Slogan kami

Redaksi Buletin Pustaka mengucapkan Selamat Hari Soempah Pemoeda, 28 Oktober 2013

Senin, 05 November 2012

Selamat Datang Para Pembaca !


Oleh : Supardi Tyastomo

Adalah Kenmaos seorang kepala rumah tangga dari sebuah keluarga kecil yang tinggal di lereng Gunung Ungaran. Kenmaos sendiri adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya dengan harapan kelak di kemudian hari akan menjadi sosok pembaca seutuh usia. Persis sebagaimana yang telah menjadi impian kedua orang tuanya, Kenmaos yang kini telah menetap di suatu perumahan sederhana wilayah ibukota Kabupaten Semarang, bersama istri dan kedua anaknya mencoba membangun tradisi membaca di lingkungannya. Memang bukan pekerjaan yang mudah dan bergengsi. Pandangan acuh dari tetangga-tetangga pun tak luput menimpanya. Tidak jarang pula sang istri ikut tampil dengan wajah cemberut  kalau asap dapur mulai surut kepulan asapnya. Tapi itulah Kenmaos. Meski sang istri bermuka masam dan tetangga kanan kiri mulai menebar kasak kusuk tak sedap, Kenmaos  tetap saja asyik dengan buku-bukunya. Kesehariannya tak lepas dari buku. Barangkali hanya pada saat tidur saja dia tidak pegang buku, karena di kamar mandi pun sengaja ia menenteng buku ukuran supermini agar bisa ditaruh di kantong sakunya, sehingga sang buku dapat turut serta menemaninya di dalam kamar mandi.

Minggu, 04 November 2012

Satu Rumah, Satu Rak Buku


Oleh. AGUS M. IRKHAM

Berdasarkan riset lima tahunan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), yang melibatkan siswa SD, Indonesia berada pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel. Indonesia hanya lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan.
Artinya kemampuan membaca dan memahami bacaan pada anak-anak SD di Indonesia masih sangat rendah. Akibatnya kemampuan berkomunikasi (menggunakan bahasa) baik lesan maupun tulisan pun sama rendahnya. Itu sebab, saat ini mendapati anak-anak SD yang mampu menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, entah dalam bentuk lesan, terutama tulisan bak mencari jarum di tumpukan jerami.
Apa pasal kemampuan membaca dan memahami bacaan anak-anak SD di Indonesia masih sangat rendah?
Salah satunya adalah karena mereka sejak mula tidak akrab dengan bacaan, khususnya yang dalam bentuk buku. Pengalaman pra membaca tidak diperkenalkan pada mereka sejak usia dini. Perkenalan pertama mereka dengan buku adalah berupa buku pelajaran. Pengalaman yang justru membuat mereka “trauma”, lantaran jumlah halaman yang tebal dan isi yang melulu tulisan.
Pertanyaan pentingnya, kapan dan dimana anak-anak baiknya diperkenalkan dengan pengalaman pra membaca tersebut?

Mendesain ulang Komik anak-anak sebagai sarana perangsang minat baca


Oleh: Santoso Mahargono

Cerita bergambar atau yang sering disebut komik hingga saat ini masih menjadi bahan bacaan yang setengah hati bagi anak-anak. Dalam keluarga, orang tua masih banyak yang beranggapan bahwa komik adalah bacaan bodoh, tidak ilmiah, serta membuat kecanduan. Hampir setali tiga uang, demikian pula terjadi di Perpustakaan, rupanya banyak Perpustakaan masih menganggap Komik bacaan yang kesekian di sajikan kepada pemustaka. Sah saja memang menganggap demikian, karena tidak dipungkiri banyaknya komik yang membanjiri toko buku saat ini memang tidak semuanya layak dinikmati secara isi oleh anak-anak. Terutama karya terjemahan yang masih banyak ditemui kalimat kasar dan vulgar. Ditambah pula dengan gambar yang kadang aman-aman saja di awal, tetapi di tengah ada sisipan yang tidak pantas bagi anak-anak.
Namun, kenikmatan membaca komik tidak dapat dipungkiri oleh penikmat komik sebagai surga imajinasi mereka. Kalau Jorge Luis Borges (1899-1986) sebagai sastrawan Argentina menganggap Perpustakaan sebagai surga, maka penikmat komik menganggap bacaan komik sebagai surga yang nyata. Bagaimana tidak, pembaca dapat dibawa kedalam gambar, turut serta merasakan adegan demi adegan yang tergambar di dalamnya. Konon, melambungnya imajinasi itulah yang mengakibatkan kecanduan di kalangan pembaca komik, khususnya anak-anak, sehingga cenderung melupakan bacaan tekstual.

KETERBATASAN TAK MENGHALANGI MEREKA UNTUK BERKARYA


Oleh : Rudi Wachid El Khwarizm

Tuhan Jangan Tinggalkan Aku
Apakah kita pernah menghitung nikmat yang telah Tuhan berikan kepada pada kita? Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Mulai dari nafas sebagai penanda hidup kita…? Saya yakin hampir semua dari kita tidak ada yang mampu menghitung-Nya.
Lho… untuk apa kita menghitung nikmat-Nya? Jawabannya adalah untuk membandingkan dengan seberapa banyak kita mengeluh atas pemberian-Nya.
Sebagian dari kita menganggap bahwa kekurangan yang ada pada diri kita adalah ketidaksempurnaan yang diberikan oleh-Nya. Jarang sekali kita berpikir tentang apa hikmah dari semua itu. Mengeluh adalah hal yang sering kita lakukan. Ketahuilah bahwa tidak ada sesuatupun yang Dia ciptakan itu sia-sia.

