Slogan kami

Redaksi Buletin Pustaka mengucapkan Selamat Hari Soempah Pemoeda, 28 Oktober 2013

Rabu, 12 Oktober 2011

Buku Mengusung Peradaban


Buku Mengusung Peradaban
*/ Rifka E.

Juara III Lomba Penulisan Artikel Tk. SMA/K/MA
yang diselenggarakan dalam rangka Pameran Buku Murah Kab. Semarang 2011


Di Era Modern ini, dengan adanya perkembangan teknologi canggih, beberapa orang menganggap bahwa buku adalah sesuatu hal yang kuno. Kini jarang menemukan orang yang membaca, karena mereka menganggap membaca adalah satu kegiatan yang membosankan. Dari pada membaca buku lebih baik menonton TV, begitulah yang diucapkan sebagian besar orang. Padahal buku menyimpan sejuta mannfaat untuk pembentukan karakter kepribadian manusia.
Buku merupakan jembatan ilmu untuk membuka cakrawala dunia. Apabila kita ingin mengetahui keadaan, kebudayaan, tradisi suatu wilayah atau negara kita tidk perlu pergi kedaerah tersebut hanya jika hanya ingin tahu. Cukup dengan membaca buku kita dapat berselancar ke belahan dunia yang kita inginkan.
Buku dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu fiksi dan nonfiksi. Fiksi yang merupakan buku-buku cerita seperti novel, cerpen, cerita bersambung dan lain sebagainya. Sedangkan buku nonfiksi ialah buku berisi ilmu pengetauan bagi kita, seperti buku pelajaran, teknologi, sejarah dan lain-lain. Meskipun jenis buku tersebut berbeda-beda, tetapi buku mempunyai tujuan yang sama yaitu memberikan informas, ilmu pengetahuan agar pembacanya dapat mengetahui hal-hal yang belum diketahuinya.
Selain pengetahuan yang didapat dari buku cerpen misalnya, kita akan mempelajari sifat atau watak tokoh-tokohnya. Juga bisa kita ambil amanat, hikmah dan teladan bagi kita. Secara tidak sengaja, buku akan mampu mengubah serta membentuk karakter maupu nkepribadian kita. Yang tidak kalah pentingnya, buku melatih kita untuk sabar dan terus berkonsentrasi.
Buku pelajaran juga mampu memberikan banyak informasi dan pengetahuan. Meskipun buku nonfiksi sedikit membosankan tetapi tanpa buku jenis nonfiksi tersebut, manusia zaman sekarang belum tentu mempunyai pengetahuan sampai semaju sekarang ini.
Waktu luang yang kita meiliki dapat diisi dengan membaca buku, apabila satu jam saja dalam sehari kita bisa membaca buku, berarti kita mendapatkan pengetahuan 10 kali lipat dibanding orang yang tidak membaca buku.
Buku-buku tebal, tanpa gambar hanya berupa tulisan mungkin menjadi penyebab mengapa banyak yang enggan membaca buku. Selain alasan pusing saat membaca, tidak ada waktu, dan sifat malas. Padahal hal tersebut adalah penyebab rendahnya sumber daya manusia, sehingga negara kita menjadi negara yang terus menerus di level negara berkembang.
Ada beberapa sikap dan cara agar tidak bosan dalam membaca. Sabar, telaten, tekun, gigih dan juga sungguh-sungguh. Kelima sikap itu akan mengubah perasaan kita saat membaca bukuyang membosankan itu. Selain bisa juga melakukan aktifitas ringan pada saat membaca buku, yaitu diselingi dengan ’ngemil’ atau makan makanan ringan, mendengarkan musik dan lain sebagainya.
Saat ini, dengan mewabahnya internet, banyak orang lebih memilih menggunakan internet, dengan keunggulan yang instant saat mencari sebuah informasi. Akan tetapi internet juga memiliki keterbatasan, berbeda dengan buku yang bisa dibawa kemana-mana dan tanpa alat tambahan untuk membaca. Buku adalah guru yang sabar, hanya menunggu untuk dighargai dengan cara dibaca. Buku juga tidak pernah mengeluh meskipun kadang-kadang buku diperlakuakan tidak layak.
Buku dapat mengubah kualitas Sumber Daya Manusia menjadi lebih baik, menyejahterakan kehidupan dengan hasil baca buku yang dipraktekkan. Kama untuk merubah dan menjadukan hal itu menjadi kenyataan, mulai dari sekarang kta harus membudayakan gemar membaca. Sayangi buku, dengan membaca buku itu sendiri. Dengan membaca buku, kita meneruskan peradaban manusia ke anak cucu kita nantinya.
Manfaat yang lain, dengan membudayakan membaca, masyarakat yang gemar membaca menjadikan negara kita menjadi negara yang lebih maju dan lebih baik. Jadi jangan pernah memiliki rasa malu saat kita membaca buku, hilangkan ras bosan ketika kita membaca buku, karena sesungguhnya buku adalah jembatan ilmu pengetahuan bagi kita.


*/  Siswa SMA N 1 Bringin


Buku Cermin Kejayaan Bangsa


Buku Cermin Kejayaan Bangsa
*/ Elvina Laela M.

Juara II Lomba Penulisan Artikel Tk. SMA/K/MA
yang diselenggarakan dalam rangka Pameran Buku Murah Kab. Semarang 2011


jika ingin menghacurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah”
Kalimat emas yang dituturkan oleh Milan Kundera, seorang novelis asal Ceko benar-benar menjadi sebuah kunci kejayaan suatu bangsa. Buku yang saat ini hampir terkalahkan oleh perkembangan teknologi (yang sebenarnya peran buku dalam perkembangan teknologi sebagai perantara) adalah sebuah mahkota untuk tampil di singgasana dunia. Dengan tampilan yang beranekaragam dan ’content’  yang bervariatif, teknologi baru seperti HP, I-Pad, I-Pod, Tablet, Netbook, dan lain sebagainya semakin berkembang dan memunculkan inovasi yang baru, sehingga membuat orang penasaran.
Sedangkan buku, benda ini hanyalah sekumpulan kertas, atau dalam bahasa arab ’kitab’ (buku) adalah kumpulan dari lembaran-lembaran.
Sudah sejak lama, sesungguhnya orang mengenal benda berbentuk buku yang biasanya berukuran 15 x 25 cm ini. Pada zaman kuno, sebelum masehi, banyak ditemukan perpustakaan – perpustakaan pribadi yang isinya lebih dari 10.000 buku. Seperti di Athena dengan adanya bukti banyaknya perpustakaan di sana, menunjukkan bahwa bangsa yunani meiliki peradaban tinggi.
Sesudah itu, negara-negara Islam pada msa Khalifah Yazid bin Muawiyah juga menulis berbagai buku yang bersumber dari pengetahuan bangsa lain serta tidak lupa mengabadikan sejarah bangsa mereka dalam bentuk buku. Kemudian pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, beliau memerintahkan rakyatnya untuk mengumpulkan dan membukukan hadist yang mereka temukan. Karena pada masa sebelumnya, hadist dan ilmu lain yang ada masih ditulis pada selembar daun atau kulit binatang.
Pada saat itu buku memang sangat berharga, bahkan karena berharga pula, buku yang mereka miliki ada yang dirantai dan digembok di dalam almari yang dikunci. Buku yang terbuat dari kertas, dengan coretan tinta dan huruf alfabet yang disusun sedemikian rupa ini ternyata sama berharganya dengan emas berlian (pada masa itu).
Menghancurkan sebuah buku, itu berarti menghancurkan benda berharga bangsa mereka, seperti halnya bangsa mongol yang menyerang suatu bangsa dengan membinasakan manusianya saja, tapi juga memusnahkan buku-buku bangsa tersebjt dengan cara dibakar. Ada pula buku yang dibuang ke sungai, sehingga air sungai menjadi kehitam-hitaman karena begitu banyaknya buku yang dibuang di sungai bercampur dengan darah manusia. Buku yang sudah dibakar sebelumnya disalin isinya.
Penguasa Spanyol juga pernah melakukan eksekusi besar-besaran terhadap buku-buku di Andalusia lebih dari satu juta buku dibakar, namun untuk menjaga supaya ilmu tidak hilang, buku yang tadi disalin terlebih dahulu.
