Slogan kami

Redaksi Buletin Pustaka mengucapkan Selamat Hari Soempah Pemoeda, 28 Oktober 2013

Rabu, 12 Oktober 2011

Meningkatkan Minat baca Via Facebook…


Meningkatkan Minat baca Via Facebook…
*\ M. Adib Choirudin

Bukan sekedar satus facebook biasa, tapi berbobot dengan kosakata yang bermakna, dengan pilihan kata yang indah….
Berbicara tentang facebook berarti berbicara tentang gaya hidup. Semenjak diluncurkan, jejaring sosial ini telah digunakan tidak kurang dari 600 miliar orang di seluruh pelosok dunia (per Januari 2011). Sehingga saat ini facebook merupakan layanan jejaring sosial di internet yang paling banyak digunakan. Sampai adanya anggapan yang berkembang, “bila tidak ingin gaptek harus punya akun di Facebook”.
Adalah Mark Zuckerberg, renmaja kelahiran 14 Mei 1984 di kota New York yang membuat facebook ini. Mahasiswa jurusan ilmu komputer di Havard University awalnya membuat prototipe jejaring sosial dengan nama facemash. Yang kala itu dimaksudkan untuk situs jejaring pencarian jodoh. Caranya dengan menempelkan 2 foto yang berbeda pada situs facemash. Kemudian para pengguna dapat memilih atau memberikan keterangan mengenai foto . yang dipajang tersebut dengan kata “baik” atau “jelek”. Untuk memperbanyak data, Mark kemudian meretas kebagian administrasi di Havard University.
Sempat tersandung masalah karena perbuatannya meretas data tersebut, dan hampir dikeluarkan dari tempatnya kuliah di Harvard University, namun kreatifitas Mark Zuckerberg tidak pernah berhenti. Dia terus memperbaiki facemash. Singkat cerita, kemudian muncullah situs facebook yang menjadi fenomena di dunia itu. Sebagai informasi, di Indonesia sudah lebih dari 700 juta pemakai facebook, dan ini menempatkan Indonesia menjadi urutan kedua terbanyak pengguna facebook setelah Brasil.
Minat baca masyarakat Indonesia
Melihat aspek minat membaca masyarakat Indonesia dapat dilihat dari berbagai data/aspek. Data yang dikeluarkan oleh United Nation Development Program (UNDP) bahwa angka melek huruf masyarakat 87,7%. Angka melek huruf ini diartikan sebagai ukuran masyarakat mengerti dan mengetahui bunyi/suara dari serangkaian kata.
Yang lebih miris, survai Unesco menempatkan Indonesia sebagai Negara dengan minat baca terendah (Republika:Rabu/26-06-11). Sementara itu Organisasi pengembangan kerjasama ekonomi (OECD) menyatakan bahwa budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 Negara dari 52 negara dikawasan Asia Timur (Kompas, 18 Juni 2009). Dan data menurut  International Association for Evaluation of Education Achievment tahun 1998-2011 Indonesia beradapada posisi terakhir dari 35 negara yang di teliti.
Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia , bukannya tanpa ada usaha dari masyarakat itu sendiri untuk mengatasinya. Mulai dari pemerintah, praktisi pendidikan, LSM maupun banyak yang membuat program membaca/ membuat perpustakaan, mengadakan pameran buku. Tentunya usaha tersebut patut mendapat apresiasi dan dukungan, karena tentunya hasil yang akan dicapai dapat terlihat beberapa dasawarsa ke depan.
Meningkatkan minat baca via facebook
Melihat banyaknya pengguna facebook di Indonesia, bias menjadi sarana meningkatkan minat baca. Karena membuat status di facebook yang bagus memerlukan penguasaan kosakata yang bagus, kosakata akan diperoleh dari kebiasaan membaca. Dalam meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia, dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Misalnya seorang guru (bahasa Indonesia) membuat satu grup didalam facebook, dari grup tersebut para siswa diajak berdiskusi mengenai satu permasalahan yang bersumber dari buku yang sudah ditugaskan untuk dibaca terlebih dahulu.
Semacam resensi/ komentar buku yang kemudian didiskusikan, agar diskusi menarik, harus pula dipilih buku yang berkualitas pula, agar saat didiskusikan dengan grup facebook tersebut anggota grup menjadi tertarik untuk membaca. Tentunya masing masing anggota grup diwajibkan untuk membaca buku berbeda-beda. Berbagai macam buku yang didiskusikan, nantinya juga akan melatih para siswa untuk mengungkapkan hasil baca mereka menjadi komentar/ diskusi yang menarik. Tentunya cara tersebut hanyalah salah satu cara untuk kita memanfaatkan tren facebook mania yang booming ini. Jadi dengan demikian menggunakan facebook dengan pintar, tidak sekedar ikut-ikutan atau gaya hidup saja tapi sudah menjadi proses peningkatan diri melalui membaca.
Semoga beberapa tahun kedepan, bangsa kita tidak menjadi bangsa yang selalu menjadi nomor buncit ketika masyarakat di teliti kegemaran membacanya.
Siswa SMK N I Tengaran


Mengenang Dauzan Farook “Si Pejuang LITERASI”


Mengenang Dauzan Farook “Si Pejuang LITERASI”
Mengabdi Total Lewat Perpustakaan MABULIR

Dauzan Farook
 Jam belum menunjukkan pukul 10.30 saat Dauzan Farook (79), pemilik perpustakaan Mabulir -yang tengah duduk di sofa usang di ruang tamu yang menjadi satu dengan perpustakaannya-menyapa kami. Ia baru saja bangun dari tidurnya. Senyum tuanya mengembang. “Maaf, tadi sudah kemari ya ?” sapanya.
Pria yang kerap dipanggil Pak Farook atau Pak Dauzan Farook ini memang terbiasa tidur kembali setelah menjalankan ibadah shalat subuh. Namun, sebelum tidur kembali, ia biasa terlebih dulu mempersiapkan buku-buku lama yang akan diperbaiki karyawannya. Maklum, usia lanjut menuntutnya untuk cukup istirahat. Meski tidak terlalu berat, pekerjaan nya menyita waktu dan tenaga. Menjelang siang, ia kembali bergelut dengan buku-buku koleksinya yang mencapai 5.000 buah lebih. Belum lagi jika ditambah dengan majalah yang jumlahnya hampir sama. Sore harinya, seusai shalat ashar, ia kembali disibukkan dengan berkeli ling, mengunjungi peminjam yang tersebar di sekitar kota Yogyakarta. Aktivitas nya berlanjut pada malam hari, saat Dauzan biasa pergi ke pasar buku-buku bekas untuk membeli buku-buku guna menambah koleksinya. Aktivitas Dauzan Farook memang tidak bisa dilepaskan dari perpustakaan. Rumahnya yang berada di sebuah gang sempit di Kampung Kauman, kota Yogyakarta, mudah dikenali. Dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain, rumahnya kelihatan paling mencolok. Di dindingnya terpasang majalah dinding dan juga nama Mabulir, singkatan dari Majalah dan Buku Bergilir.
 Di perpustakaan itu memang peminjam dapat memilih, membaca, sekaligus meminjam buku untuk dibawa pulang secara bergiliran. Semuanya tanpa dipungut biaya. “Saya tidak menarik sepeser pun dana dari peminjam. Walaupun saya selalu defisit setiap bulan untuk membiayai operasional perpustakaan ini,” jelasnya.Sebaliknya, peminjam hanya diwajibkan menjaga koleksi buku-buku tersebut melalui doktrin yang ia berikan dalam label “Amanat Umat, yang berarti  dari umat, oleh umat, dan untuk umat”. Apabila peminjam menghilangkan atau merusakkan buku, berarti mereka telah merugikan orang banyak (umat). Keyakinan seperti itu terus dijaganya hingga saat ini. “Kami juga tidak menuntut mereka untuk mengembalikan. Berdasar kesadaran, biasanya mereka sendiri yang menggantinya dengan buku lain apabila ada yang hilang. Kalau mereka susah mengembalikan, saya yang harus datang mengambil ke tempat tinggal mereka,” tambahnya. Upaya mendatangi peminjam bukan saja untuk mengambil buku, melainkan juga memin jami. Ia rela berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan tujuan peminjam dapat memperoleh buku untuk dibaca. Sebagian besar peminjam buku di Perpustakaan Mabulir adalah orang dewasa. Namun, tidak sedikit pula anak-anak muda. Mereka umumnya remaja masjid, penghuni asrama, masyarakat umum, hingga tukang