarang ini derajad/martabat pustakawan ditinggikan, profesi Perpustakaan menjadi dambaan karena merupakan profesi bergengsi. Usaha pemerintah untuk memajukan perpustakaan dengan memberikan pendidikan dan diklat diklat Perpustakaan, diharapkan agar fungsi peran perpustakaan dan pustakawan dapat diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat di banyak perguruan tinggi di Indonesia telah digelar program Ilmu Perpustakaan, mulai dari D2, D3, S1 dengan harapan mempersipkan sumber daya manusia perpustakaan yang lebih berkwalitas.
Perpustakan adalah unit organisasi sehingga dalam suatu perpustakaan ada susunan pengelolanya, standarisasi tenaga perpustakaan dan rincian tugas yang jelas fungsi pustakawan sangat mempunyai pengaruh dalam perkembangan usaha mencerdaskan bangsa, hal tersebut ada kaitannya dengan tugas pustakawan yang sebagai fasilitator penyedia bahan bacaan yang sesuai, relevan, bagi pengguna. Perkembangan yang dimaksud adalah: pendayagunaan koleksi bahan pustaka, pengorganisasian bahan pustaka, pemasyarakatan bahan pustaka , fungsi Perpustakaan dan peran pustakawan, perkembangan jumlah koleksi, perkembangan ragam koleksi, perkembangan system layanan, sosialisasi kepustakawanan, perkembangan sarana prasarana perabotan, perkembangan minat baca masyarakat pengguna. Pustakawan harus dapat memimpin dirinya sendiri dan memimpin orang lain, pustakawan harus mampu merubah anggapan salah dimasa lampau.
Sebagai gambaran saja pada saat saya bersekolah dahulu, saya tidak pernah mengunjungi Perpustakaan sama sekali. Pernah satu atau dua kali kunjung ke perpustakaan tetapi tidak bertujuan untuk membaca atau meminjam buku, pada saat itu tujuan ke Perpustakan adalah menjemput guru jemputan (guru bahasa Indonesia) yang seharusnya mengajar di kelas kami tapi tidak datang juga ke kelas maklum guru tersebut sudah tua, jadi sudah malas malas untuk berdiri ,ia sudah tua menjelang pensiun, alisnya tebal dan serem, akupun menjemputnya karena tidak ada yang mau, coba kalau sang guru Bahasa itu masih muda cakep/ ganteng dan murah senyum, pastilah semua berebut untuk menjemputnya.
Dalam pelaksanan tugas tugasnya pastilah ada hambatan dan peluang yng disebut dengan SWOT, maka tak lepas dari itu. Faktor hambatan antara lain adalah karena kurang fahamnya orang lain akan tugas, fungsi dan pernan seorang pustakawan oleh karenanya perlu pemberian kesempatan kepada sang pustakawan untuk menyebarluaskan fungsi, hak, wewenang, tanggung jawab pustakawan kepada semua pihak yang berkepentingan. Saya banyak menampung keluhan keluhan / hambatan dari para pengelola perpustakaan Sekolah bahwa :
1. Para Petugas Perpustakaan (calon Pustakawan) Sekolah dalam pelaksanaan sehari hari
ditugasi berbagai macam tugas lain yang bukan tanggung jawabnya , sebagai missal
mengerjakan laporan laporan/ berkas angka kredit dan kenaikan pangkat para guru,membuat
proposal proposal bantuan dan sejenisnya,
2 Dibebani mengetik pekerjaan kantor sehingga pekerjaan yang ada kaitannya dengan
Perpustakaan justru tidak tersentuh
3. Ada kendala lain adalah respon pemimpin instansi induk penyelenggara Perpustakaan
yang kurang perhatian terhadap stimuli yang diberikan oleh pihak PERPUSNAS
dalam mengembangkan koleksi bahan pustaka belum sesuai ketentuan undang undang 5
persen dari APBS (untuk Perpustakaan Sekolah Perpustakaan dalam mengalokasikan
dana untuk pengembangan koleksi Perpustakaan,biasanya hal ini dengan alasan prioritas
untuk kepentingan prioritas lain dulu)
