Slogan kami

Redaksi Buletin Pustaka mengucapkan Selamat Hari Soempah Pemoeda, 28 Oktober 2013

Rabu, 12 Oktober 2011

Mengenang Dauzan Farook “Si Pejuang LITERASI”


Mengenang Dauzan Farook “Si Pejuang LITERASI”
Mengabdi Total Lewat Perpustakaan MABULIR

Dauzan Farook
 Jam belum menunjukkan pukul 10.30 saat Dauzan Farook (79), pemilik perpustakaan Mabulir -yang tengah duduk di sofa usang di ruang tamu yang menjadi satu dengan perpustakaannya-menyapa kami. Ia baru saja bangun dari tidurnya. Senyum tuanya mengembang. “Maaf, tadi sudah kemari ya ?” sapanya.
Pria yang kerap dipanggil Pak Farook atau Pak Dauzan Farook ini memang terbiasa tidur kembali setelah menjalankan ibadah shalat subuh. Namun, sebelum tidur kembali, ia biasa terlebih dulu mempersiapkan buku-buku lama yang akan diperbaiki karyawannya. Maklum, usia lanjut menuntutnya untuk cukup istirahat. Meski tidak terlalu berat, pekerjaan nya menyita waktu dan tenaga. Menjelang siang, ia kembali bergelut dengan buku-buku koleksinya yang mencapai 5.000 buah lebih. Belum lagi jika ditambah dengan majalah yang jumlahnya hampir sama. Sore harinya, seusai shalat ashar, ia kembali disibukkan dengan berkeli ling, mengunjungi peminjam yang tersebar di sekitar kota Yogyakarta. Aktivitas nya berlanjut pada malam hari, saat Dauzan biasa pergi ke pasar buku-buku bekas untuk membeli buku-buku guna menambah koleksinya. Aktivitas Dauzan Farook memang tidak bisa dilepaskan dari perpustakaan. Rumahnya yang berada di sebuah gang sempit di Kampung Kauman, kota Yogyakarta, mudah dikenali. Dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain, rumahnya kelihatan paling mencolok. Di dindingnya terpasang majalah dinding dan juga nama Mabulir, singkatan dari Majalah dan Buku Bergilir.
 Di perpustakaan itu memang peminjam dapat memilih, membaca, sekaligus meminjam buku untuk dibawa pulang secara bergiliran. Semuanya tanpa dipungut biaya. “Saya tidak menarik sepeser pun dana dari peminjam. Walaupun saya selalu defisit setiap bulan untuk membiayai operasional perpustakaan ini,” jelasnya.Sebaliknya, peminjam hanya diwajibkan menjaga koleksi buku-buku tersebut melalui doktrin yang ia berikan dalam label “Amanat Umat, yang berarti  dari umat, oleh umat, dan untuk umat”. Apabila peminjam menghilangkan atau merusakkan buku, berarti mereka telah merugikan orang banyak (umat). Keyakinan seperti itu terus dijaganya hingga saat ini. “Kami juga tidak menuntut mereka untuk mengembalikan. Berdasar kesadaran, biasanya mereka sendiri yang menggantinya dengan buku lain apabila ada yang hilang. Kalau mereka susah mengembalikan, saya yang harus datang mengambil ke tempat tinggal mereka,” tambahnya. Upaya mendatangi peminjam bukan saja untuk mengambil buku, melainkan juga memin jami. Ia rela berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan tujuan peminjam dapat memperoleh buku untuk dibaca. Sebagian besar peminjam buku di Perpustakaan Mabulir adalah orang dewasa. Namun, tidak sedikit pula anak-anak