Slogan kami

Redaksi Buletin Pustaka mengucapkan Selamat Hari Soempah Pemoeda, 28 Oktober 2013

Senin, 21 Mei 2012

POSYANDU BERSANDING DENGAN PERPUSTAKAAN KEILING? : Kenapa Tidak…


POSYANDU BERSANDING
DENGAN PERPUSTAKAAN KEILING?
Kenapa Tidak…
(Perpustakaan Desa Kalikurmo Kec. Bringin)

POSYANDU BERSANDING
DENGAN PERPUSTAKAAN KEILING
 Pagi itu terlihat berbeda, tepatnya hari Jumat tanggal 20 Januari 2012 di komplek PAUD Farros Sophia. Biasanya hanya riuh suara ana-anak PAUD yang sedang belajar. Namun kali ini berbeda. Masyarakat tumplek blek disini, karena terprovokasi kegiatan integrasi yang diadakan para pegiat perpustakaan desa.
Selain kegiatan belajar PAUD, ada Posyandu, BKB, Pelayanan Perpustakaan Keliling, Story Telling, Baca Buku Bersama dan tidak ketinggalan Posyandu ‘lansia’.
Kegiatan Integrasi ini dimulai tepat pada jam 9, seusai kegiatan belajar PAUD. Dwi Lestiono dari Perangkat Desa Kalikurmo sekaligus penggagas acara ini mengungkapkan,”Kegiatan ini untuk bertujuan memberikan wawasan luas kepada masyarakat tentang pentingnya membaca, dengan kegiatan terpadu ini diharapkan masyaralat tahu keberdaan perpustakaan di desa kami.”.
Kehadiran mobil Layanan Perpustakaan Keliling serta Tim Story Telling dari Perpustakaan Kabupaten Semarang sangat membantu dalam kami mempromosikan perpustakaan desa kami ini”, tambah Bapak Carik Desa Kalikurmo.
Kalikurmo: story Telling
 Story Telling atau bercerita kepada para siswa, oleh ibu  Zulaekah dari Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Semarang juga diselipkan game bagi anak-anak; siapa berani bercerita, menyanyi dan berkespresi lainnya kemudian mendapat bingkisan menarik. “Story Teling akan menjadikan anak-anak penasaran terhadap bukunya, kemudian akan membaca sendiri nantinya”, ungkap Ibu Zul.
Mobil perpustakaan keliling yang dibuka selama kegiatan ini, juga dimanfaatkan oleh para ibu yang mengantar anak belajar di PAUD. Seperti ibu Indah misalnya, “Sebenarnya saya jarang membaca, tapi penasaran juga ketika ada perpustakaan keliling, ketika saya lihat-lihat buku, eh ada buku yang menarik bagi saya. Saya harap tidak hanya kali ini saja mobil perpusling kesini, karena ternyata sangat menarik dan banyak bukunya.” Ungkap Ibu Indah sambil menunjukkan buku berjudul “Jilbab Modis” kepada BP.
Tidak ketinggalan, Ibu-Ibu yang sedang menimbang anak pun ikut nimbrung  mencari buku, “Saya malah menemukan buku resep bubur bagi balita. Ini yang saya butuhkan”, kata ibu itu. Untuk mengapreasi keinginan membaca, Pelayanan Perpustakaan Keliling ini juga meminjamkan buku kepada masyarakat melalui koordinir Petugas perpustakaan Desa Kalikurmo.
Perpusdes Kalikurmo: Perpusling
Kepada Para Ibu-Ibu yang ingin pinjam buku, pilih saja buku yang ada di mobil, kemudian dicatat. Satu bulan lagi mobil ini akan kesini dan Ibu-Ibu boleh Pinjam lagi,” Ungkap Dwi Pengelola Perpustakaan Desa Kalikurmo melalui Pengeras Suara Mobil Perpustakaan. (BM)

Teras Baca TSORAYA : Berani Beda Berani Membaca….


Teras Baca TSORAYA,  
Berani Beda Berani Membaca….