becak sekalipun. Untuk menjaga koleksinya, mulai beberapa tahun terakhir Perpusta kaan Mabulir tidak lagi melayani perorangan. Bagi peminjam baru diharuskan membuat kelompok minimal lima orang. Salah satu anggotanya akan menjadi koordinator yang nantinya akan memfasilitasi peminjaman buku untuk anggota kelompok yang lain. Menurut dia, tidak semua kelompok akan lulus tes. Biasanya, sebelum ditetapkan lebih jauh, ia sendiri yang akan menguji. Dua kali berturut-turut, kelompok itu hanya akan dipinjami tabloid. Baru, setelah keseriusannya terlihat, kelompok tersebut akan dipinjami buku.
Untuk menjalankan operasional sehari-hari, sejak tiga tahun terakhir ia dibantu empat orang karyawan. Mereka bertugas mulai dari menjaga perpustakaan, melayani peminjam, memberi sampul, memperbaiki buku yang rusak, hingga menjadi ‘pengawalnya’ saat mengunjungi para peminjam. Karyawan yang bekerja di Perpustakaan Mabulir tidak bekerja secara cuma-cuma. Mereka juga memdapat gaji Rp 10.000 perhari. Dari mana dana untuk menggaji karyawan didapat, sementara tak ada pemasukan dari pelanggan perpustakaan?
Rupanya Dauzan rela untuk menggunakan uang pensiun. Bahkan, tidak jarang biaya operasional yang harus dikeluarkan jauh lebih besar dari uang pensiun yang ia terima. Menurut Dauzan, biaya operasional untuk merawat buku setiap hari mencapai Rp 5.000. “Itu belum termasuk biaya ojek setiap harinya. Untuk berkeliling dan menemui pelanggan, saya selalu memakai ojek langganan,” jelasnya. Untuk menutup kekurangan itulah, ia mengaku harus menggunakan uang simpanannya. Tak heran kalau setiap bulan defisit bisa mencapai lebih dari (maksudnya yang tidak layak jual).
 Menurut dia, dari 5.000 buku yang ada di perpustakaannya, sebagian besar merupakan buku-buku agama. Sebagian lainnya buku-buku ilmu pengetahuan, sejarah, serta aneka kamus bahasa asing. Jenis buku-buku yang menjadi koleksi Perpustakaan Mabulir bukan atas kemauan sendiri, melainkan mengikuti kemauan pasar. Untuk buku-buku yang lama, seperti buku mengenai agama, ia sengaja menyisipkan suplemen berupa buku lain yang lebih kecil. Sedangkan buku-buku yang tidak terpakai, ia berikan pada orang lain, termasuk masjid-masjid yang belum memiliki perpustakaan. Tidak jarang, ia memberikan ke masyarakat di pedesaan melalui mahasiswa yang tengah mengikuti kuliah kerja nyata (KKN). Rp 1.000.000 lebih. “Banyak orang bilang, kekurangan itu sebenarnya bisa sedikit saya tutup dengan bayaran pinjaman buku. Namun saya tidak mau. Saya ingin memberi contoh bahwa budaya pengabdian dalam bidang pendidikan itu dilakukan dengan sepenuh hati,” ungkapnya. Sedangkan untuk membeli buku, ia memanfaatkan uang yang diperoleh dari sumbangan orang lain. Selama ini, sumbangan dari peminjam dan orang yang mengenalnya kerap kali mengalir. Selain itu, ia juga mendapatkan buku dari penerbit-penerbit di Yogyakarta. Ada beberapa penerbit yang setia memberikan buku kepada Perpustakaan Mabulir. Salah satunya adalah Penerbit Pustaka Pelajar yang selalu mengiriminya buku setiap kali peluncuran buku baru. “Tidak semuanya buku diberi oleh penerbit. Kita juga kerap kali membeli dari mereka. Tentunya dengan harga yang murah”.
DAUZAN Farook lahir tahun 1925 di Kampung Kauman Yogyakarta. Kecintaannya terha dap buku mulai ada sejak kecil. Bapaknya, H Muhammad Bajuri, menjadi pengelola Taman Pustaka Muhammadiyah atau Perpustakaan Muhammadiyah.
Ketika remaja, ia juga turut berjuang. Dirinya pernah bergabung dengan para gerilyawan dalam pasukan Sub Wehrkreise (SWK) 101. Ia juga terlibat kontak fisik dalam penyerbuan gudang senjata Jepang di Kota Baru 6 Juli 1947. Bahkan, Dauzan Farook juga terlibat dalam Serangan Oemoem 1 Maret 1949. “Saya dulu juga tergabung dalam Hisbullah yang ditugaskan di Kota Baru, sebuah laskar pejuang dari kalangan Islam. Kemudian saya terekrut dan menjadi tentara pelajar. Saya sendiri belajar cara berperang justru dari Jepang, saat itu niat Jepang ke Indonesia masih baik,” jelasnya. Sejalan dengan perkembangan waktu, muncul keinginan dari dirinya untuk melanjutkan usaha batik orangtuanya. Akhirnya ia memilih keluar dari ketentaraan, saat itu pangkatnya masih letnan dua. Ketika usaha batik orangtuanya hancur tahun 1957, ia memutuskan untuk berdagang emas dan menjadi distributor buku. Ia kemudian berbuat sesuatu sesuai dengan potensinya. Sejak tahun 1993, ia mulai membuka Perpustakaan Mabulir.
Semua ini berawal dari kesadarannya untuk memanfaatkan uang pensiun veteran sebesar Rp 500.000 per bulan untuk kemajuan negara. “Saya seperti mendapat amanah besar untuk memakai uang itu sebaik-baiknya,” ujarnya. Dengan sistem multi-level reading, ia berharap buku yang ia pinjamkan dapat dibaca banyak orang. Saat ini, jumlah kelompok bacaan yang dimilikinya mencapai 100-an buah, dengan masing-masing anggota kelompok mencapai 4-20 orang. Mabulir memiliki perwakilan di lima kota, yaitu Jakarta, Solo, Brebes, Purworejo, dan Magelang. Para pemilik cabang tersebut sebelumnya adalah pelanggannya. ‘ untuk mengangkat minat baca masyarakat dengan sistem perpustakaan keliling. “Entah siapa yang meneruskan, bisa siapa saja”, katanya. Usianya yang semakin tua, membuatnya tidak kuat lagi membaca buku-buku yang ada. Alasan utamanya tidak memiliki kesempatan untuk membaca buku tebal. Kalaupun ada ia hanya membaca pengantar dan sinopsisnya saja. Ketika ditanya siapa yang akan meneruskan perpustakaan itu, sementara tak satu pun dari delapan anaknya yang berminat untuk meneruskan, Dauzan tercenung. “Saya hanya bisa menyebarkan“ ……
Sampai ketika Sabtu pagi, ba’da Subuh (6/10/2007) Dauzan Farouk, sosok yang dikenal dengan Perpustakaan Kelilingnya (MABULIR) meninggal di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Membawa semangat Mabulirnya…. Akankah ada generasi muda yang meneruskan?????
Diceritakan kembali oleh, Generasi Kedua Pejuang Literasi. Bapak Agung Nugroho dari Pustaka Keliling Adil.

Menangkal NII dengan Perpustakaan Masjid


Menangkal NII dengan Perpustakaan Masjid
*/Danis Tri Pamungkas

Negara Islam Indonesia, begitu masyarakat kita akhir-akhir ini diributkan oleh berbagai sepak terjang kelompok yang menggoyang nasionalisme (juga: merugikan secara finansial terhadap para korbannya). Berawal dari seorang Kartosuwiryo, di Jawa Barat tepatnya di Tasikmalaya, yang ingin mendirikan negara berdasarkan hukum Islam. Gerakan ini tak lantas hilang pasca Kartosoewirjo ditangkap dan dieksekusi pada 1962. Belakangan, NII kembali jadi sorotan setelah sejumlah orang dikabarkan menjadi korban penculikan dan pemerasan.
Ciri-ciri kelompok bawah tanah yang mengatasnamakan NII tersebut. Berikut ini adalah sebagian ciri-cirinya:
1.     Dalam mendakwahi calonnya, mata sang calon ditutup rapat, dan baru akan dibuka ketika mereka sampai ke tempat tujuan.
2.     Para calon yang akan mereka dakwahi rata-rata memiliki ilmu keagamaan yang relatif rendah, bahkan dapat dibilang tidak memiliki ilmu agama. Sehingga, para calon dengan mudah dijejali omongan-omongan yang menurut mereka adalah omongan tentang Dinul Islam. Padahal, kebanyakan akal merekalah yang berbicara,  dan bukan Dinul Islam yang mereka ungkapkan.
3.     Calon utama mereka adalah orang-orang yang memiliki harta yang berlebihan, atau yang orang tuanya berharta lebih, anak-anak orang kaya yang jauh dari keagamaan, sehingga yang terjadi adalah penyedotan uang para calon dengan dalih islam. Islam hanya sebagai alat penyedot uang.
4.     Pola dakwah yang relatif singkat, hanya kurang lebih tiga kali pertemuan, setelah itu, sang calon dimasukkan ke dalam keanggotaan mereka. Sehingga, yang terkesan adalah  pemaksaan ideologi, bukan lagi keikhlasan. Rata-rata para calon memiliki kadar keagamaan yang sangat rendah. Selama hari terakhir pendakwahan, sang calon dipaksa dengan dijejali ayat-ayat yang mereka terjemahkan seenaknya hingga sang calon mengatakan siap dibai'at.
5.     Ketika sang calon akan dibai'at, dia harus menyerahkan uang yang mereka namakan dengan uang penyucian jiwa. Besar uang yang harus diberikan adalah Rp 250.000 ke atas. Jika sang calon tidak mampu saat itu, maka infaq itu menjadi hutang sang calon yang wajib dibayar. 
6.     Tidak mewajibkan menutup aurat bagi anggota wanitanya dengan alasan kahfi.
7.     Tidak mewajibkan shalat lima waktu bagi para anggotanya dengan alasan belum futuh. Padahal, mereka mengaku telah berada dalam Madinah. Seandainya mereka tahu bahwa selama di Madinah-lah justru Rasulullah SAW., benar-benar menerapkan syari'at Islam.
8.     Sholat lima waktu mereka ibaratkan dengan doa dan dakwah. Sehingga, jika mereka sedang berdakwah, maka saat itulah mereka anggap sedang mendirikan shalat. 
9.     Shalat Jum'at diibaratkan dengan rapat/syuro. Sehingga, pada saat mereka rapat, maka saat itu pula mereka anggap sedang mendirikan shalat Jum'at.
10.   Untuk pemula, mereka diperbolehkan shalat yang dilaksanakan dalam satu waktu untuk lima waktu shalat. 
11.   Infaq yang dipaksakan per periode (per bulan) sehingga menjadi hutang yang wajib dibayar bagi yang tidak mampu berinfaq. 