muda. Mereka umumnya remaja masjid, penghuni asrama, masyarakat umum, hingga tukang becak sekalipun. Untuk menjaga koleksinya, mulai beberapa tahun terakhir Perpusta kaan Mabulir tidak lagi melayani perorangan. Bagi peminjam baru diharuskan membuat kelompok minimal lima orang. Salah satu anggotanya akan menjadi koordinator yang nantinya akan memfasilitasi peminjaman buku untuk anggota kelompok yang lain. Menurut dia, tidak semua kelompok akan lulus tes. Biasanya, sebelum ditetapkan lebih jauh, ia sendiri yang akan menguji. Dua kali berturut-turut, kelompok itu hanya akan dipinjami tabloid. Baru, setelah keseriusannya terlihat, kelompok tersebut akan dipinjami buku.
Untuk menjalankan operasional sehari-hari, sejak tiga tahun terakhir ia dibantu empat orang karyawan. Mereka bertugas mulai dari menjaga perpustakaan, melayani peminjam, memberi sampul, memperbaiki buku yang rusak, hingga menjadi ‘pengawalnya’ saat mengunjungi para peminjam. Karyawan yang bekerja di Perpustakaan Mabulir tidak bekerja secara cuma-cuma. Mereka juga memdapat gaji Rp 10.000 perhari. Dari mana dana untuk menggaji karyawan didapat, sementara tak ada pemasukan dari pelanggan perpustakaan?
Rupanya Dauzan rela untuk menggunakan uang pensiun. Bahkan, tidak jarang biaya operasional yang harus dikeluarkan jauh lebih besar dari uang pensiun yang ia terima. Menurut Dauzan, biaya operasional untuk merawat buku setiap hari mencapai Rp 5.000. “Itu belum termasuk biaya ojek setiap harinya. Untuk berkeliling dan menemui pelanggan, saya selalu memakai ojek langganan,” jelasnya. Untuk menutup kekurangan itulah, ia mengaku harus menggunakan uang simpanannya. Tak heran kalau setiap bulan defisit bisa mencapai lebih dari (maksudnya yang tidak layak jual).
 Menurut dia, dari 5.000 buku yang ada di perpustakaannya, sebagian besar merupakan buku-buku agama. Sebagian lainnya buku-buku ilmu pengetahuan, sejarah, serta aneka kamus bahasa asing. Jenis buku-buku yang menjadi koleksi Perpustakaan Mabulir bukan atas kemauan sendiri, melainkan mengikuti kemauan pasar. Untuk buku-buku yang lama, seperti buku mengenai agama, ia sengaja menyisipkan suplemen berupa buku lain yang lebih kecil. Sedangkan buku-buku yang tidak terpakai, ia berikan pada orang lain, termasuk masjid-masjid yang belum memiliki perpustakaan. Tidak jarang, ia memberikan ke masyarakat di pedesaan melalui mahasiswa yang tengah mengikuti kuliah kerja nyata (KKN). Rp 1.000.000 lebih. “Banyak orang bilang, kekurangan itu sebenarnya bisa sedikit saya tutup dengan bayaran pinjaman buku. Namun saya tidak mau. Saya ingin memberi contoh bahwa budaya pengabdian dalam bidang pendidikan itu dilakukan dengan sepenuh hati,” ungkapnya. Sedangkan untuk membeli buku, ia memanfaatkan uang yang diperoleh dari sumbangan orang lain. Selama ini, sumbangan dari peminjam dan orang yang mengenalnya kerap kali mengalir. Selain itu, ia juga mendapatkan buku dari penerbit-penerbit di Yogyakarta. Ada beberapa penerbit yang setia memberikan buku kepada Perpustakaan Mabulir. Salah satunya adalah Penerbit Pustaka Pelajar yang selalu mengiriminya buku setiap kali peluncuran buku baru. “Tidak semuanya buku diberi oleh penerbit. Kita juga kerap kali membeli dari mereka. Tentunya dengan harga yang murah”.
DAUZAN Farook lahir tahun 1925 di Kampung Kauman Yogyakarta. Kecintaannya terha dap buku mulai ada sejak kecil. Bapaknya, H Muhammad Bajuri, menjadi pengelola Taman Pustaka Muhammadiyah atau Perpustakaan Muhammadiyah.
Ketika remaja, ia juga turut berjuang. Dirinya pernah bergabung dengan para gerilyawan dalam pasukan Sub Wehrkreise (SWK) 101. Ia juga terlibat kontak fisik dalam penyerbuan gudang senjata Jepang di Kota Baru 6 Juli 1947. Bahkan, Dauzan Farook juga terlibat dalam Serangan Oemoem 1 Maret 1949. “Saya dulu juga tergabung dalam Hisbullah yang ditugaskan di Kota Baru, sebuah laskar pejuang dari kalangan Islam. Kemudian saya terekrut dan menjadi tentara pelajar. Saya sendiri belajar cara berperang justru dari Jepang, saat itu niat Jepang ke Indonesia masih baik,” jelasnya. Sejalan dengan perkembangan waktu, muncul keinginan dari dirinya untuk melanjutkan usaha batik orangtuanya. Akhirnya ia memilih keluar dari ketentaraan, saat itu pangkatnya masih letnan dua. Ketika usaha batik orangtuanya hancur tahun 1957, ia memutuskan untuk berdagang emas dan menjadi distributor buku. Ia kemudian berbuat sesuatu sesuai dengan potensinya. Sejak tahun 1993, ia mulai membuka Perpustakaan Mabulir.
Semua ini berawal dari kesadarannya untuk memanfaatkan uang pensiun veteran sebesar Rp 500.000 per bulan untuk kemajuan negara. “Saya seperti mendapat amanah besar untuk memakai uang itu sebaik-baiknya,” ujarnya. Dengan sistem multi-level reading, ia berharap buku yang ia pinjamkan dapat dibaca banyak orang. Saat ini, jumlah kelompok bacaan yang dimilikinya mencapai 100-an buah, dengan masing-masing anggota kelompok mencapai 4-20 orang. Mabulir memiliki perwakilan di lima kota, yaitu Jakarta, Solo, Brebes, Purworejo, dan Magelang. Para pemilik cabang tersebut sebelumnya adalah pelanggannya. ‘ untuk mengangkat minat baca masyarakat dengan sistem perpustakaan keliling. “Entah siapa yang meneruskan, bisa siapa saja”, katanya. Usianya yang semakin tua, membuatnya tidak kuat lagi membaca buku-buku yang ada. Alasan utamanya tidak memiliki kesempatan untuk membaca buku tebal. Kalaupun ada ia hanya membaca pengantar dan sinopsisnya saja. Ketika ditanya siapa yang akan meneruskan perpustakaan itu, sementara tak satu pun dari delapan anaknya yang berminat untuk meneruskan, Dauzan tercenung. “Saya hanya bisa menyebarkan“ ……
Sampai ketika Sabtu pagi, ba’da Subuh (6/10/2007) Dauzan Farouk, sosok yang dikenal dengan Perpustakaan Kelilingnya (MABULIR) meninggal di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Membawa semangat Mabulirnya…. Akankah ada generasi muda yang meneruskan?????
Diceritakan kembali oleh, Generasi Kedua Pejuang Literasi. Bapak Agung Nugroho dari Pustaka Keliling Adil.

Menangkal NII dengan Perpustakaan Masjid


Menangkal NII dengan Perpustakaan Masjid
*/Danis Tri Pamungkas

Negara Islam Indonesia, begitu masyarakat kita akhir-akhir ini diributkan oleh berbagai sepak terjang kelompok yang menggoyang nasionalisme (juga: merugikan secara finansial terhadap para korbannya). Berawal dari seorang Kartosuwiryo, di Jawa Barat tepatnya di Tasikmalaya, yang ingin mendirikan negara berdasarkan hukum Islam. Gerakan ini tak lantas hilang pasca Kartosoewirjo ditangkap dan dieksekusi pada 1962. Belakangan, NII kembali jadi sorotan setelah sejumlah orang dikabarkan menjadi korban penculikan dan pemerasan.
Ciri-ciri kelompok bawah tanah yang mengatasnamakan NII tersebut. Berikut ini adalah sebagian ciri-cirinya:
1.     Dalam mendakwahi calonnya, mata sang calon ditutup rapat, dan baru akan dibuka ketika mereka sampai ke tempat tujuan.
2.     Para calon yang akan mereka dakwahi rata-rata memiliki ilmu keagamaan yang relatif rendah, bahkan dapat dibilang tidak memiliki ilmu agama. Sehingga, para calon dengan mudah dijejali omongan-omongan yang menurut mereka adalah omongan tentang Dinul Islam. Padahal, kebanyakan akal merekalah yang berbicara,  dan bukan Dinul Islam yang mereka ungkapkan.
3.     Calon utama mereka adalah orang-orang yang memiliki harta yang berlebihan, atau yang orang tuanya berharta lebih, anak-anak orang kaya yang jauh dari keagamaan, sehingga yang terjadi adalah penyedotan uang para calon dengan dalih islam. Islam hanya sebagai alat penyedot uang.
4.     Pola dakwah yang relatif singkat, hanya kurang lebih tiga kali pertemuan, setelah itu, sang calon dimasukkan ke dalam keanggotaan mereka. Sehingga, yang terkesan adalah  pemaksaan ideologi, bukan lagi keikhlasan. Rata-rata para calon memiliki kadar keagamaan yang sangat rendah. Selama hari terakhir pendakwahan, sang calon dipaksa dengan dijejali ayat-ayat yang mereka terjemahkan seenaknya hingga sang calon mengatakan siap dibai'at.
5.     Ketika sang calon akan dibai'at, dia harus menyerahkan uang yang mereka namakan dengan uang penyucian jiwa. Besar uang yang harus diberikan adalah Rp 250.000 ke atas. Jika sang calon tidak mampu saat itu, maka infaq itu menjadi hutang sang calon yang wajib dibayar. 
6.     Tidak mewajibkan menutup aurat bagi anggota wanitanya dengan alasan kahfi.
7.     Tidak mewajibkan shalat lima waktu bagi para anggotanya dengan alasan belum futuh. Padahal, mereka mengaku telah berada dalam Madinah. Seandainya mereka tahu bahwa selama di Madinah-lah justru Rasulullah SAW., benar-benar menerapkan syari'at Islam.
8.     Sholat lima waktu mereka ibaratkan dengan doa dan dakwah. Sehingga, jika mereka sedang berdakwah, maka saat itulah mereka anggap sedang mendirikan shalat. 
9.     Shalat Jum'at diibaratkan dengan rapat/syuro. Sehingga, pada saat mereka rapat, maka saat itu pula mereka anggap sedang mendirikan shalat Jum'at.
10.   Untuk pemula, mereka diperbolehkan shalat yang dilaksanakan dalam satu waktu untuk lima waktu shalat. 
11.   Infaq yang dipaksakan per periode (per bulan) sehingga menjadi hutang yang wajib dibayar bagi yang tidak mampu berinfaq. 