Sementara itu, sebuah drama di satu stasiun televisi swasta, ada cerita dimana terjadi pertarungan sengit antar menteri hanya karena sebuah buku. Pseorang petinggi negara tersebut mengkhianati kerajaan dengan memberikan sebuah buku tentang catatan perbatasan kepada petinggi negara lain. Motifnya. Mereka sama-sama tergila-gila akan kekuasaan. Pengkhianatan yang mereka lakukan sama sekali tidak diketahui oleh raja dari kedua belah pihak. Kelicikan mereka terbongkar oleh seorang selir dari istana pemilik buku catatan tersebut. Karena kemarajhan raja, hampir terjadi perang. Perang yang hanya disebabkan sebuah buku.
Bangsa kita sendiri, sebagai bangsa yang memiliki ketersanjungan tinggi terhadap buku. Para pemimpin negara ini adalah mereka yang semuanya gemar membaca buku. Bung Karno, Proklamator dan Presiden I kita, beliau sangat menyukai buku, yang menuruh hemat Bung Karno buku bukanlah monolog, tapi sebuah dialog. Buku mampu berdialog dengan kita, berdialog dengan berbagai macam orang dari semua belahan dunia. Hanya melalui buku pula, Bung Karno mengemukakan bahwa dirinya berdialog dengan penulis terkenal.
Lain lagi dengan Adam Malik, wakil preiden RI yang ke-3 ini juga luar biasa. Beliau hanya lulusan SD. Tapi karena ketekunan dan semangat membaca, beliau sanggup menjadi orang hebat dan terkemuka.  Kecintaan Bapak Adam Malik kerhadap buku dan Ilmu Penegtahuan melebihi orang lain, bahkan mungkin bisa melebihi kecintaan roman ”Romeo-Juliet” nya william Shakesspare. Ketinggian ilmu Bapak Adam Malik bahkan lebih tinggi dari ilmu seorang sarjana, semua itu hanya disebabkan oleh buku.
Banyak lagi tokoh bangsa kita yang lain, seperti Bung Hatta, Gus Dur, B.J. Habibie dan sebagainya, mereka amat mencintai buku. Bahkan presiden kita yang saat ini memimpin juga hemar membaca. Hal tersebut bisa dilihat dari beberapa buku yang telah diterbitkan, karena menulis buku berarti membutuhkan kegemaran membaca buku.
Dalam membaca buku, saat ini sepertinya minat membaca masyarakat sangat rendah. Dari pada membaca buku banyak yang memilih untuk menunggu difilmkannya cerita didalam buku tersebut. Padahal buku serasa seperti menuliskan sesuatu yang kita inginkan diatas  air sungai yang mengalir deras. Kita ingin mengetahui  isi dari buku tersebut, tapi untuknya membukanya saja enggan, keinginan untuk mengetahui isinya hanya sebatas keinginan saja.
Membaca buku mungkin saja lebih sulit dibandingkan dengan menonton film atau bermain game, tapi coba kita cermati, akan lebih banyak tentang manfaat dari nuku itu sendiri. Kita akan belajar konsentrasi dan fokus pada suatu masalah. Dalam membaca buku kita hanya butuh duduk santai dan perhatian kita tertuju pada buku yang kita baca. Mungkin juga ditemani secangkir kopi dan makanan ringan akan terasa nyaman.
Buku mungkin hanyalah benda yang menambah berat di dalam tas ransel kita, mungkin juga hanya ungkapan pemikiran dari seseorang. Tapi itulah buku, isinya manambah pengetahuan kita. Sifatnya mencerdaskan kita, jagalah buku dan ilmu yang ada didalamnya akan menjaga hidupmu. Ingatlah betapa besar perjuangan bangsa, bahkn dibayar nyawa hanya untuk menjaga dan mempertahankan buku beserta pengaetahuan yang ada didalamnya.
*/  Siswa SMA N 1 Getasan