12. Adanya  qiradh  (uang yang dikeluarkan untuk dijadikan modal usaha) yang diwajibkan walaupun anggota tak memiliki uang, bila perlu berhutang kepada kelompoknya. Pembagian bagi hasil  dari  qiradh yang mereka janjikan tak kunjung datang. Jika diminta tentang pembagian hasil bagi itu, mereka menjawabnya dengan ayat AlQur'an sedemikian rupa sehingga upaya meminta bagi  hasil itu menjadi hilang. 
13.   Zakat yang tidak sesuai dengan syari'at Islam.  Takaran yang terlalu melebihi dari yang semestinya. Mereka menyejajarkan sang calon dengan sahabat Abu Bakar dengan menafikan syari'at  yang sesungguhnya. 
14.   Tidak adanya mustahik di kalangan mereka, sehingga bagi mereka yang tak mampu makan sekalipun, wajib membayar zakat/infaq yang besarnya sebanding dengan dana untuk makan sebulan. Bahkan, mereka masih saja memaksa pengikutnya untuk mengeluarkan 'infaq',
padahal, pengikutnya itu dalam keadaan kelaparan. 
15.   Belum berlakunya syari'at Islam di kalangan mereka sehingga perbuatan apapun tidak mendapatkan hukuman. 
16.   Mengkafirkan orang yang berada di luar kelompoknya, bahkan menganggap halal berzina dengan orang di luar kelompoknya. 
17.   Manghalalkan mencuri/mengambil barang milik orang lain. 
18.   Menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan,  seperti menipu/berbohong meskipun kepada orang tua sendiri. (diolah dari berbagai sumber)
Itu hanya sebagian saja rekam jejak  NII dalam menyebarkan ajaran mereka. Pengetahuan mengenai ke-Islaman yang terbatas menjadikan begitu mudahnya paham keliru yang diajarkan para perekrut NII yang memang sangat terlatih untuk memasukkan doktrin mereka.
Sementara itu, Masjid adalah tempat beribadah umat Islam yang juga disebut rumah Allah. Dalam al-Qur'an, Allah memerintahkan agar masjid dibina dan dimakmurkan, sebagaimana termaktub dalam Surat At-Taubah ayat 18 yang artinya: "Sesungguhnya ummat yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk."
Masjid di samping dipergunakan sebagai tempat ibadah sebagaimana dijelaskan ayat di atas, juga berfungsi sebagai pusat kegiatan umat Islam antara lain: pendidikan, kebudayaan, politik, kemasyarakatan dan lain-lain.
Masjid di kota maupun di pedesaan merupakan sentral informasi bagi umat Islam sekitarnya. Untuk itu keberadaan masjid diharapkan mampu meningkatkan kualitas kehidupan umat. Salah satu sarana penunjang untuk memakmurkan masjid, seperti dianjurkan ayat di atas adalah dengan mendirikan perpustakaan masjid di samping sarana lain seperti Aula Masjid, gedung TPA/TPSA masjid, koperasi/toko masjid, mobil ambulance dan lain-lain.
Pemerintah saat ini telah punya perhatian besar terhadap perpustakaan dengan dikeluarkannya Undang-Undang RI nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan. Dalam undang-undang tersebut pasal 22 ayat ayat 4 menyebutkan bahwa masyarakat dapat menyelenggarakan perpustakaan umum untuk memfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Selanjutnya pada pasal 48 ayat 4 dijelaskan bahwa pembudayaan kegemaran membaca pada masyarakat dilakukan melalui penyediaan sarana perpustakaan di tempat-tempat umum yang mudah dijangkau.
Jadi dalam upaya untuk mewujudkan masyarakat terpelajar sepanjang hayat dan mendorong pembinaan minat baca serta wawasan berpikir umat, perpustakaan masjid perlu didirikan guna melengkapi sarana dan prasarana masjid sebagai tempat ibadah umat Islam.
Namun jauh sebelum dikeluarkannya UU di atas, Menteri Agama RI tanggal 25 Februari 1991 mengukuhkan Badan Pembina Perpustakaan Masjid Indonesia (BPPMI) yang dibentuk oleh Dewan Masjid Indonesia dengan SK Nomor: 06/DMI/PP/KPTS/II/1991 yang menurut pedoman kerjanya akan dibentuk sampai tingkat kecamatan di seluruh tanah air.
Perpustakaan masjid adalah perpustakaan yang berada danatau di sekitar lingkungan masjid, yang berarti sebuah ruangan yang berisi sumber-sumber informasi berupa buku-buku dan bahan lainnya yang disusun secara teratur dan sistematis yang diperuntukan bagi pembinaan dan pengembangan pendidikan masyarakat islam. Koleksi yang tersedia meliputi sebagian besar buku pengetahuan agama islam dan pengetahuan umum (ilmu alam, teknologi, sosial ekonomi dsb) yang disusun menggunakan sistem tertentu.
Keberadaan perpustakaan masjid bertujuan antara lain :
1.      Memakmurkan masjid sebagai pusat ibadah dan pusat belajar mengajar al-Qur'an serta sumber ilmu pengetahuan.
2.      Meningkatkan kualitas iman dan ilmu pengetahuan umat Islam.
3.      Menumbuhkan cinta dan kesadaran membaca al-Qur'an dan buku di kalangan generasi muda Islam.
4.      Menyambung silahturrahmi dan membina “ukhuwah Islamiyah” di lingkungan umat Islam melalui pengembangan perpustakaan masjid.
5.      Menggerakkan partisipasi amal para dermawan dan seluruh umat Islam melalui pembinaan perpustakaan masjid.
6.      Menyediakan pusat baca yang memadai bagi umat Islam di sekitar masjid.
Fungsi Perpustakaan Masjid:
1.      Tempat para jamaah atau masyarakat sekitarnya menimba ilmu-ilmu ke-Islaman dan ilmu pengetahuan lainnya.
2.      Sebagai tempat belajar jamaah dengan tenang.
3.      Sebagai sarana menciptakan gemar membaca masyarakat sekitarnya.
4.      Pembinaan kehidupan rohaniah dan jasmaniah. Kemajuan dan kebaikan rohani dan jasmani memerlukan ilmu pengetahuan.
5.      Penyimpan dokumen dan kegiatan keilmuan masjid. Kegiatan keilmuan yang diselenggarakan masjid, seperti seminar, kajian buku dan lain-lain dapat direkam atau dicatat lalu dibukukan. Hasil pendokumentasian ilmiah itu lalu disimpan di perpustakaan masjid sebagai koleksi ilmiah yang dapat dipelajari kembali.
Melihat ciri-ciri NII seperti uraian diatas, apabila dihadapkan dengan tujuan serta fungi perpustakaan masjid, maka perpustakaan masjid mampu menghasilkan ‘pertahanan diri’ terhadap pengaruh NII, dengan informasi yang diperoleh dari bahan bacaan yang ada diperpustakaan masjid, masyarakat mampu menyaring sendiri melalui pengetahuan dan wawasan yang baik. Keislaman.
Contohnya dengan kegiatan kajian Al-Quran, Hadits, dan kitab-kitab Islam dengan pembicara yang memang menguasai hal tersebut mengenai kitab/hadis oleh ustad/kyai/ imam masjid. Dengan pembahasan mengenai suatu masalah yang diambil dari koleksi perpustakaan masjid akan diperoleh pemahaman yang sesuai, bukan persepsi yang salah kaprah seperti yang NII lakukan akhir-akhir ini.
Untuk membangun perpustakaan masjid, dibutuhkan peran serta aktif dari masyarakat, adanya perhatian dari kementerian agama dan dukungan dari perpustakaan daerah. Dengan kerjasama dari semua pihak, keterpaduan gerak untuk mengembangkan perpustakaan masjid menjadikan perpustakaan masjid benar-benar hidup dan pada akhirnya ikut memakmurkan masjid.
*/Mahsiswa S1 Ilmu Perpustakaan FIB  Undip tinggal di Gunungpati

Buku : Harta Termahal Peradaban Manusia


Buku : Harta Termahal Peradaban Manusia
*/ Emilia Niken Palupi

Juara I Lomba Penulisan Artikel Tk. SMA/K/MA
yang diselenggarakan dalam rangka Pameran Buku Murah Kab. Semarang 2011

Membicarakan peradaban manusia tanpa membirakan ilmu pengetahuan, adalah sebuah perihal yang lalai. Rasa-rasanya siapapun akan mengamini bahwa perkembangan peradaban manusia digerakkan oleh entitas agung bernama ilmu pengetahuan. Dan membicarakan ilmu pengetahuan sebagai bahan bakar motor peradaban manusia, maka mau tak mau muara yang kita temui adalah buku.
Sebab manusia adalah makhluk berparadoks. Dibalik keinginnanya yang tidak terbatas, manusia justru karib dengan keterbatasan. Salah satunya ihwal ingatan yang singkat. Maka manusia pun menulis, mencatat apa yang ia lihat, ia cermati, ia pelajari dan ia simpulkan. ”ikatlah Ilmu dengan Menulisnya”, begitu konon wasiat Imam Ali.
Buku yang notabene adalah wujud laku menulis, sudah berperan begitu besar soal ilmu pengetahuan. Tanpa buku, mungkin ilmu pengetahuan sudah lenyap dengan mudah. Buktinya, buku merupakan sarana belajar yang mudah dan murah. Bahkan buku sudah menjadi kebutuhan pokok bagi semua orang yang ingin berpengetahuan luas, sementara ada pula yang menjadikan buku adalah bagian hidup mereka.
Perpustakaan merupakan ’tempat tinggal’ berbagai macam buku, menjadikan perpustakaan tempat yang mengasyikkan untuk dikunjungi. Di perpustakaan kita layaknya berjalan-jalan ke seluruh dunia, mengetahui berita di penjuru dunia pada saat itu juga. Jadi apabila masih ada orang yang tidak suka membaca buku/ ke perpustakaan, sebenarnya hal itu membuktikan bahwa orang tersebut tidak peduli dengan dirinya sendiri.
Sesungguhnya buku memegang peranan penting dalam peradaban manusia. Layaknya sekarung emas pada zaman Yunani kuno, buku dianggap berharga. Mereka bahkan menyimpan koleksi buku-bukunya di tempat tersembunyi dan dengan keamanan yang memadai agar terhindar dari pencurian. Namun sayangnya sekarang keadaan terbalik, bahkan di negara kita ini, sering kita lihat buku sering dibuang begitu saja, dibakar ataupun dijual. Diperlakukan oleh orang yang tidak maju biasanya buku layaknya sampah saja. Padahal buku adalah alat bagi manusia untuk menimba ilmu justru, yang dapat memberikan hikmah. Untuk itu perlu kita jadikan teladan bangsa Yunani kuno agar tidak ada ilmu yang terbuang sia-sia.
Masih ada sampai sekarang, buku dianggap hanyalah sekumpulan kertas yang berguna pada akhirnya untuk ’ bungkus makanan’. Ditambah perkembangan dunia internet, menjadikan buku bukanlah primadona lagi. Di internet orang akan mudah mencari informasi yang ia butuhkan, sayangnya kemudahan tersebut juga terdapat resiko yang tidak sepele. Adanya pengaruh negatif dari internet, apabila pemakaian yang tidak diawasi.
Pemakaiannya pun tidak sefleksibel buku, harus memerlukan alat yang lumayan mahal. Berbeda dengan buku yang harganya (bisa dikatakan) lebih murah dan mudah dibawa kemana-mana tanpa tergantung pada alat untuk membacanya. Dan membaca buku itu bisa dilakukan dimana saja tanpa dibatasi oleh tempat, bahkan di kamar kecilpun bisa.
Membaca buku menyenangkan, karena buku bisa berubah menjadi hiburan, menjadikan imajinasi kita terbang tinggi seperti saat kita membaca novel/ cerita fiksi lainnya.
Bila kita tengok lagi fungsi atau peran buku,  dapat kita temukan berbagai hal di dalam buku itu. Antara lain, kita dapat menjembatani dalam mencari ilmu, memberikan berbagai wawasan kepada kita, memudahkan kita dalam belajar dan tentunya masih banyak lagi. Sayangnya minat membaca buku saat ini sangat kurang, ada yang beralasan bahwa ceritanya kurang menarik, terlalu banyak tulisan hingga membuat kita mudah bosan. Sampai ada yang baru melihat ketebalan bukunya saja sudah malas.
Gemar membaca buku fiksi maupun buku pengetahuan dimulai dengan rasa penasaran, kemudian menjadi tertarik dan ingin membacanya. Buku yang baik biasanya mampu membuat pembacanya larut dalam suasana yang digambarkan didalamnya. Tentunya membuat si pembaca ingin terus membaca buku tersebut.
Bagi seorang penulis buku merupakan rumah bagi jiwa mereka, melalui tulisan di buku dicurahkanlah isi hati dan akhirnya keberadaan penulis diakui oleh seluruh dunia. Penulis cerita fiksi menganggap, dengan menulis mereka ’curhat’, mereka menuliskan perasaan gundah gulana, resah, marah, sedih dan lain sebagainya.
Sementara itu, kita tidak akan tahu seperti apa nanti jadinya, 1 tahun lagi ataupun 10 tahun lagi, maka perlulah kita mengabadikan dengan tulisan. Thomas Alfa Edison, di usia mudanya dia tentu tidak membayangkab akan tercatat dalam sejarah seorang penemu, bila hasil eksperimenya tidak ditulis dalam catatan kemudian dibukukan.
Marilah terus menggali rasa haus ilmu pengetahuan didalam diri kita. Berilah kesempatan bagi riri kita sendiri mengenal dunia meskipun baru sebatas dengan buku. Biarkan pikiran kita terbuka dengan banyak hal melalui bacaan hal-hal baru yang tidak akan mungkin kita selalu lihat dengan mata sendiri.
Maksimalkan potensi yang ada dalam diri kita, karena kitalah nanti yang akan menjadi penegak pilar-pilar akademis, ekonomi, politik, sosial dan segala bidang lain, untuk turut serta membawa peradaban luhur bangsa ke generasi mendatang.
*/  Siswa SMA N 1 Getasan