Slogan kami

Redaksi Buletin Pustaka mengucapkan Selamat Hari Soempah Pemoeda, 28 Oktober 2013
Tampilkan postingan dengan label Edisi 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi 6. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Agustus 2011

PERPUSTAKAAN DI DAERAH PERBATASAN : Peluang dan Manfaatnya bagi masyarakat



PERPUSTAKAAN DI DAERAH PERBATASAN
Peluang dan Manfaatnya bagi masyarakat
*/ Bambang Murdianto, SS.

 Pendidikan adalah hak dasar manusia, yang harus dipenuhi oleh suatu negara. Tanpa melihat atau mempertimbangkan asal usul, suku, agama, ras dan dari mana manusia itu tinggal. Di perkotaan, pedesaan, daerah maju ataupun daerah terpencil mutlak diberikan fasilitas pendidikan yang layak. Di UUD 1945 pun, sudah di letakkan dasar bahwa, tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pendidikan (pasal 31 UUD 1945, perubahan IV-2002).
Perpustakaan yang merupakan sarana pendidikan harus ikut berperan memberikan sumbangsih dalam mensukseskan pendidikan kepada semua masyarakat. Undang-undang perpustakaan yang telah ditetapkan menjelaskan bahwa masyarakat didaerah terpencil, terisolasi atau terbelakang sebagai akibat faktor geografis berhak memperoleh layanan perpustakaan secara khusus. (Pasal 5 ayat 2 UU No. 43 Tahun 2007).
Kabupaten Semarang yang dikelingi 7 kabupaten/kota dan 1 kota (Salatiga) yang berada didalam wilayah Kabupaten semarang, mempunyai keadaan geografis yang kurang menguntungkan, selain jarak yang jauh dikelilingi gunung-gunung, juga wilayah yang sangat luas. Seringkali karena alasan-alasan tersebut daerah-daerah perbatasan kurang mendapat perhatian.
Mengambil istilah DEMOKRASI INFORMASI (Sutarno NS, dalam bukunya ”Perpustakaan dan Masyarakat”), semua orang mempunyai hak yang sama untuk memanfaatkan perpustakaan. Mendasarkan pada hal tersebut, Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang memulai usaha pemerataan informasi sebagai fasilitator dengan pembukaan pos baca perpustakaan di daerah perbatasan. Pos baca perpustakaan direncanakan dibuka di beberapa kecamatan yang berbatasan langsung dengan kabupaten/kota lain.
Pos Baca ini nantinya menyediakan banyak koleksi life skill serta pengetahuan praktis bagi masyarakat, sehingga diharapkan secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat dengan mengaplikasikan langsung informasi yang didapat dari buku. Pos baca juga bertujuan menjadikan masyarakat tanggap informasi. Selalu up to date dengan perkembangan pengetahuan, sehingga tidak tertinggal dari daerah perkotaan.
Tujuan pembukaan pos baca di kecamatan daerah perbatasan selain penyediaan fasilitas dan sumber informasi bagi masyarakat, yang tidak kalah penting pos baca nantinya bisa sebagai pusat pembelajaran. Buku-buku yang disediakan (termasuk koleksi lain; koran,majalah,dsb) secara tidak langsung menciptakan masyarakat yang cerdas, masyarakat pembelajar, masyarakat yang gemar membaca dan berbudaya. Masyarakat yang gemar membaca berkorelasi langsung dengan karakter, pandangan, dan wawasan yang luas.
Jadi titik akhirnya, masyarakat sekitar pos baca selanjutnya akan bersikap mandiri, percaya diri dan mampu mengikuti perkembangan dan tantangan perubahan zaman. Pos baca juga termasuk sarana belajar nonformal yang cara belajarnya masyarakat akan memperoleh kesenangan, dan kepuasan batin melalui membaca buku.
Sebagai tonggak awal, Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang pada bulan ini, bekerja sama dengan Kantor Kecamatan Kaliwungu, akan membuka Pos Baca Perpustakaan. Yang nantinya diharapkan dapat bermanfaat langsung bagi masyarakat. Dengan dibukanya Pos Baca ini, masyarakat yang memerlukan informasi tidak perlu jauh-jauh ke Perpustakaan di Kabupaten lain.
Masyarakat di kecamatan Kaliwungu, menurut Kasi Perpustakaan (Perpustakaan Kabupaten Boyolali) sering berkunjung dan memanfaatkan layanan di perpustakaan Kabupaten Boyolali. Hal ini dibuktikan dengan bukti adanya kehadiran banyak warga sekitar Kecamatan Kaliwungu dibuku tamu Perpustakaan Umum Kabupaten Boyolali.
Selain fungsi sebagai sarana rekreasi informatif bagi masyarakat, pos baca yang memiliki koleksi beragam diharapkan mampu merubah pola pikir masyarakat kearah yang maju. Sebagai pusat informasi bagi masyarakat, pos baca perpustakaan berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi, hal ini sesuai dengan sasaran pemerataan pembangunan dan pengembangan daerah perbatasan yang menjadi misi utama pembukaan Pos Baca di Kantor Kecamatan Kaliwungu ini.

Pembukaan pos baca ini tentunya harus didukung ketersedian koleksi yang cukup memadai, sampai Periode Juni 2010 koleksi yang dimiliki Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang sebanyak 49.000 eksemplar. Jumlah tersebut jauh dari kata mencukupi, karena Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang selain memiliki layanan perpustakaan di Ungaran juga memiliki Layanan Perpustakaan di Ambarawa, serta beberapa pos baca yang sudah melayani masyarakat; Pos Baca Medika di RSUD Ungaran, Pos Baca Kantor Kecamatan Bandungan. Itu belum buku-buku yang dipinjamkan dengan sistem layan silang ke lebih dari 65 pos keliling (sekolah,perpusdes,dll).
Untuk mensiasati kekurangan koleksi, Kantor perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang menerapkan sistem drop buku setiap bulan sekali, yaitu buku diputar pada masing-masing pos baca sebulan sekali. 
Kedepan, pembukaan pos baca ini diharapkan semua daerah perbatasan bisa di kembangkan, Selain Perpustakaan Umum Kabupaten Boyolali, yang menjadi tempat mencari informasi warga di daerah perbatasan lain seperti Kecamatan Pabelan, Tengaran, Tuntang maupun Banyubiru juga sering berkunjung ke Kantor Perpustakaan Umum Kota Salatiga, seperti yang tercantum data Buku Pengunjung Perpustakaan Umum Salatiga.
Pos Baca Perpustakaan di daerah perbatasan ini diharapkan bisa memenuhi harapan masyarakat luas akan informasi pengetahuan tanpa terkendala jarak. Budaya gemar membaca akan mempengaruhi sendi-sendi kehidupan, selain peningkatan taraf hidup, perubahan pola pikir juga selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, Sehingga apa yang tertuang didalam UUD RI 1945 bisa terwujud, khususnya hak setiap warga Negara untuk menikmati pendidikan, melalui ilmu pengetahuan yang ada di buku.
Adanya perhatian pada masyarakat dengan berbagai pembangunan salah satunya  penambahan fasilitas informasi dalam bentuk pos baca perpustakaan tentunya akan menambah partisipasi aktif masyarakat dalam membangun daerah.
*\ staf pengembangan Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang

Kamis, 17 Juni 2010

aktivitas membaca sebagai seBUAH GAYA HIDUP


aktivitas membaca sebagai seBUAH GAYA HIDUP

 *(Oleh : Asih Winarto

 Bagi kebanyakan manusia, ilmu pengetahuan merupakan salah satu dari tujuan hidup. Sementara itu, unsur penting dalam manajemen diri adalah membangun kebiasaan untuk terus menerus belajar agar menjadi manusia pembelajar yang senantiasa haus akan informasi dan pengetahuan. Dalam usaha mencapai tujuan itu, Allah SWT telah membekali manusia dengan akal dan ilmu. Al-Qur’an menyeru kepada manusia untuk mempelajari ilmu pengetahuan sebagai jalan untuk mengetahui keberadaan Al-Haq dan realitas jagat raya. Perintah Al-Qur’an untuk mempelajari fenomena alam agar manusia memiliki ilmu pengetahuan merupakan salah satu manhaj Al-Qur’an dalam mendidik manusia.
Menurut As’ad di dalam The Message of the Qur’an sebagaimana dikutip oleh Untung dalam bukunya Muhammad Sang Pendidik (2005),  bahwa perintah simbolis “bacalah” ayat 1-3 Surat Al-‘Alaq dijelaskan bahwa manusia memiki kemampuan unik dalam melakukan transmisi (penerusan pesan). Selanjutnya bahwa pena (Al-Qolam) yang terdapat dalam ayat 4 menjadi sebuah simbol bagi seni menulis, atau lebih spesifik bagi seluruh pengetahuan yang dicatat melalui sarana tulisan. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa manusia dapat melakukan proses transmisi seluruh ilmu pengetahuan yang telah dan akan dimilikinya sepanjang dirinya mau melakukan aktivitas membaca dalam pengertian luas.
AKTIVITAS  MEMBACA

Aktivitas membaca memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan peradaban manusia, baik sebagai individu maupun kelompok. Membaca bukan sekedar mengucapkan kata-kata yang tertulis, tetapi membaca merupakan usaha mentransmisikan isi bacaan. Disamping itu, aktivitas membaca merupakan suatu upaya untuk memahami informasi yang berada di dalam sumber informasi, baik itu buku, majalah, surat kabar, maupun sumber-sumber lainnya. Selain memahami, aktivitas tersebut juga dimaksudkan untuk menginterprestasikan serta mengevaluasi suatu sumber informasi agar diperoleh pemahaman yang komprehensif. Melalui aktivitas membaca, maka seseorang akan dapat meningkatkan dan mengembangkan pikiran, cara berfikir, serta cakrawala pengetahuan. Sehingga pada akhirnya akan mampu merubah pola hidupnya sendiri atau masyarakat dimana mereka tinggal.
Membaca apabila dilakukan secara benar akan berdampak positip. Dampak positip itu diantaranya adalah memperlancar kepentingan studi, menambah pengetahuan dan informasi, serta dapat berguna untuk sarana rekreasi. Membaca untuk kepentingan studi memerlukan pemahaman, konsentrasi, dan ketelitian yang ekstra sehingga akan diperoleh suatu pengertian yang utuh tentang isi buku. Membaca untuk kepentingan studi membutuhkan waktu yang tidak sedikit, sebab materi yang dibaca pada umumnya sukar dipahami. Membaca untuk memperoleh informasi tentang profesi maupun usaha juga membutuhkan adanya konsentrasi, terutama bila informasi yang diperoleh berkaitan dengan surat-surat atau dokumen penting yang menuntut  ketelitian. Sementara membaca untuk keperluan rekreasi dilakukan guna mengisi waktu luang, dan memuaskan perasaan, serta imajinasi. Bacaan yang umum dibaca adalah sekitar novel, cerita, artikel ringan, serta bacaan-bacaan umum lainnya seperti surat kabar. Kegiatan membaca jenis ini dapat dilakukan dimana saja, baik itu di tempat tidur, di jalan-jalan, di dalam bus, di kantor ataupun sambil duduk-duduk di sebuah taman. Membaca untuk rekreasi dapat membuat manusia semakin manusiawi.
FILSAFAT MEMBACA
            Hal terbaik yang mesti dijaga dalam meniti kehidupan ini adalah agar pikiran kita selalu segar. Tidak peduli berapun usia kita apabila kita berhenti belajar berarti diri kita sudah tua, sedangkan jika selalu belajar maka kita akan tetap awet muda. Seperti halnya yang telah dikatakan oleh Henry Ford, pendiri General Motor, “Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty. Anyone who keeps learning stays young. The greatest thing in life is to keep your mind young”.
            Salah satu cara paling efektif untuk belajar adalah dengan membaca. Namun sayangnya sebagian besar kita tidak pernah punya waktu untuk membaca. Alasan utama yang sering kita sampaikan adalah kesibukan pekerjaan. Kita terjebak dalam suatu rutinitas dan tekanan pekerjaan sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengasah gergaji kita, seperti yang diceritakan oleh Stephen Covey dalam bukunya The 7 Habits of Higly Effective People. Suatu alur percakapan seseorang yang sedang terburu-buru menebang kayu di hutan.
“Apa yang sedang anda kerjakan? Tanya penggembara pada para penggergaji di hutan.
”Tidak dapatkah anda melihat?”. Jawab pengergaji hutan dengan tidak sabar. ”Saya sedang menggergaji pohon ini”.
”Anda kelihatan letih!”  seru penggembara, ”Berapa lama anda sudah mengerjakannya?”.
”Lebih dari lima jam,” jawabnya, ” dan saya sudah lelah! Ini benar-benar kerja keras.”
”Nah, mengapa anda tidak beristirahat saja beberapa menit untuk mengasah gergaji itu?” tanya pengembara. ”Saya yakin anda akan dapat bekerja jauh lebih cepat.”
”Saya tidak punya waktu untuk mengasah gergaji,” orang itu berkata dengan tegas. ”Saya terlalu sibuk untuk menggergaji.”
Lebih lanjut Covey berkata bahwa, kebiasaan mengasah gergaji merupakan kebiasaan yang paling penting. Kebiasaan ini mampu memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang kita miliki. Kebiasaan ini dapat memperbaharui keempat dimensi alamiah kita, yaitu dimensi fisik, mental, spiritual dan sosial / emosional.
            Filsafat membaca pernah juga diteladankan oleh Ketua Mahkamah Agung Amerika Serikat pada waktu pemerintahan Franklin D. Roosevelt menjabat sebagai presiden. Pada suatu sore hari Presiden Roosevelt mampir di rumah Tuan Holmes, seorang Ketua Mahkamah Agungnya. Pada waktu itu Holmes sedang sibuk membaca, tapi dengan senang hati ia menemui sang presiden. Ketika Roosevelt dipersilakan masuk, ia bertanya, “ Tuan Holmes, mengapa Tuan tak pernah berhenti membaca?”. Holmes yang waktu itu usianya sudah 90 tahun, menjawab, “Tidak ada jalan lain untuk meningkatkan diri saya”.
Holmes sadar bahwa pendidikan adalah proses yang berlangsung selama hidup. Orang tidak “menjadi terdidik” hanya karena pendidikan formal saja. Pendidikan formal hanyalah persiapan untuk menjadi terdidik. Untuk menjadi terdidik orang harus belajar terus sepanjang hidupnya.
Dari cerita tadi dapatlah dipetik suatu hikmah yang mendalam bahwa peningkatan diri itu harus diusahakan sendiri. Pada dasarnya, tidak ada orang lain yang dapat mendidik diri kita, selain diri kita sendiri. Sukses dalam studi dan belajar dapat dicapai berkat usaha gigih yang kita sendiri lakukan. Itulah sebabnya, Holmes membaca dan tidak merasa jemu atau jenuh melakukan aktivitas membaca dan selalu menjadikan aktivitas membaca sebagai sebuah gaya hidupnya.
 

*)   Asih Winarto, A.Md.
      Pustakawan Pelaksana Pelaksana
      Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang
     

Belajar Dari Acara “Minta Tolong”


Belajar Dari Acara “Minta Tolong”

Oleh : C. Tyas Wahyuning Hartati


            Senin, Selasa dan Rabu, seusai pulang kerja menjadi kebiasaan, keluarga dan sebagian masyarakat, untuk menyempatkan membaca koran sambil menunggu acara “Minta Tolong” di stasiun televisi swasta RCTI, setiap pukul 16.10 sampai dengan pukul 17.00 WIB, dikandung maksud untuk dapat membelajarkan keluarga dan anak-anak, agar mau mengerti makna kehidupan, kepekaan sosial, sekaligus menjadi pribadi yang dermawan.
Sebab, dalam teori kepribadian menyebutkan serangkaian ciri yang relatif tetap dan sebagian besar dibentuk oleh faktor keturunan, sosial, kebudayaan dan lingkungan, (H. Malayu S.P. Hasibuan, dalam Manajemen Sumber Daya Manusia, hal: 138). Berdasarkan teori kepribadian tersebut, layak untuk dijadikan renungan bagi kita untuk mengkondisikan keluarganya masing-masing.
Dalam acara tersebut ada sesuatu yang membuat kita trenyuh (Januari 2010), dikisahkan cerita anak putri belia belasan tahun yang diminta adiknya seusia 9 tahunan (setara kelas III SD) untuk dibelikan sepatu, pada hari ulang tahunnya. Karena keinginannya yang sangat kuat untuk memiliki sepatu, maka ia dengan rela membuka celengannya, ternyata uangnya belum seberapa. Artinya sangat kurang untuk mendapat sepatu sekolah warna hitam.
Secara umum, bagi keluarga berekonomi menengah ke bawah untuk mendapatkan sepatu anak SD berkisar antara dari empat puluh ribu-an rupiah hingga delapan puluh ribuan rupiah, sangat berat untuk terpenuhi di setiap tahunnya. Terlebih bagi seorang anak yang dikisahkan pada acara Minta Tolong tersebut.
            Kisah yang tergambar pada acara tersebut, kalau dicermati di sekeliling kita amatlah banyak keluarga yang belum mampu membelikan sepatu untuk anak-anaknya secara rutin di setiap semester (tengah tahun). Jangankan setengah tahun, bahkan sangat sering terjadi secara umum sepatu sekolah anak SD, SMP dipaksa dipakai hingga setahun, dua tahun bahkan sampai tiga tahunnan. Itulah realitasnya.
Dengan dalih mereka lebih mengutamakan kebutuhan lain, terutama kebutuhan perut sehari-harinya, sehingga berdampak cenderung abai terhadap kebutuhan sepatu anaknya yang dipergunakan aktivitas untuk bersekolah di setiap harinya. Maka pendidikan dasar murah (gratis) untuk keluarga miskin wajib adanya, disertai evaluasi dalam perjalanannya, dengan tujuan utama mengentaskan kebodohan sekaligus meningkatkan kualitas generasi bangsa.
Maka, bagi keluarga berekonomi menengah ke atas perlu dikaji atau ditinjau kembali supaya ikut berpartisipasi atau mensubsidi silang kepada keluarga miskin. Sebab sebagian cendekiawan berasumsi jika pendidikan dasar gratis diperlakukan untuk keluarga berekonomi menengah ke atas imbasnya pendidikan dasar akan semakin terpuruk kualitas lulusannya. Artinya hanya sekadar mencapai batas ambang, mengutip pernyataan dosen Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Sutama dalam perkuliahan 2009.
Pada sisi lain kita layak belajar, sekaligus berbangga kepada Endang Wahyuni, orang yang serba kekurangan, tetapi berhati mulia terbukti mau menolong anak penjual jajanan buah yang hendak bermaksud membelikan sepatu adiknya. Padahal Endang Wahyuni di kisahkan adalah seorang keluarga serba berkekurangan, yaitu tidak memiliki rumah. Karena rumahnya telah tergerus aliran sungai yang membawa harta benda tidak seberapa (bagi yang berekonomi menengah ke atas), sebaliknya harta benda perabot rumah tangga ember, panci, kompor dan sejenisnya adalah barang berharga bagi keluarga Endang Wahyuni tersebut.
            Pada sisi lain berikut, sebagian masyarakat kita berfoya-foya untuk membeli keperluan pulsa perbulannya hingga mencapai ratusan ribu rupiah lebih. Sedang sebagian masyarakat lainnya, yaitu sekelompok ayah dengan suka cita membeli rokok perharinya mencapai puluhan ribu rupiah, bila dihitung perbulannya dana membeli rokok bisa mencapai tiga ratus-an ribu rupiah.
Makna berkehidupan
            Belajar dari kisah Endang Wahyuni, layak diapresiasi positif, untuk mendapat tempat dihati masyarakat, yang peduli akan makna berkehidupan sebenarnya. Dengan harapan mampu menggugah rasa empati yang mendalam untuk mengoyak hati nurani kita, agar mau bersolidaritas, bersedekah, berdermawan terhadap sesama warga masyarakat yang ada disekelingnya.
Mampukah para pengambil kebijakan di bidang rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) untuk memberdayakan saudara-saudara kita yang serba berkekurangan tersebut? Luar biasa! Jika acara Minta Tolong mampu menyentuh hati nurani pemirsanya, sekaligus mengaplikasikan dalam tata kehidupan bermasyarakat dan bernegara di setiap harinya.
            Itulah segumpal pertanyaan yang layak dikedepankan dan diperdebatkan, agar mampu mengusik serta mengetuk hati nurani para pengambil kebijakan diantaranya para Menteri yang baru saja mendapat fasilitas mobil mewah, konon mencapai seharga 1,3 miliar, agar bersegera merealisasikan kepentingan sebagian besar masyarakat yang serba berkekurangan (miskin harta dan ilmu), karena termiskinkan dan terpinggirkan oleh ulah para koruptor.
Termasuk di dalamnya adalah ulah Artalyta Suryani, kemudian kasus mafia peradilan diantaranya diduga melibatkan Anggodo, kasus Bank Century yang disinyalir ada penyelewengan dana hingga mencapai 6,7 triliun yang sedang ditangani oleh panitya kusus (pansus) DPR RI, hingga sampai bulan ini belum diketahui ujung dan pangkalnya untuk mengungkap kebenaran atau ketidakbenaran dana triliunan yang disinyalir menguap tersebut.
Maka, bagi para oknum yang terlibat korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) harus dihukum seberat-beratnya. Tidak seperti yang terjadi pada era sekarang, disana tergambarkan sangat pincang. Contoh kasus Mbok Minah pencuri kakau, pencuri semangka (di Jawa Timur) dan sejenisnya yang dihukum sangat memberatkan dan menghebohkan. Namun sebaliknya hal tersebut tidak berlaku bagi para koruptor kelas kakap yang dihukum sangat ringan, bahkan sangat menyenangkan seperti di ”hotel berbintang lima.” Contoh kasus Artalyta Suryani, tersedia berbagai fasilitas mewah, mulai dari perawatan kecantikan, pendingin udara, kulkas, karaoke dan lain-lain.
            Lalu kapan kisah acara Minta Tolong pada tv RCTI segera berakhir, yang mengisyarakan gambaran kehidupan rill di masyarakat kita? Artinya warga masyarakat kita sudah mampu mencukupi kebutuhan dasar hidup di setiap harinya.

Anggota Perpustakaan dan Pengajar di SD Jatijajar 02 Kecamatan Bergas.
                                        
                                               

MENCETAK GENERASI CERDAS


MENCETAK GENERASI CERDAS
Oleh : Rina Puji Lestari  

            Membaca adalah kunci keberhasilan. Melalui aktivitas membaca akan dapat diperoleh banyak informasi tentang perikehidupan manusia. Disamping itu, aktivitas membaca ternyata dapat menambah wawasan yang luar biasa, dan juga mampu menghilangkan rasa kejenuhan di dalam hati. Namun, banyak diantara kita yang kurang dapat meluangkan waktu untuk aktivitas tersebut. Ironis memang, banyak diantara kita yang beranggapan bahwa aktivitas membaca adalah sebuah kegiatan yang sia-sia. Tidak banyak dari kita yang suka membaca. Mereka lebih senang ngerumpi di rumah tetangga alias ngegosip, dan pergi jalan-jalan untuk menghabiskan uang belanja. Mereka beranggapan bahwa membaca itu hanya buang-buang waktu saja. Padahal kalau kita sedikit mau berpikir ulang bahwa waktu yang dianggap terbuang itu adalah “kunci kesuksesan bagi kita dalam menata hari esok”. Bukankah dengan melakukan aktivitas membaca, maka kita akan banyak pula mengetahui berbagai hal kegiatan yang berada di luar baik diluar rumah kita maupun di luar lingkungan tempat tinggal kita.
            Faktor berkurangnya minat membaca di lingkungan kita ini salah satu diantaranya adalah kekurang fahaman kita akan manfaat membaca. Padahal sudah sering kali kita mendengarkan anjuran-anjuran untuk membaca, terutama dari Bapak dan Ibu guru. Membaca sangat bermanfaat bagi siapa saja, tidak hanya bagi mereka yang masih menuntut ilmu di bangku sekolah saja, namun demikian juga sangat penting untuk dilakukan oleh kaum hawa. Kita semua tentu mengalami dan juga sepakat akan pentingnya mendidik anak, dan ”Ibu adalah madrasah awal bagi anak-anaknya”. Bagaimana mungkin kita mendidik dan mengajar anak turun kita, apabila kita sendiri tidak mau belajar. Transfer ilmu pengetahuan tentunya akan dengan mudah dapat kita lakukan apabila kita banyak melakukan aktivitas membaca. Oleh karenanya, budayakan mulai sekarang  aktivitas membaca itu dalam lingkungan keluarga.
            Membaca merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kecerdasan emosi pada anak. Membaca dapat membentuk kepribadian, watak, akhlak, dan membangun kepribadian yang tentu lebih baik. Pendek kata, banyak sekali manfaat dari aktivitas membaca. Bukankah maju mundurnya peradaban suatu kaum banyak ditentukan oleh kiprah kaum hawanya. Tunggu apalagi, marilah kita tanamkan kebiasaan membaca sejak dini sebelum semuanya terlambat. Ada sebuah pepatah mengatakan,  ”Malas membaca akan mendekatkan diri pada kebodohan, dan kebodohan dekat kemiskinan”.  Padahal berada di tangan kita generasi penerus bangsa ini. Ayo, kita semua pasti bisa. “Ibu cerdas generasi penerus bangas cerdas”.
  
*)   Rina Puji Lestari seorang Ibu Rumah Tangga, tinggal di Desa Polosiri, Bawen, Kabupaten Semarang