Belajarlah dari Jepang


*\Didi Ariyanto


Suatu kebiasaan yang ingin saya tumbuhkan adalah kecintaan kepada buku. Tidak hanya diri saya, namun saya juga berharap bahwa orang-orang disekitar kita bisa menyukai kegiatan membaca. Jangan sampai keadaan miris terjadi di perpustakaan. Seperti misalnya pengunjung yang sedikit.
Kadang ada anak SD yang lebih banyak bermain (baca:gojek) di dalam perpustakaan ketimbang duduk membaca. Perpustakaan dengan ribuan judul buku kok sepi pengunjung? Kondisi perpustakaan yang sepi berbanding terbalik dengan tempat-tempat seperti Playstation, kolam renang, bioskop dll. Lebih dari 100 orang, separuhnya anak-anak bermain-main di tempat yang katanya “arena ketangkasan” video game. Untuk bisa menikmatinya, pengunjung harus merogoh kocek kurang lebih Rp 2.000/jam. Bagi yang membawa kendaraan harus membayar parkir. Padahal masuk perpustakaan gratis.
Aneh bin ajaib. Orang lebih senang bermain-main ketimbang menghabiskan waktu dengan membaca. Hemat saya, Membaca buku bisa mengubah pola pikir seseorang untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan. Membaca buku juga bagian dari proses pendidikan bagi pembacanya. Hanya saja, sebagian besar kegiatan membaca selama ini kerap diterima sebagai kewajiban atau keharusan. Hal itu dikatakan pakar pendidikan Arief Rachman. Menurutnya, orang tua dan guru harus terlibat aktif menumbuhkan minat baca di kalangan anak dan siswa.  Jangan biarkan anak menonton tayangan televisi yang tidak jelas.
Menyalahkan anak dan siswa saja tentu tidak bijak, apabila orang tua dan guru tidak memberikan teladan. Sangat indah ketika kita menyaksikan anak-anak sejak dini sudah dibiasakan untuk membaca. Membaca buku erat kaitannya dengan menulis. Keduanya adalah elemen yang saling mendukung dan tidak dapat dipisahkan. Menulis tanpa membaca ibarat orang buta yang sedang berjalan. Artinya, dalam proses penulisan, seseorang akan mengalami banyak kesulitan, tertatih-tatih dan sekali berjalan lantas berhenti karena tidak tahu tujuannya. Sementara itu, membaca tanpa menulis ibarat orang pincang.
Pengetahuan yang kita miliki tidak dimanfaatkan untuk kepentingan banyak orang. Karena ilmu pengetahuan yang tidak dikembangkan dan disampaikan kepada orang lain secara lisan atau tulisan terasa kurang memberikan makna dalam kehidupan.
Membaca tidak lain adalah supplement food atau energy drink bagi para penulis. Kalau ada penulis yang mengaku bisa produktif tanpa membaca sama sekali, hemat saya ada dua kemungkinan. Pertama, ia memang sudah mencapai tahap ‘manusia guru’ atau manusia setengah dewa. Kedua, ia berbohong, dan ini rupanya lebih masuk akal. Menulis bisa gampang kalau suplai informasi ke otak dan batin kita memadai. Proses pemasukan informasi itu berasal terutama dari aktivitas membaca. Membaca berarti memberi makna.
Dengan membaca kita menafsirkan teks sekaligus belajar memahami konteks. Kita mencoba memahami apa yang tersurat sekaligus apa yang tersirat. Ini menjadi bagian pemulihan energi untuk penulis. Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku, kita menimba banyak manfaat. Membaca itu memperluas wawasan dan memperkaya perspektif kita, memperoleh banyak solusi atas berbagai masalah yang dihadapi, mengatasi trauma atau frustrasi, memadukan kerja pikiran sadar dan tidak sadar. Selain itu, membaca berarti mengolahragakan pikiran dan menimba kesegaran baru.
 Sudah saatnya budaya membaca itu menjadi budaya kita. Anak-anak dilatih untuk membaca dan mencintai bacaan sejak dini. Perpustakaan yang ada di mana-mana bukanlah museum bagi buku-buku bacaan. Itu universitas rakyat, seperti moto perpustakaan umum di daerah-daerah. Ada banyak buku menarik dan berguna di perpustakaan-perpustakaan kita yang ada saat ini.
Namun, tak ada artinya jika tidak dibaca. Benar kata-kata Joseph Brodsky, pengarang asal Rusia: “Ada beberapa kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membaca buku.” Bahkan ada anekdot satir untuk kita: “Kalau orang Jepang tidur sambil membaca, sedangkan orang Indonesia membaca sambil tidur.” Kita bisa belajar dari orang-orang Jepang. Budaya membaca di Jepang terkenal di seantero dunia bahkan hingga detik ini cukup banyak orang Jepang yang membaca (entah komik/novel/koran /majalah) di dalam kereta api listrik yang sedang melaju dengan kencang. Pemandangan membaca di dalam kereta api listrik (bahasa Jepang : densha) adalah pemandangan yang tak aneh lagi.
Bahkan sambil berdiri pun mereka tetap membaca tanpa sedikitpun terganggu. Biasanya para penumpangnya jarang mengobrol, mereka sibuk membaca baik koran atau komik, bermain HP, ataupun mendengarkan musik. Itu yang biasa kita lihat, lumrah tidak berlebihan, namanya juga Jepang, budaya membacanya sudah mendarah daging.
Rakyat Jepang sadar bahwa harus mampu bangkit dari keterpurukan (pengeboman Hiroshima & Nagasaki). Jepang memang harus diakui sumber daya alam (SDA) sangat minim, akan tetapi untuk sumber daya manusia (SDM) boleh dibanggakan. Terbukti hampir 99 % rakyat Jepang melek huruf. Tidaklah mengherankan Jepang mampu bangkit kembali dari kehancuran di tahun 1945. Masyarakat membaca (reading society) bisa dimulai dari kebiasaan membaca. Mencintai buku adalah awal dari kebiasaan gemar membaca.
Akhirnya pertanyaan terakhir dari saya adalah “Sudahkan Anda membaca hari ini?” Wassalam.
Karyawan PT TKPI Temanggung
Anggota TBM Nurul Fatah Gemawang