teras baca Tsoraya
 Desa Wujil Kecamatan Bergas. tepat hari Minggu, 8 Januari 2012 jam 9 pagi, satu persatu anak-anak mulai berdatangan ke sebuah rumah. Spanduk MMT terpasang jelas dari Kejauhan, Teras Baca Tsoraya.
Dengan penuh semangat, anak-anak dating untuk mengikuti lomba; Lomba Mewarnai bagi anak PAUD dan TK, Lomba Menggambar untuk Kategori A SD/MI Kelas 1-3 dan Lomba Menggambar Kategori B Kelas 4-6.
Sulaiman Jazuli, 30th, sang empunya Teras Baca Tsoraya menjelaskan bahwa, “Kegiatan sosialisasi ini untuk mengenalkan keberadaan Teras Baca Tsoraya kepada warga wujil dan sekitarnya. Penuh sesak teras rumah dan ruang tamu. “Walaupun banyak keterbatasan dan penuh kendala, tapi kami memberanikan diri membuat perpustakaan mini ini”, tambah Sulaiman Jazuli yang akrab dipangil Sule ini.
game: siapa berani cerita...
 Dengan dukungan dari Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Semarang, Mobil Perpustakaan keliling memberikan pelayanan baca di tempat. Juga memberikan beberapa hadiah kejutan dalam game ringan siapa berani bercerita. Selain siapa berani bercerita, game yang bertujuan agar anak-anak berani tampil di didepan juga siapa berani bernyanyi yang mendapatkan bingkisan dari perpustakaan keliling.
Bapak Tri Wijayanto, Wakil dari Perpustakaan Daerah juga memberikan harapan dalam sambutannya sesaat sebelum penyerahan hadiah lomba, ”Semoga keberadaan embrio perpustakaan berwujud Teras Baca Tsoraya ini mampu memacu anak-anak menjadi generasi yang gemilang di masa yang akan datang”.
Setelah acara berakhir, dilanjutkan pembenahan administrasi perpustakaan dari tim volunteer perpustakaan. Dengan koordinasi oleh Bambang Murdianto dari Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Semarang, membenahi administrasi perpustakaan; dimulai dengan pengklasifikasian koleksi Teras Baca Tsoraya.
Para volunteer di Teras Baca Tsoraya 
 Sobikah, “Saya merasa terpanggil untuk ikut menerapkan teori yang saya dapatkan dalam perkuliahan secara langsung, agar saya bisa ikut berguna walaupun sedikit bagi masyarakat”. Sobikah adalah salah satu volunteer yang kuliah di D2 Perpustakaan pokjar Banyubiru. “Jarak yang jauh juga bukan kendala bagi saya”, tambah Mbak Sobikah. (BM.)