4. Kurang adanya sangsi tegas terhadap penyimpangan Undang Undang Perpustakaan.
5. Para Pustakawan tidak dilibatkan dalam pembelian / melaksanakan kebebasan
mengembangkan koleksi sesuai minat baca para pengguna karena disekolah sekolah
sudah dibentuk TIM Belanja barang.Hambatan hambatan ini yang mengakibatkan
pendayagunaan / perkembangan perpustakaan karena koleksi yang sesuai untuk sebuah
sebuah Perpustakaan, penambahan koleksi yang tidak sesui hanya akan memenuhi
ruangan tetapi tidak bermanfaat.
6 Penempatan guru guru yang telah fungsional pada perpustakaan juga kurang pas , karena
tugas Perpustakaan yang sangat banyak ,tidak akan berkembang baik kalau hanya
dikerjakan sebagai pekerjaan ( sampiran ) samben .
7. Hambatan lain adalah Perpustakaan dalam mengalokasikan dana untuk pengembangan
koleksi Perpustakaan,biasanya hal ini dengan alasan prioritas yang lain dulu
Karena kelangkaan pustakawan dan kurangnya jumlah pustakawan fungsional disekolah sekolah maka memang sudah selayaknya menggunakan guru untuk menjadi pengelola perpustakaan, hal ini bersifat terpaksa karena tidak ada petugasnya, .menurut hemat saya sebagai solusi terbaik adalah meletakkan tenaga staf tata usaha untuk dikirim diklat diklat/ seminar seminar Perpustakaan untuk ditempatkan sebagai tenaga teknis Perpustakaan, dengan demikian Perpustakaan selalu buka dan dapat melayani pengunjung, Guru banyak mengajar dan dituntut 24 jam mengajar bagi para guru yang telah PNS dan menerima sertifikasi, alam pelaksanaan harian guru banyak sekali tugasnya : membuat SP, RP, Analisis Matei Pelajaran, Lembar Kegiatan Siswa, koreksi.menunggu test, ......sehingga tidak bisa mengerjakan tugas tugas kepustakawanan, lebih baik lagi sekolah sekolah yang belum meiliki Pustakawan fungsional merekrut lulusan D.2 atau D.3 atau S.1 ilmu Perpustakaan dengan cara bekerjasama dengan perguruan tinggi yang telah meluluskan tamatan Ilmu ilmu Perpustakaan untuk menjadi Tenaga Honorer di Perpustakaan.
Apabila suatu Sekolah sudah memiliki Pustakawan fungsional.maka tugas fungsi tanggung jawab pengelolaan perpustakaan berda ditangan sang Pustakawan , karena secara yuridis Pustakawan mempunyai tanggung jawab, hak dan wewenang penuh untuk mengelola Perpustakaan. fungsi guru terhadap Perpustakaan sebatas sebagai pemberi masukan tentang koleksi yang dibutuhkan pengguna (Specialist Subyek) data tentang buku apa atau koleksi apa yang akan dipakai dalam proses kegiatan Belajar mengajar di Sekolah. (Pengadaan Bahan Ajar ) pustakawan harus lincah, harus bisa meraih hati para pengunjung perpustakaan, sopan dalam ucapan, pikiran, mampu mengembangan inovasi (terobosan) bagaimana langkah agar perpustakaannya berkembang.
Kalau ingin sukses dalam melaksanakan manajeman perpustakaan, pakai saja Manajemen Modern yang meliputi Manajemen terpadu yaitu keselarasan pengelolaan Manajemen Orang, Manajemen Uang dan Manajemen Barang., apabila ketiga Komponen ini bisa berjalan dengan baik maka Perpustakaan akan berkembang pesat, kinerja profesi Pustakawan akan bersemangat pula.
*\Pustakawan SMA Negeri 2 Wonogiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar