Slogan kami

Redaksi Buletin Pustaka mengucapkan Selamat Hari Soempah Pemoeda, 28 Oktober 2013

Senin, 05 November 2012

SYA’BANAN


 Oleh : Mafud Fauzi

Menurut sahibul hikayat, sekitar abad ke 15, konon ada Seorang Pangeran dari Kerajaan Mataram yang ke dua, bernama Danang Sutawijaya yang berkelana (Dolan/Sobo)
Setelah menempuh perjalanan jauh dan berbulan-bulan lamanya, sampailah Sang Pangeran di sebuah hutan lebat. Karena dianggap sebagai tempat yang cocok, Sang Pangeran memutuskan untuk bertapa, bermunajat memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kelak di kemudian hari, tempat pangeran untuk bertapa dinamai dengan sebutan “PROJO” (Bhs Jawa-Projo=sebuah singgasana untuk seorang raja). Saat ini tempat tersebut  menjadi pasar dan dinamai Pasar Projo, terletak di Kecamatan Ambarawa.
   Demikianlah Sang Pangeran mulai menyiapkan diri, mensucikan diri dengan harapan dalam pertapaannya mendapatkan petunjuk dari Sang Hyang Widi, Tuhan Yang Maha Kuasa. Setelah genap pertapaannya, Sang Pangeran mendapatkan apa yang diinginkannya. Dalam petunjuk itu, Sang Pangeran diharuskan untuk mencari dan mandi di “Tuk Pitu” (Tujuh Sendang/sungai)

Nongkrong di Teras Baca Tsoraya



Awal tahun 2012 tepatnya di minggu pertama Januari inilah saat Lounching awal perpustakaan Teras Baca Tsoraya....(baca buletin pustaka ed. Mei 2012). Menapaki perjalanan waktu keberadaan perpustakaan ini semakin dikenal masyarakat sekitar serta menunjukkan grafik peningkatan yang cukup setidaknya itu dapat dilihat dari catatan jumlah absensi pengunjung, sarana yang dimiliki dan yang tidak kalah penting peningkatan koleksi buku yang dimiliki.
          “Setidaknya saya merasa senang kini masyarakat dan anak anak sekitar banyak yang berkunjumg kesini, bukan hanya sekedar bermain namun, mereka juga mengakrabkan diri dengan koleksi perpustakaan. Dari yang belajar sampae dengan yang hanya nongkrong kami terima dengan tangan terbuka untuk mewujudkan minat dan kebiasaan membaca “ungkap pengelola perpustakaan.

Selamat Datang Para Pembaca !
Oleh : Supardi Tyastomo

Adalah Kenmaos seorang kepala rumah tangga dari sebuah keluarga kecil yang tinggal di lereng Gunung Ungaran. Kenmaos sendiri adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya dengan harapan kelak di kemudian hari akan menjadi sosok pembaca seutuh usia. Persis sebagaimana yang telah menjadi impian kedua orang tuanya, Kenmaos yang kini telah menetap di suatu perumahan sederhana wilayah ibukota Kabupaten Semarang, bersama istri dan kedua anaknya mencoba membangun tradisi membaca di lingkungannya. Memang bukan pekerjaan yang mudah dan bergengsi. Pandangan acuh dari tetangga-tetangga pun tak luput menimpanya. Tidak jarang pula sang istri ikut tampil dengan wajah cemberut  kalau asap dapur mulai surut kepulan asapnya. Tapi itulah Kenmaos. Meski sang istri bermuka masam dan tetangga kanan kiri mulai menebar kasak kusuk tak sedap, Kenmaos  tetap saja asyik dengan buku-bukunya. Kesehariannya tak lepas dari buku. Barangkali hanya pada saat tidur saja dia tidak pegang buku, karena di kamar mandi pun sengaja ia menenteng buku ukuran supermini agar bisa ditaruh di kantong sakunya, sehingga sang buku dapat turut serta menemaninya di dalam kamar mandi.

LEGENDA MRANAK


Oleh : Dwi Hartanto

Tersebutlah di Daerah Timur pulau Jawa sedang terjadi kekacauan, akibat mulai mundurnya kekuasaan majapahit di tanah Jawa, banyak orang-orang dari Timur yang mengungsi mencari tempat yang aman, menghindari kekacauan yang terjadi, di Majapahit sendiri tengah terjadi perang saudara.
Diantara mereka yang mengunsi ke barat (Jawa tengah) ialah Mbah Bening. seorang kepala kampung di daerah timur. Beliau mengajak warga kampungnya untuk mengungsi mencari tempat yang aman, tujuannya adalah daerah Jawa Tengah.
Setelah melakukan perjalanan selama 2 hari sampailah mereka di suatu tempat yang telah ramai, rumah-rumah telah teratur, Mbah Bening sebagai kepala rombongan akhirnya mampir ke Kapala kampung daerah tersebut, dan mengutarakan maksud kedatangannya meminta ijin untuk bermalam di daerah itu. Kepala Kampung tersebut. Saat berbincang-bincang itulah, Kapala Kampung tersebut mengarahkan Mbah Bening untuk terus berjalan sekitar 2 hari lagi ada suatu daerah subur terletak di perbukitan daerah tersebut belum terjamah. Kepala Kampung tersebut meminta Mbah Bening untuk membuka kampung di sana, karena tempatnya yang subur dan airnya yang melimpah. Mbah Bening pun menyetujui saran dari kepala kampung tersebut.

(KENAPA MASIH) TEMPAT BUANGAN


 Oleh : Siti Masruroh

Seorang guru berinisial PS, dikenai sangsi kedinasan dan oleh Eston Rimon Nainggolan, Wakil Kepala Sekolah Negeri 79, PS dipindahtugaskan menjadi pengelola perpustakaan sekolah dengan pertimbangan agar tidak berhubungan langsung dengan siswa. (Koran Tempo, 19 Januari 2009).Adalah AR seorang guru bahasa Jawa yang dibebastugaskan mengajar karena memukul siswa. Guru dari SMPN 26 Purworejo ini kemudian menjadi petugas perpustakaan karena menurut Kepala Dinas P dan K Kabupaten Purworejo Drs Bambang Aryawan MM, agar yang bersangkutan bisa introspeksi diri. (Suara Merdeka 18 Maret 2012).
Bagaimana tangggapan anda terhadap cuplikan berita di atas? Perpustakaan menjadi penjara untuk terdakwa. Guru yang bersalah dikenakan sangsi dengan menjadi petugas perpustakaan. Sistem pendidikan yang meletakan perpustakaan pada posisi seram.  Perpustakaan sekolah yang menjadi bagian dari pembelajaran seakan hanya menjadi tempat singgah orang-orang bermasalah.  Perpustakaan yang seharusnya menjadi pusat pembelajaran keberadaannya diabaikan oleh sistem pendidikan itu sendiri. Coba tenggok lokasi perpustakaan sekolah. Di tempatkan pada lokasi yang kurang strategis biasanya terpencil dari lingkungan pembelajaran. Petugas perpustakaan di perpustakaan sekolah sebagian besar terjadi karena guru tersebut kekurangan jam mengajar dan untuk melengkapinya maka ditugaskanlah beliau pada lembaga perpustakaan. Atau bahkan perpustakaan dikelola oleh petugas kebersihan sekolah. Hal ini lah yang mengakibatkan kurang terkelolanya perpustakaan dengan maksimal, bagaimana bisa maksimal bila mereka tidak memahami apa yang mereka kerjakan. Belum lagi ketika kita melihat koleksi yang ada di perpustakaan sekolah. Akan semakin mempertanyakan fungsi perpustakaan. Apa benar sebagai pusat pendidikan atau hanya tempat singgah buku-buku paket yang sebagian besar berasal dari satu penerbit.

KREATIFKAN ANAK ANDA


Oleh: Sri Endarti, A.Md

            Anak yang terlahir didunia merupakan anugerah dari Sang pencipta untuk kedua orang tuanya. Anak telah dibekali dengan akal pikiran yang baik, kedua orang tuanya bertugas mendidik, mengarahkan anak untuk kehidupan masa depan anak yang cemerlang. Anak dengan keunikan yang dimiliki antara satu dengan yang lainnya berbeda. Keberbedaan inilah yang mendorong anak untuk bisa mengolah potensi yang ada.
            Orang tua kebanyakan kalau anaknya duduk manis, diam, tidak lari-lari akan merasa nyaman bahwa anaknya tidak nakal, tidak banyak ulah. Padahal pemahaman tersebut keliru. Seorang anak akan tumbuh daya kreativitasnya karena anak tersebut melakukan aktivitas. Dalam melakukan aktivitas dalam diri anak akan muncul ide-ide untuk melakukan sesuatu dan mengembangkannya, dan ini kadang tidak disadari oleh kebanyakan orang tua. Tulisan dibawah ini akan dibahas tentang hal-hal yang bisa memacu kemampuan kreatif anak dan kreativitas anak.
Sebelum membicarakan tentang kreativitas anak lebih lanjut, kita bahas dulu apakah arti kata kreatif itu? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dituliskan bahwa kreatif yaitu memiliki kemampuan untuk menciptakan.  Sedangkan kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta.  Jadi yang disebut anak kreatif yaitu kemampuan yang dimiliki oleh seorang anak untuk menciptakan sesuatu yang baru, walaupun mungkin tidak baru sama sekali.

PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN VS KETERBATASAN DANA


Oleh : B Endang Sudarti R., SIP

 
       Untuk mecapai keberhasilan tujuan Perpustakaan dibutuhkan kebijakan, pengambilan keputusan dari pengelola perpustakaan atau disebut juga Pengelola Perpustakan(SDM Perpustakaan).
Pengambilan kebijakan ini sangat erat kaitannya dengan kesediaan dana yang ada serta penggunaannya yang jelas. Sebuah organisasi tidak dapat berkembang dengan baik apabila tidak mempunyai dana, apalagi di Era teknologi Informasi perpustakaan harus senantiasa berusaha :


1.   Merubah Konsep Perpustakaan konvensional (manual) menjadi Perpustakaan berbasis teknologi Informasi
2.      Meningkatkan pelayanan prima yaitu pelayanan cepat, tepat dan akurat berorientasi pada kepuasan pengguna
3.     Berusaha melengkapi koleksi yang dibutuhkan pengguna sesuai tuntutan perkembangan jaman, perkembangan ilmu dan teknologi berdasarkan kebutuhan pengguna
4. Konsep perpustakaan sebagai pusat informasi sehingga harus bersifat pro aktif menyediakan sumber informasi  yang baru trend, aktual, bermutu dan terkini.
5.    Merubah pola hidup tidak pernah membaca menjadi masyarakat berbudaya baca seperti kalimat yang pernah dikatakan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia :