Slogan kami

Redaksi Buletin Pustaka mengucapkan Selamat Hari Soempah Pemoeda, 28 Oktober 2013
Tampilkan postingan dengan label edisi 10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label edisi 10. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2011

PERPUSTAKAAN DESA WONOKROMO Kec. Pleret Kabupaten Bantul Yogyakarta


Liputan
PERPUSTAKAAN DESA WONOKROMO
Kec. Pleret Kabupaten Bantul Yogyakarta


Pleret.. apa yang terlintas di benak pembaca Buletin? Kalau belum tahu, Pleret merupakan kota bersejarah, dulunya merupakan ibukota kerajaan Mataram Islam. Tentunya banyak hal menarik yang masih tersimpan dan belum ditemukan di Pleret. Banyak peninggalan yang mungkin masih terpendam di Pleret. Sementara itu di Desa Wonokromo ada yang membuat kita sejenak untuk berpaling… bukan peninggalan Kerajaan Mataram Islam yang berupa Candi/Prasasti/petilasan atau bangunan sejarah yang lain. Tapi Gedung Perpustakaan Desa Wonokromo Pleret Kabupaten Bantul.


Bapak Sekdes Didampingi Tokoh Desa Wonokromo
 
Bersama para peserta Bimbingan Teknis Pengelola Perpustakaan Desa Tahun 2011, yang berjumlah 30 orang, pada 14 April lalu Buletin menyambangi perpustakan desa ini. Diterima oleh para jajaran pimpinan Desa Wonokromo, kami mendapatkan sambutan yang hangat. Dialog ringan, bersahabat namun sangat bermanfaat terjadi saat acara ramah tamah. Dengan gamblang, Bapak Riyanto Sekretaris Desa Wonokromo, mewakili Bapak Kades yang sedang berhalangan, beliau menjelaskan dengan penuh semangat dan bangga untuk membagi pengalaman dalam mengembangkan dan mengawal kehidupan perpustakaan Desa Wonokromo ini .

 
Berdiri sejak tahun 2003 tepatnya pada tanggal 1 September, dengan rintisan dari tokoh masyarakat dan difasilitasi sepenuhnya oleh pihak pemerintah desa. Mulai saat itu Perpustakaan Wonokromo bergeliat memberikan ilmu pada masyarakat. “Ketika perpustakaan mulai berkembang, pada 2006 yang lalu Gedung Perpustakaan Desa kami ikut terkena efek gempa, perpustakaan yang kami bangun waktu itu hancur”, Jelas Bapak Sekdes. “Tapi kami tak patah arang, sedikit demi sedikit, perpustakaan kami benahi, karena kami menyadari sepenuhnya kegunaan bagi masyarakat desa kami,” lanjut Bapak Riyanto. “Terwujudnya perpustakaan desa sebagai pelayan masyarakat dalam mendukung terciptanya masyarakat yang berpengetahuan, adalah visi dari Perpustakaan Desa Wonokromo,” Jelas Bapak Riyanto.
Pemerintah Desa mendukung sepenuhnya pengelolaan dan pengembangan perpustakaan desa, hal itu dibuktikan dengan support dalam bentuk dana sebesar Rp. 4.000.000,- pertahun  yang diambil dari Dana Alokasi Desa. “Selain dukungan langsung ke perpustakaan melalui DAUD, cara kami yang lain untuk menghidupkan perpustakaan adalah dengan mengangkat pengelola utama perpustakaan menjadi perangkat desa kami,” urai Bapak Riyanto. Seperti yang diceritakan oleh Bapak Riyanto atas kesepakatan di musyawarah desa dengan ditetapkan melalui kebijakan desa. Pengelola Perpustakaan diangkat menjadi perangkat desa, dengan jam kerja pagi di kantor desa (jam 7 – 9) kemudian siang harinya bertugas di Perpustakaan.
Dalam acara penyambutan peserta kunjungan ini, juga diadakan sesi tanya jawab, antusiasme peserta terlihat dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan, terutama keingintahuan peserta mengenai proses awal berdirinya, kendala serta bagaimana mengatasi hambatan yang dihadapi. Ada juga peserta yang bertanya mengenai cara untuk tetap bersemangat dalam mengelola perpustakaan ditengah berbagai kesulitan yang dihadapi. Karena rasa penasaran, ada juga peserta kunjungan yang usul untuk secepatnya meninjau secara langsung aktifitas, dan keadaan perpustakaan Desa Wonokromo.

 
Perpustakaan Desa Wonokromo berada di Desa Wonokromo Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul. Letak Perpustakaan Desa Wonokromo sangat strategis, berada di perempatan jalan, diseberangjalan berhadapan dengan MAN Wonokromo, 100 meter dari Kantor Desa Wonokromo, dan Bersebelahan dengan Pasar Jejeran Wonokromo.
Perpustakaan Desa Wonokromo buka dari jam 08.00 sampai dengan jam 13.00 WIB setiap hari Senin – Jumat. Karena tempat yang strategis pula, pengunjung Perpustakaan Desa mudah untuk mengakses ke Perpustakaan. Bahkan menurut pengelola perpustakaan. Ibu Siti Fathonah “ Perpustakaan Desa Wonokromo selalu menjadi “jujugan’ siswa setelah pulang sekolah. Masih menurut Ibu Siti Fathonah jumlah rata-rata Pengunjung perhari mencapai 30an orang.
Koleksi yang dimiliki Perpustakaan Desa Wonokromo sampai awal 2011 ini tidak kurang dari 5000 eksemplar, yang terdiri dari buku, majalah, Koran dan audio visual. Pengadaan bahan pustaka di Perpustakaan Desa Wonokromo rutin tiap tahun dengan pembelian, selain itu ada juga dari sumbangan masyarakat. “Kami juga memperoleh bantuan dari Kedaulatan Rakyat Langganan Gratis berupa surat kabar yang ditempel di papan baca, yang terletak di depan gedung perpustakaan, yang juga berasal dari bantuan dari surat kabar tersebut,” jelas Ibu Siti Fathonah.
Untuk mengenalkan perpustakaan kepada warga masyarakat, Perpustakaan Desa Wonokromo memiliki kader dari dusun-dusun yang ada di Desa Wonokromo (17 dusun), sebagai sukarelawan perpustakaan, yang selalu siap apabila perpustakaan membutuhkan tenaga. Selain itu juga dilakukan sosialisasi perpustakaan pada saat pertemuan di kegiatan kelompok masyarakat.
Peserta Kunjungan mencoba menggali informasi mendalam
 
Berkat bantuan dari Perpustakaan Umum Kabupaten Bantul, Perpustakaan Desa Wonokromo memiliki layanan perpustakaan keliling. Layanan ini menggunakan motor pintar yang merupakan pinjaman dari Perpustakaan Umum Kabupaten Bantul, selain meminjamkan motor, perbulan juga meberikan subsidi BBM untuk mobilitas Motor pintar. Sementara ini, motor pintar hanya mendatangi posyandu - posyandu di 12 dusun, dikarenakan keterbatasan koleksi buku.
”Saat meninjam, pengunjung tidak dikenai biaya, hanya pada saat pendaftaran calon anggota perpustakan membayar RP. 2.000,- ,serta Rp.100,- apabila terlambat mengembalikan buku pinjaman. Lama peminjaman 7 hari dan dapat diperpanjang sampai dengan 2 minggu. Biaya yang timbul tersebut sematamata bukan tujuan profit bagi perpustakaan, hanya sebagai efek/sugesti untuk kebaikan perpustakaan, dengan rasa disiplin dari pengunjung. Juga bermanfaat untuk menambah serta merawat koleksi, “urai Ibu Siti Fathonah.
Apabila tertarik dan berniat berkunjung atau hanya sekedar berkorespondensi dengan Perpustakaan Desa “Wonokromo” dengan alamat, Jl. Imogiri Timur Km.8 Wonokromo Pleret Kabupaten Bantul. Telepon 0856 4368 2321. (\*Bambang)

Kamis, 02 Juni 2011

MENABUR INOVASI MENUAI PERPUSTAKAAN BERGIZI


MENABUR INOVASI MENUAI PERPUSTAKAAN BERGIZI

Bagi sebagian orang, perpustakaan selalu identik dengan kumpulan buku-buku beraneka judul di sebuah rak kayu. Stereotip itu selalu muncul dalam benak setiap mendengar kata perpustakaan. Karenanya, banyak orang yang enggan masuk atau berlama-lama disana karena membosankan dan membuat jadi mengantuk.
Seyogyanya para pengelola perpustakaan selalu mengedepankan empati pada harapan masyarakat pengguna tentang sebuah tempat yang mampu “memanjakan” kebutuhan memperoleh pengetahuan namun tetap menghibur.
Untuk memenuhi ekspektasi itu, pengelola harus mau dan mampu mengevaluasi  segenap program dan kegiatan yang telah berjalan. Evaluasi itu mencakup berbagai aspek termasuk kekuatan, kelemahan maupun peluang pengembangan perpustakaan. Obyek evaluasi antara lain koleksi buku, mutu pengelola dan penambahan fasilitas pendukung serta inovasi lainnya.
Penambahan koleksi buku harus terus dilakukan dengan mengedepankan pembaharuan keilmuan. Usahakan sedapat mungkin untuk mencakup seluas mungkin bidang keilmuan. Sehingga mampu menarik minat berkunjung para pengguna untuk membaca buku-buku sesuai kebutuhannya. 
Selain itu relevansi judul buku dengan kebutuhan masyarakat setempat juga perlu mendapat perhatian di saat memutuskan untuk menambah koleksi buku. 
Tak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi informasi membawa dampak pada pemanfaatan alat (gadget) untuk mengakses informasi. Sehingga buku bukan satu-satunya sarana membaca dan memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan.
Sudah jamak, masyarakat modern saat ini mengakses informasi lewat internet ataupun electronic book (e-book). Karenanya, perpustakaan yang responsif terhadap kebutuhan pengguna tidak menafikan penyediaan fasilitas internet sebagai sarana penunjang koleksi buku yang ada.
Berbagai fasilitas dan pengembangan perpustakaan itu tetap harus didukung kesangkilan para pengelolanya. Sebab, selengkap apapun fasilitas dan koleksinya, pengunjung perpustakaan tetaplah makhluk sosial yang lebih nyaman berkomunikasi secara personal.
Bagi pengelola perpustakaan, tetaplah mengedepankan pelayanan personal yang hangat dan bersahabat kepada pengunjung. Selain itu, pengembangan sesuai kebutuhan masyarakat juga harus terus berjalan.  Jadi, pelayanan perpustakaan tetap memiliki mutu tinggi alias “penuh gizi”!(*/junaedi)

S A L A M R E D A K S I


S A L A M     R E D A K S I

Ass.Wr.Wb.

Pembaca Buletin Pustaka yang selalu semangat.. , Buletin bulan Juni 2011 ini  tampil dengan segudang kegiatan dan beberapa prestasi yang didapat belum lama ini.  Diawali dengan Perpustakaan  “Cemerlang” Desa Tlompakan  Kecamatan Tuntang  yang meraih Juara III Lomba Perpustakaan Desa tingkat Provinsi Jawa Tengah  tahun 2011  kemudian pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tingkat Kabupaten 20 Mei 2011 , Kantor Perpustakaan Daerah menerima penghargaan  Citra  Bhakti Abdi Negara dari Bupati Semarang. Harapan kami semoga  prestasi ini dipertahankan bahkan meningkat dan khususnya perpusdes-perpusdes yang lain dapat mengikuti jejak perpusdes cemerlang.
          Pengembangan  minat dan budaya baca masih harus kita sosialisasikan secara terpadu dengan dukungan berbagai pihak., Melalui TP.PKK dari tingkat Desa sampai Kabupaten , diharapkan akan lebih mengoptimalkan peran perpusdes. Disamping itu peran PKK  dalam menumbuhkan  minat baca dapat dilakukan melalui “ dongeng” kepada putra putrinya yang masih usia dini. Artikel “mendongeng dapat meningkatkan kecerdasan anak”  bisa dibaca pada edisi ini.  
          Tumbuhnya perpustakaan desa dan embrionya seperti rumah baca lereng pena  di desa Lerep merupakan salah satu  bentuk  adanya peningkatan  budaya baca di  Bumi Serasi ini. Selanjutnya kami  berharap  pengembangan  budaya baca  di seluruh wilayah desa melalui peningkatan jumlah perpustakaan desa.
          Akhir kata kami mohon saran dan kritik yang membangun untuk peningkatan kualitas buletin pustaka.

Wass. Wr.Wb.,


    
Mengayuh Waktu
*\Widita Sri Wahyuni

Berawal dari titik tersepi..
Kala tanganku menari, mengurai sajak-sajak rintih manusia
Terbakar dalam tangis pilu
Tersengau segala lara
Nan kian menyayat jiwa
Q menggontai bait-bait penuh kutukan nafas syetan
Bergemuruh-bergelut dengan suara gerimis nan rapat
Menggali segala resah dalam samudera kata
Ku… terpejam dalam beribu mimpi
Terperanjat dalam do’a di segala waktu

Ya Rabb…
Dimana ruh-Mu bersandar
Ratusan senja yang kulalui
Ribuan waktu yang ku potong
Namun… , Tak akan jua Kau ku temukan di alam fana ini

Sudah terlalu lama rinduku tertahan
Terpisah jarak dan waktu
Seakan terbungkus keraguan dan keterdamparan
Tak tau arah kemana langkah kan aku bawa
Adakah engkau disana
Mengendap-endap, memantau kami dengan segala Kuasa-Mu
Mengguyung kami dalam petaka dan kelam atas segala dosa…

Wahai anak adam
Tak takutkah engkau pada amarah-Nya?
Melangkah dalam dunia, menjajah bumi yang kian memberontak
Jikalau petaka menghadang meremuk-redamkan segala cahya
Menghancurkan hingga berkeping, gelap-remuk dunia ini
Mengapa hanya waktu yang kau ayuh….
Haruskah amarah-Nya yang maha dahsyat mengguncang fana
Terbalas dengan airmata yang kehilangan seluruh matahari
Dengan rasa jerit-sakit
Memotong-mengayuh waktu usia
Hingga menggapai sluruh kemenangan
Di atas piala usia….


Alamat : Gintungan, Bandungan
Sekolah: SMK Informatika NU Ungaran