12. Adanya  qiradh  (uang yang dikeluarkan untuk dijadikan modal usaha) yang diwajibkan walaupun anggota tak memiliki uang, bila perlu berhutang kepada kelompoknya. Pembagian bagi hasil  dari  qiradh yang mereka janjikan tak kunjung datang. Jika diminta tentang pembagian hasil bagi itu, mereka menjawabnya dengan ayat AlQur'an sedemikian rupa sehingga upaya meminta bagi  hasil itu menjadi hilang. 
13.   Zakat yang tidak sesuai dengan syari'at Islam.  Takaran yang terlalu melebihi dari yang semestinya. Mereka menyejajarkan sang calon dengan sahabat Abu Bakar dengan menafikan syari'at  yang sesungguhnya. 
14.   Tidak adanya mustahik di kalangan mereka, sehingga bagi mereka yang tak mampu makan sekalipun, wajib membayar zakat/infaq yang besarnya sebanding dengan dana untuk makan sebulan. Bahkan, mereka masih saja memaksa pengikutnya untuk mengeluarkan 'infaq',
padahal, pengikutnya itu dalam keadaan kelaparan. 
15.   Belum berlakunya syari'at Islam di kalangan mereka sehingga perbuatan apapun tidak mendapatkan hukuman. 
16.   Mengkafirkan orang yang berada di luar kelompoknya, bahkan menganggap halal berzina dengan orang di luar kelompoknya. 
17.   Manghalalkan mencuri/mengambil barang milik orang lain. 
18.   Menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan,  seperti menipu/berbohong meskipun kepada orang tua sendiri. (diolah dari berbagai sumber)
Itu hanya sebagian saja rekam jejak  NII dalam menyebarkan ajaran mereka. Pengetahuan mengenai ke-Islaman yang terbatas menjadikan begitu mudahnya paham keliru yang diajarkan para perekrut NII yang memang sangat terlatih untuk memasukkan doktrin mereka.
Sementara itu, Masjid adalah tempat beribadah umat Islam yang juga disebut rumah Allah. Dalam al-Qur'an, Allah memerintahkan agar masjid dibina dan dimakmurkan, sebagaimana termaktub dalam Surat At-Taubah ayat 18 yang artinya: "Sesungguhnya ummat yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk."
Masjid di samping dipergunakan sebagai tempat ibadah sebagaimana dijelaskan ayat di atas, juga berfungsi sebagai pusat kegiatan umat Islam antara lain: pendidikan, kebudayaan, politik, kemasyarakatan dan lain-lain.
Masjid di kota maupun di pedesaan merupakan sentral informasi bagi umat Islam sekitarnya. Untuk itu keberadaan masjid diharapkan mampu meningkatkan kualitas kehidupan umat. Salah satu sarana penunjang untuk memakmurkan masjid, seperti dianjurkan ayat di atas adalah dengan mendirikan perpustakaan masjid di samping sarana lain seperti Aula Masjid, gedung TPA/TPSA masjid, koperasi/toko masjid, mobil ambulance dan lain-lain.
Pemerintah saat ini telah punya perhatian besar terhadap perpustakaan dengan dikeluarkannya Undang-Undang RI nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan. Dalam undang-undang tersebut pasal 22 ayat ayat 4 menyebutkan bahwa masyarakat dapat menyelenggarakan perpustakaan umum untuk memfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Selanjutnya pada pasal 48 ayat 4 dijelaskan bahwa pembudayaan kegemaran membaca pada masyarakat dilakukan melalui penyediaan sarana perpustakaan di tempat-tempat umum yang mudah dijangkau.
Jadi dalam upaya untuk mewujudkan masyarakat terpelajar sepanjang hayat dan mendorong pembinaan minat baca serta wawasan berpikir umat, perpustakaan masjid perlu didirikan guna melengkapi sarana dan prasarana masjid sebagai tempat ibadah umat Islam.