SAYEMBARA PENULISAN CERITA ASAL USUL DESA/DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2011


SAYEMBARA PENULISAN CERITA ASAL USUL DESA/DAERAH
KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2011

Dalam rangka Bulan Gemar Membaca yang jatuh pada bulan September serta Hari Kunjung Perpustakaan tanggal 14 September, BULETIN PUSTAKA menyelenggarakan sayembara penulisan cerita asal usul desa/daerah dengan maksud melestarikan budaya di Kabupaten Semarang agar tidak menghilang sehingga tetap dapat dinikmati generasi mendatang.
Ketentuan :
1.     Umum, Terbuka bagi siapa saja.
2.     Cerita terkait asal usul desa (suatu daerah) di Kabupaten Semarang/ legenda yang berkembang di masyarakat.
3.    Naskah yang dikirim adalah bukan karya hasil karya orang lain dan belum pernah dipublikasikan.
4.     Naskah diketik dengan format Times new Roman ukuran 12, spasi 2 dan ukuran kertas A4, dengan maksimal kertas 4 lembar
5.     Naskah dikirim ke Seksi Pengembangan Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang, Jl. Pemuda No. 7 Ungaran, disertai dengan softcopynya atau bisa lewat email ke : perpusung@yahoo.co.id dengan subyek: sayembara
6.     Batas Waktu pengiriman naskah tanggal 20 Desember 2011
7.     Naskah yang diambil sebanyak 10 Naskah.
8.  Setiap naskah cerita rakyat yang lolos akan mendapatkan hadiah berupa uang pembinaan dan piagam penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Semarang.
9.     Naskah akan dipublikasikan lewat Majalah Buletin Pustaka.
Informasi selengkapnya : SMS Nomor 081805803200.