GEMAR MEMBACA DAN MENULIS LEWAT FACEBOOK, BISA!


Oleh : Budiyanti
Facebook lagi... facebook lagi, kapan kamu belajarnya?”
Begitulah ungkapan sebagian besar orang tua jika melihat anaknya berfacebookan lewat HP atau laptop.
Memang akhir-akhir ini sebagian besar remaja menggunakan facebook. Hal itu bukan hal baru bagi mereka. Di setiap kesempatan para remaja sudah kecanduan bermain facebook sampai lupa waktu. Mereka berjam-jam didepan komputer tanpa mengenal lelah. Kadang uang jajan dipakai hanya untuk berjam-jam di warnet. Bisa jadi mereka lupa belajar dan ujung-ujungnya nilainya jelek lalu tidak naik kelas. Namun, sejauh inikah dampak facebook?
Para remaja cenderung menggunakan facebook hanya untuk meluapkan emosi dengan memperbarui stastus berupa umpatan, keluhan misalnya, yang pernah saya baca, ah lapar nih.. !ataugalau nih...pusing!! , booooosan. Atau kalimat-kalimat yang kurang bermanfaat, lain misalnya, makan dulu ah ah... atau.. tidur dulu ah. Dari tulisan-tulisan seperti itu, apakah berdampak positif bagi teman-temannya. Tidak. Teman-temannya ya... paling memberi komentar dengan sekenanya.. misalnya, dengan kata Ah masabodoh atau kenapa.. oh gitu, seterusnya. Jadi tak heran jika orangtua merasa khawatir terhadap anaknya  berfacebookan.

Andai setiap kita adalah Duta Baca Keluarga


Oleh : Zulaekah
….Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan (QS. Al ’Alaq : 1).
Itulah ayat yang pertama kali diturunkan dalam Alqur’an, perintah membaca kepada manusia. Mestinya tidak sekedar membaca, tetapi membaca untuk menemukan makna yang terkandung di dalam bacaan yang telah kita baca, dan mengantarkan manusia pada kesadaran diri bahwa manusia dan segala yang ada di alam semesta adalah diciptakan oleh Yang Maha Menciptakan, Allah. Tentu saja Allah bukanlah dzat yang suka bersenda gurau, menciptakan alam semesta dengan sia-sia tanpa ada tujuan dan manfaatnya. Tugas manusialah mencari informasi dan pengetahuan atas semua itu, kemudian memanfaatkannya dengan penuh kearifan. Dan yang tidak kalah penting adalah  belajar menumbuhkan  kesadaran akan kasih sayang dan kesempurnaanNya. Semua itu dapat kita peroleh dengan membaca.
Kenapa mesti membaca?
Perintah membaca merupakan perintah pertama bagi manusia, sudah pasti ada rahasia dan manfaat yang besar jika hal itu dilakukan manusia. Demikian juga sebaliknya, jika manusia tidak mau membaca, pasti akan rugi besar. Membaca yang dimaksud di sini adalah membaca setiap kejadian yang tersirat ataupun tersurat. Membaca secara tersurat adalah kegiatan membaca sebagaimana dipahami oleh semua orang, sedangkan membaca setiap kejadian secara tersirat adalah membaca untuk menemukan makna atas setiap kejadian yang kita temui, amati ataupun alami sendiri.

Kamis, 25 Oktober 2012

KARENA BUKU AKU TAHU


Oleh: Meka Nitrit Kawasari

            Matahari tepat ditengah-tengah kepala saat aku beranjak menyeberangi jalan raya untuk menuju ke salah satu toko pakaian di kotaku. Panas, bising, berdebu aku rasakan siang itu, berjibun kendaraan baik itu motor, mobil, truk kecil maupun truk tronton berebutan untuk memenuhi jalanan dan nyaris menutupi pandanganku. Aku tetap melaju, melambaikan tangan untuk segera menyeberang dan mendapatkan beberapa barang dari toko itu.
            Brp brp brp brp...Mimpi Adalah Kunci …Sejurus nada sms, ‘Laskar Pelangi’ milik Nidji dari ponselku berbunyi. “Mini Sasandonya udah q siapin ra, berangkat kapan? Mpe ketemu yah”. Sms dari sahabatq Reta, gadis asli Nusa Tenggara Timur. “Ok….makasih ya….ni aq bawain batik…..berangkat selasa, mpe ketemu minggu depan di pulau seberang Reta…..”. Jawabq seketika. Reta adalah salah satu temanku dari propinsi lain.
            Aku membayangkan alat musik sasando khas Rote, NTT yang dibuat dalam bentuk mini itu. Alat musik ini digunakan dengan cara dipetik. Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang terbuat dari bambu. Bagian tengah terdapat dawai yang direntangkan di tabung. Tabung sasando ini diletakkan dalam sebuah wadah yang berbantuk anyaman dari daun lontar yang dibuat seperti kipas. “Asyik bakalan nambah lagi ni koleksi benda-benda khas daerah yang aku miliki”.  Aku tersenyum kecil dan masih meneruskan aksiku di took itu.