Namun jauh sebelum dikeluarkannya UU di atas, Menteri Agama RI tanggal 25 Februari 1991 mengukuhkan Badan Pembina Perpustakaan Masjid Indonesia (BPPMI) yang dibentuk oleh Dewan Masjid Indonesia dengan SK Nomor: 06/DMI/PP/KPTS/II/1991 yang menurut pedoman kerjanya akan dibentuk sampai tingkat kecamatan di seluruh tanah air.
Perpustakaan masjid adalah perpustakaan yang berada danatau di sekitar lingkungan masjid, yang berarti sebuah ruangan yang berisi sumber-sumber informasi berupa buku-buku dan bahan lainnya yang disusun secara teratur dan sistematis yang diperuntukan bagi pembinaan dan pengembangan pendidikan masyarakat islam. Koleksi yang tersedia meliputi sebagian besar buku pengetahuan agama islam dan pengetahuan umum (ilmu alam, teknologi, sosial ekonomi dsb) yang disusun menggunakan sistem tertentu.
Keberadaan perpustakaan masjid bertujuan antara lain :
1.      Memakmurkan masjid sebagai pusat ibadah dan pusat belajar mengajar al-Qur'an serta sumber ilmu pengetahuan.
2.      Meningkatkan kualitas iman dan ilmu pengetahuan umat Islam.
3.      Menumbuhkan cinta dan kesadaran membaca al-Qur'an dan buku di kalangan generasi muda Islam.
4.      Menyambung silahturrahmi dan membina “ukhuwah Islamiyah” di lingkungan umat Islam melalui pengembangan perpustakaan masjid.
5.      Menggerakkan partisipasi amal para dermawan dan seluruh umat Islam melalui pembinaan perpustakaan masjid.
6.      Menyediakan pusat baca yang memadai bagi umat Islam di sekitar masjid.
Fungsi Perpustakaan Masjid:
1.      Tempat para jamaah atau masyarakat sekitarnya menimba ilmu-ilmu ke-Islaman dan ilmu pengetahuan lainnya.
2.      Sebagai tempat belajar jamaah dengan tenang.
3.      Sebagai sarana menciptakan gemar membaca masyarakat sekitarnya.
4.      Pembinaan kehidupan rohaniah dan jasmaniah. Kemajuan dan kebaikan rohani dan jasmani memerlukan ilmu pengetahuan.
5.      Penyimpan dokumen dan kegiatan keilmuan masjid. Kegiatan keilmuan yang diselenggarakan masjid, seperti seminar, kajian buku dan lain-lain dapat direkam atau dicatat lalu dibukukan. Hasil pendokumentasian ilmiah itu lalu disimpan di perpustakaan masjid sebagai koleksi ilmiah yang dapat dipelajari kembali.
Melihat ciri-ciri NII seperti uraian diatas, apabila dihadapkan dengan tujuan serta fungi perpustakaan masjid, maka perpustakaan masjid mampu menghasilkan ‘pertahanan diri’ terhadap pengaruh NII, dengan informasi yang diperoleh dari bahan bacaan yang ada diperpustakaan masjid, masyarakat mampu menyaring sendiri melalui pengetahuan dan wawasan yang baik. Keislaman.
Contohnya dengan kegiatan kajian Al-Quran, Hadits, dan kitab-kitab Islam dengan pembicara yang memang menguasai hal tersebut mengenai kitab/hadis oleh ustad/kyai/ imam masjid. Dengan pembahasan mengenai suatu masalah yang diambil dari koleksi perpustakaan masjid akan diperoleh pemahaman yang sesuai, bukan persepsi yang salah kaprah seperti yang NII lakukan akhir-akhir ini.
Untuk membangun perpustakaan masjid, dibutuhkan peran serta aktif dari masyarakat, adanya perhatian dari kementerian agama dan dukungan dari perpustakaan daerah. Dengan kerjasama dari semua pihak, keterpaduan gerak untuk mengembangkan perpustakaan masjid menjadikan perpustakaan masjid benar-benar hidup dan pada akhirnya ikut memakmurkan masjid.
*/Mahsiswa S1 Ilmu Perpustakaan FIB  Undip tinggal di Gunungpati