Minggu, 02 Oktober 2011

PERPUSTAKAAN DESA WONOKROMO Kec. Pleret Kabupaten Bantul Yogyakarta


Liputan
PERPUSTAKAAN DESA WONOKROMO
Kec. Pleret Kabupaten Bantul Yogyakarta


Pleret.. apa yang terlintas di benak pembaca Buletin? Kalau belum tahu, Pleret merupakan kota bersejarah, dulunya merupakan ibukota kerajaan Mataram Islam. Tentunya banyak hal menarik yang masih tersimpan dan belum ditemukan di Pleret. Banyak peninggalan yang mungkin masih terpendam di Pleret. Sementara itu di Desa Wonokromo ada yang membuat kita sejenak untuk berpaling… bukan peninggalan Kerajaan Mataram Islam yang berupa Candi/Prasasti/petilasan atau bangunan sejarah yang lain. Tapi Gedung Perpustakaan Desa Wonokromo Pleret Kabupaten Bantul.


Bapak Sekdes Didampingi Tokoh Desa Wonokromo
 
Bersama para peserta Bimbingan Teknis Pengelola Perpustakaan Desa Tahun 2011, yang berjumlah 30 orang, pada 14 April lalu Buletin menyambangi perpustakan desa ini. Diterima oleh para jajaran pimpinan Desa Wonokromo, kami mendapatkan sambutan yang hangat. Dialog ringan, bersahabat namun sangat bermanfaat terjadi saat acara ramah tamah. Dengan gamblang, Bapak Riyanto Sekretaris Desa Wonokromo, mewakili Bapak Kades yang sedang berhalangan, beliau menjelaskan dengan penuh semangat dan bangga untuk membagi pengalaman dalam mengembangkan dan mengawal kehidupan perpustakaan Desa Wonokromo ini .

 
Berdiri sejak tahun 2003 tepatnya pada tanggal 1 September, dengan rintisan dari tokoh masyarakat dan difasilitasi sepenuhnya oleh pihak pemerintah desa. Mulai saat itu Perpustakaan Wonokromo bergeliat memberikan ilmu pada masyarakat. “Ketika perpustakaan mulai berkembang, pada 2006 yang lalu Gedung Perpustakaan Desa kami ikut terkena efek gempa, perpustakaan yang kami bangun waktu itu hancur”, Jelas Bapak Sekdes. “Tapi kami tak patah arang, sedikit demi sedikit, perpustakaan kami benahi, karena kami menyadari sepenuhnya kegunaan bagi masyarakat desa kami,” lanjut Bapak Riyanto. “Terwujudnya perpustakaan desa sebagai pelayan masyarakat dalam mendukung terciptanya masyarakat yang berpengetahuan, adalah visi dari Perpustakaan Desa Wonokromo,” Jelas Bapak Riyanto.
Pemerintah Desa mendukung sepenuhnya pengelolaan dan pengembangan perpustakaan desa, hal itu dibuktikan dengan support dalam bentuk dana sebesar Rp. 4.000.000,- pertahun  yang diambil dari Dana Alokasi Desa.Selain dukungan langsung ke perpustakaan melalui DAUD, cara kami yang lain untuk menghidupkan perpustakaan adalah dengan mengangkat pengelola utama perpustakaan menjadi perangkat desa kami,” urai Bapak Riyanto. Seperti yang diceritakan oleh Bapak Riyanto atas kesepakatan di musyawarah desa dengan ditetapkan melalui kebijakan desa. Pengelola Perpustakaan diangkat menjadi perangkat desa, dengan jam kerja pagi di kantor desa (jam 7 – 9) kemudian siang harinya bertugas di Perpustakaan.
Dalam acara penyambutan peserta kunjungan ini, juga diadakan sesi tanya jawab, antusiasme peserta terlihat dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan, terutama keingintahuan peserta mengenai proses awal berdirinya, kendala serta bagaimana mengatasi hambatan yang dihadapi. Ada juga peserta yang bertanya mengenai cara untuk tetap bersemangat dalam mengelola perpustakaan ditengah berbagai kesulitan yang dihadapi. Karena rasa penasaran, ada juga peserta kunjungan yang usul untuk secepatnya meninjau secara langsung aktifitas, dan keadaan perpustakaan Desa Wonokromo.

 
Perpustakaan Desa Wonokromo berada di Desa Wonokromo Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul. Letak Perpustakaan Desa Wonokromo sangat strategis, berada di perempatan jalan, diseberangjalan berhadapan dengan MAN Wonokromo, 100 meter dari Kantor Desa Wonokromo, dan Bersebelahan dengan Pasar Jejeran Wonokromo.
Perpustakaan Desa Wonokromo buka dari jam 08.00 sampai dengan jam 13.00 WIB setiap hari Senin – Jumat. Karena tempat yang strategis pula, pengunjung Perpustakaan Desa mudah untuk mengakses ke Perpustakaan. Bahkan menurut pengelola perpustakaan. Ibu Siti Fathonah “ Perpustakaan Desa Wonokromo selalu menjadi “jujugan’ siswa setelah pulang sekolah. Masih menurut Ibu Siti Fathonah jumlah rata-rata Pengunjung perhari mencapai 30an orang.
Koleksi yang dimiliki Perpustakaan Desa Wonokromo sampai awal 2011 ini tidak kurang dari 5000 eksemplar, yang terdiri dari buku, majalah, Koran dan audio visual. Pengadaan bahan pustaka di Perpustakaan Desa Wonokromo rutin tiap tahun dengan pembelian, selain itu ada juga dari sumbangan masyarakat. “Kami juga memperoleh bantuan dari Kedaulatan Rakyat Langganan Gratis berupa surat kabar yang ditempel di papan baca, yang terletak di depan gedung perpustakaan, yang juga berasal dari bantuan dari surat kabar tersebut,” jelas Ibu Siti Fathonah.
Untuk mengenalkan perpustakaan kepada warga masyarakat, Perpustakaan Desa Wonokromo memiliki kader dari dusun-dusun yang ada di Desa Wonokromo (17 dusun), sebagai sukarelawan perpustakaan, yang selalu siap apabila perpustakaan membutuhkan tenaga. Selain itu juga dilakukan sosialisasi perpustakaan pada saat pertemuan di kegiatan kelompok masyarakat.
Peserta Kunjungan mencoba menggali informasi mendalam
 
Berkat bantuan dari Perpustakaan Umum Kabupaten Bantul, Perpustakaan Desa Wonokromo memiliki layanan perpustakaan keliling. Layanan ini menggunakan motor pintar yang merupakan pinjaman dari Perpustakaan Umum Kabupaten Bantul, selain meminjamkan motor, perbulan juga meberikan subsidi BBM untuk mobilitas Motor pintar. Sementara ini, motor pintar hanya mendatangi posyandu - posyandu di 12 dusun, dikarenakan keterbatasan koleksi buku.
”Saat meninjam, pengunjung tidak dikenai biaya, hanya pada saat pendaftaran calon anggota perpustakan membayar RP. 2.000,- ,serta Rp.100,- apabila terlambat mengembalikan buku pinjaman. Lama peminjaman 7 hari dan dapat diperpanjang sampai dengan 2 minggu. Biaya yang timbul tersebut sematamata bukan tujuan profit bagi perpustakaan, hanya sebagai efek/sugesti untuk kebaikan perpustakaan, dengan rasa disiplin dari pengunjung. Juga bermanfaat untuk menambah serta merawat koleksi, “urai Ibu Siti Fathonah.
Apabila tertarik dan berniat berkunjung atau hanya sekedar berkorespondensi dengan Perpustakaan Desa “Wonokromo” dengan alamat, Jl. Imogiri Timur Km.8 Wonokromo Pleret Kabupaten Bantul. Telepon 0856 4368 2321. (\*Bambang)