Buku : Harta Termahal Peradaban Manusia


Buku : Harta Termahal Peradaban Manusia
*/ Emilia Niken Palupi

Juara I Lomba Penulisan Artikel Tk. SMA/K/MA
yang diselenggarakan dalam rangka Pameran Buku Murah Kab. Semarang 2011

Membicarakan peradaban manusia tanpa membirakan ilmu pengetahuan, adalah sebuah perihal yang lalai. Rasa-rasanya siapapun akan mengamini bahwa perkembangan peradaban manusia digerakkan oleh entitas agung bernama ilmu pengetahuan. Dan membicarakan ilmu pengetahuan sebagai bahan bakar motor peradaban manusia, maka mau tak mau muara yang kita temui adalah buku.
Sebab manusia adalah makhluk berparadoks. Dibalik keinginnanya yang tidak terbatas, manusia justru karib dengan keterbatasan. Salah satunya ihwal ingatan yang singkat. Maka manusia pun menulis, mencatat apa yang ia lihat, ia cermati, ia pelajari dan ia simpulkan. ”ikatlah Ilmu dengan Menulisnya”, begitu konon wasiat Imam Ali.
Buku yang notabene adalah wujud laku menulis, sudah berperan begitu besar soal ilmu pengetahuan. Tanpa buku, mungkin ilmu pengetahuan sudah lenyap dengan mudah. Buktinya, buku merupakan sarana belajar yang mudah dan murah. Bahkan buku sudah menjadi kebutuhan pokok bagi semua orang yang ingin berpengetahuan luas, sementara ada pula yang menjadikan buku adalah bagian hidup mereka.
Perpustakaan merupakan ’tempat tinggal’ berbagai macam buku, menjadikan perpustakaan tempat yang mengasyikkan untuk dikunjungi. Di perpustakaan kita layaknya berjalan-jalan ke seluruh dunia, mengetahui berita di penjuru dunia pada saat itu juga. Jadi apabila masih ada orang yang tidak suka membaca buku/ ke perpustakaan, sebenarnya hal itu membuktikan bahwa orang tersebut tidak peduli dengan dirinya sendiri.
Sesungguhnya buku memegang peranan penting dalam peradaban manusia. Layaknya sekarung emas pada zaman Yunani kuno, buku dianggap berharga. Mereka bahkan menyimpan koleksi buku-bukunya di tempat tersembunyi dan dengan keamanan yang memadai agar terhindar dari pencurian. Namun sayangnya sekarang keadaan terbalik, bahkan di negara kita ini, sering kita lihat buku sering dibuang begitu saja, dibakar ataupun dijual. Diperlakukan oleh orang yang tidak maju biasanya buku layaknya sampah saja. Padahal buku adalah alat bagi manusia untuk menimba ilmu justru, yang dapat memberikan hikmah. Untuk itu perlu kita jadikan teladan bangsa Yunani kuno agar tidak ada ilmu yang terbuang sia-sia.
Masih ada sampai sekarang, buku dianggap hanyalah sekumpulan kertas yang berguna pada akhirnya untuk ’ bungkus makanan’. Ditambah perkembangan dunia internet, menjadikan buku bukanlah primadona lagi. Di internet orang akan mudah mencari informasi yang ia butuhkan, sayangnya kemudahan tersebut juga terdapat resiko yang tidak sepele. Adanya pengaruh negatif dari internet, apabila pemakaian yang tidak diawasi.
Pemakaiannya pun tidak sefleksibel buku, harus memerlukan alat yang lumayan mahal. Berbeda dengan buku yang harganya (bisa dikatakan) lebih murah dan mudah dibawa kemana-mana tanpa tergantung pada alat untuk membacanya. Dan membaca buku itu bisa dilakukan dimana saja tanpa dibatasi oleh tempat, bahkan di kamar kecilpun bisa.
Membaca buku menyenangkan, karena buku bisa berubah menjadi hiburan, menjadikan imajinasi kita terbang tinggi seperti saat kita membaca novel/ cerita fiksi lainnya.
Bila kita tengok lagi fungsi atau peran buku,  dapat kita temukan berbagai hal di dalam buku itu. Antara lain, kita dapat menjembatani dalam mencari ilmu, memberikan berbagai wawasan kepada kita, memudahkan kita dalam belajar dan tentunya masih banyak lagi. Sayangnya minat membaca buku saat ini sangat kurang, ada yang beralasan bahwa ceritanya kurang menarik, terlalu banyak tulisan hingga membuat kita mudah bosan. Sampai ada yang baru melihat ketebalan bukunya saja sudah malas.
Gemar membaca buku fiksi maupun buku pengetahuan dimulai dengan rasa penasaran, kemudian menjadi tertarik dan ingin membacanya. Buku yang baik biasanya mampu membuat pembacanya larut dalam suasana yang digambarkan didalamnya. Tentunya membuat si pembaca ingin terus membaca buku tersebut.
Bagi seorang penulis buku merupakan rumah bagi jiwa mereka, melalui tulisan di buku dicurahkanlah isi hati dan akhirnya keberadaan penulis diakui oleh seluruh dunia. Penulis cerita fiksi menganggap, dengan menulis mereka ’curhat’, mereka menuliskan perasaan gundah gulana, resah, marah, sedih dan lain sebagainya.
Sementara itu, kita tidak akan tahu seperti apa nanti jadinya, 1 tahun lagi ataupun 10 tahun lagi, maka perlulah kita mengabadikan dengan tulisan. Thomas Alfa Edison, di usia mudanya dia tentu tidak membayangkab akan tercatat dalam sejarah seorang penemu, bila hasil eksperimenya tidak ditulis dalam catatan kemudian dibukukan.
Marilah terus menggali rasa haus ilmu pengetahuan didalam diri kita. Berilah kesempatan bagi riri kita sendiri mengenal dunia meskipun baru sebatas dengan buku. Biarkan pikiran kita terbuka dengan banyak hal melalui bacaan hal-hal baru yang tidak akan mungkin kita selalu lihat dengan mata sendiri.
Maksimalkan potensi yang ada dalam diri kita, karena kitalah nanti yang akan menjadi penegak pilar-pilar akademis, ekonomi, politik, sosial dan segala bidang lain, untuk turut serta membawa peradaban luhur bangsa ke generasi mendatang.
*/  Siswa SMA N 1 Getasan


Buku Mengusung Peradaban


Buku Mengusung Peradaban
*/ Rifka E.

Juara III Lomba Penulisan Artikel Tk. SMA/K/MA
yang diselenggarakan dalam rangka Pameran Buku Murah Kab. Semarang 2011


Di Era Modern ini, dengan adanya perkembangan teknologi canggih, beberapa orang menganggap bahwa buku adalah sesuatu hal yang kuno. Kini jarang menemukan orang yang membaca, karena mereka menganggap membaca adalah satu kegiatan yang membosankan. Dari pada membaca buku lebih baik menonton TV, begitulah yang diucapkan sebagian besar orang. Padahal buku menyimpan sejuta mannfaat untuk pembentukan karakter kepribadian manusia.
Buku merupakan jembatan ilmu untuk membuka cakrawala dunia. Apabila kita ingin mengetahui keadaan, kebudayaan, tradisi suatu wilayah atau negara kita tidk perlu pergi kedaerah tersebut hanya jika hanya ingin tahu. Cukup dengan membaca buku kita dapat berselancar ke belahan dunia yang kita inginkan.
Buku dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu fiksi dan nonfiksi. Fiksi yang merupakan buku-buku cerita seperti novel, cerpen, cerita bersambung dan lain sebagainya. Sedangkan buku nonfiksi ialah buku berisi ilmu pengetauan bagi kita, seperti buku pelajaran, teknologi, sejarah dan lain-lain. Meskipun jenis buku tersebut berbeda-beda, tetapi buku mempunyai tujuan yang sama yaitu memberikan informas, ilmu pengetahuan agar pembacanya dapat mengetahui hal-hal yang belum diketahuinya.
Selain pengetahuan yang didapat dari buku cerpen misalnya, kita akan mempelajari sifat atau watak tokoh-tokohnya. Juga bisa kita ambil amanat, hikmah dan teladan bagi kita. Secara tidak sengaja, buku akan mampu mengubah serta membentuk karakter maupu nkepribadian kita. Yang tidak kalah pentingnya, buku melatih kita untuk sabar dan terus berkonsentrasi.
Buku pelajaran juga mampu memberikan banyak informasi dan pengetahuan. Meskipun buku nonfiksi sedikit membosankan tetapi tanpa buku jenis nonfiksi tersebut, manusia zaman sekarang belum tentu mempunyai pengetahuan sampai semaju sekarang ini.
Waktu luang yang kita meiliki dapat diisi dengan membaca buku, apabila satu jam saja dalam sehari kita bisa membaca buku, berarti kita mendapatkan pengetahuan 10 kali lipat dibanding orang yang tidak membaca buku.
Buku-buku tebal, tanpa gambar hanya berupa tulisan mungkin menjadi penyebab mengapa banyak yang enggan membaca buku. Selain alasan pusing saat membaca, tidak ada waktu, dan sifat malas. Padahal hal tersebut adalah penyebab rendahnya sumber daya manusia, sehingga negara kita menjadi negara yang terus menerus di level negara berkembang.
Ada beberapa sikap dan cara agar tidak bosan dalam membaca. Sabar, telaten, tekun, gigih dan juga sungguh-sungguh. Kelima sikap itu akan mengubah perasaan kita saat membaca bukuyang membosankan itu. Selain bisa juga melakukan aktifitas ringan pada saat membaca buku, yaitu diselingi dengan ’ngemil’ atau makan makanan ringan, mendengarkan musik dan lain sebagainya.
Saat ini, dengan mewabahnya internet, banyak orang lebih memilih menggunakan internet, dengan keunggulan yang instant saat mencari sebuah informasi. Akan tetapi internet juga memiliki keterbatasan, berbeda dengan buku yang bisa dibawa kemana-mana dan tanpa alat tambahan untuk membaca. Buku adalah guru yang sabar, hanya menunggu untuk dighargai dengan cara dibaca. Buku juga tidak pernah mengeluh meskipun kadang-kadang buku diperlakuakan tidak layak.
Buku dapat mengubah kualitas Sumber Daya Manusia menjadi lebih baik, menyejahterakan kehidupan dengan hasil baca buku yang dipraktekkan. Kama untuk merubah dan menjadukan hal itu menjadi kenyataan, mulai dari sekarang kta harus membudayakan gemar membaca. Sayangi buku, dengan membaca buku itu sendiri. Dengan membaca buku, kita meneruskan peradaban manusia ke anak cucu kita nantinya.
Manfaat yang lain, dengan membudayakan membaca, masyarakat yang gemar membaca menjadikan negara kita menjadi negara yang lebih maju dan lebih baik. Jadi jangan pernah memiliki rasa malu saat kita membaca buku, hilangkan ras bosan ketika kita membaca buku, karena sesungguhnya buku adalah jembatan ilmu pengetahuan bagi kita.


*/  Siswa SMA N 1 Bringin