Tanamkan Gemar Membaca Sejak Usia Dini


Tanamkan Gemar Membaca Sejak Usia Dini
Oleh : A. Mahbub Djunaidi

A. Mahbub Djunaidi 
Mempunyai kebiasaan membaca adalah sangat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kebiasaan membaca adalah merupakan salah satu perubahan sikap menuju ke arah yang positif. Untuk mempunyai kebiasaan membaca perlu membutuhkan latihan dan tidak mungkin dapat ditempuh dalam waktu yang singkat. Menanamkan membaca kepada anak tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kebiasaan membaca perlu ditanamkan sejak anak masih dalam kandungan. Bagaimana anak dalam kandungan bisa membaca? Tentu saja tidak anak yang masih dalam kandungan yang membaca, tetapi si ibu yang mempunyai janin dalam kandungan sudah membiasakan membaca. Membaca apa saja bagi ibu sangat mempengaruhi kejiwaan anak yang ada dalam kandungan. Orang Islam yang sedang hamil mempunyai kebiasaan membaca Surat Yusuf dan Surat Maryam. Orang Jawa mempunyai kebiasaan tidak berani berujar kasar atau mengumpat orang ketika sedang hamil. Dengan kata lain, kebiasaan membaca akan tumbuh subur bila kebiasaan membaca tersebut diawali dari keluarga.  Agus Buchori (2010dalam http://edukasi.kompasiana.com/2010/03/29/menciptakan-rasa-cinta-pada-perpustakaan/Imengatakan bahwa ketika kebiasaan membaca sudah tertanam di setiap keluarga maka kebutuhan akan bahan bacaan akan meningkat dan diharapkan mereka akhirnya akan mencari tempat sumber koleksi bacaan. Dari sinilah perpustakaan diharapkan untuk menangkap kegelisahan masyarakat yang haus akan bacaan. Masyarakat yang haus bacaan adalah masyarakat yang mempunyai kebiasaan membaca. Bukan masyarakat yang malas membaca. Tapi sayangnya, kalau ada teman kita yang mempunyai kebiasaan membaca, mereka malah menghardik “ awas ada kutu buku”. Rupanya masyarakat sendiri masih ada yang tidak senang terhadap anak yang mempunyai kebiasaan membaca walaupun mereka tahu dan menyadari bahwa membaca adalah merupakan pekerjaan yang wajib bagi anak khususnya anak sekolah. Buktinya, ketika anak-anak mereka sudah pulang dari sekolah dan tidak belajar, mereka akan memerintahkan untuk  belajar atau membaca-baca buku pelajaran yang telah diajarkan di sekolah. Apalagi kalau tidak mau belajar malah melihat TV atau mendengarkan musik saja, pastilah ada kapal pecah di rumah tangga tersebut. Pengalaman pribadi, ketika anak saya tidak mau belajar, tetapi membaca Koran atau hanya internetan saja, istri kalau marah bukan kepayang. “Nonton TV lagi, Facebook-an lagi. Kapan belajarnya? Heran aku, anak sekolah kok tidak mau belajar malah TV, internet, Koran, Heh…”.
Kalau kita mau jujur, menjadikan anak mempunyai kegemaran membaca sama dengan menjadikan anak sholeh. Sama-sama dalam kebutuhan akan keteladanan orang tua. Kita melarang anak tidak boleh makan dengan tangan kiri, tetapi setiap hari kita makan selalu menggunakan tangan kiri. Ketika anak mengingatkan, kita malah marah-marah. Kalau demikian kita dapat menyimpulkan bahwa problem mendasar yang dihadapi anak-anak kita yang tidak mempunyai kebiasaan membaca sebenarnya juga terletak pada faktor keteladanan kita di hadapan anak-anak. Kita tidak pernah memberi contoh, “inilah aku senang membaca”. Kalau anak-anak kita terbiasa di lingkungan yang senang membaca, saya kira mereka juga akan menyesuaiakan dengan lingkungan. Lebih-lebih kalau kita berada di tengah-tengah masyarakat yang nilai-nilai paternalistiknya masih kuat, orang-orang yang berada di lapisan bawah cenderung akan melihat pada kultur dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di lapisan atasnya. Ketika orang-orang yang seharusnya menjadi anutan, orang tua, tokoh masyarakat, atau figur publik lainnya, malas membaca, jangan salahkan kalau orang-orang yang berada di lapisan bawah akan mengadopsi dan mengadaptasi kultur yang iliterate semacam itu (Sawali Tuhusetyo, 2007). Kita menyadari bahwa keteladanan dalam membaca merupakan budaya yang belum berkembang di tengah-tengah masyarakat kita karena masih terkungkung dengan kebutuhan ekonomi. Mengenai hal ini Sawali (2010) berpendapat bahwa budaya membaca juga sangat erat kaitannya dengan kultur sebuah generasi. Mengharapkan generasi sekarang agar menjadi teladan bagi anak cucunya dalam membudayakan gemar membaca agaknya juga sulit diharapkan kontribusinya. Keterpukauan terhadap produk posliterasi telah melahirkan budaya baru yang makin menjauhkan generasi masa kini untuk gemar membaca. Yang perlu dilakukan sekarang adalah melahirkan generasi baru yang dengan amat sadar menjadikan aktivitas membaca sebagai sebuah kebutuhan (bukan kewajiban).
Permasalahan yang klasik dalam peningkatan minat baca masyarakat bukan merupakan arsip pasif yang tidak perlu kita buka-buka lagi. Tetapi justru sebaliknya, dapat digunakan sebagai rujukan dan dapat digunakan sebagai pembanding dan dapat diteliti lebih dalam lagi mengapa minat baca kita dinilai rendah?. Agus Buchori (2010 ) mempunyai resep yang perlu dikembangkan oleh pustakawan dalam membina kegemaran membaca masyarakat.
Pertama, sosialisasi bacaan ke keluaraga
Peningkatan minat baca bisa dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Dari keluarga inilah diharapkan orangtua mulai menanamkan kecintaan anak-anaknya untuk mencintai bacaan, misalnya dilakukan dengan membacakan buku cerita pada anak-anak menjelang tidur. Apabila dilakukan secara kontinyu, kegiatan ini lambat laun akan menggugah anak untuk membaca sendiri. Peran perpustakaan di sini bisa dilakukan dengan jalan mengadakan lomba mendongeng orang tua kepada anaknya. Ketika kebiasaan membaca sudah tertanam di setiap keluarga maka kebutuhan akan bahan bacaan akan meningkat dan diharapkan mereka akhirnya akan mencari tempat sumber koleksi bacaan. Dari sinilah perpustakaan diharapkan untuk menangkap kegelisahan masyarakat yang haus akan bacaan.
Kedua, mengundang anak TK/PAUD berkunjungan ke perpustakaan
Kegiatan ini bisa berupa; mewarnai, membaca, dan bisa juga melihat film yang diputar di perpustakaan. Aktivitas ini secara tidak langsung bisa memberikan pengalaman kepada anak-anak mengenai aktivitas perpustakaan. Anak-anak secara tidak langsung akan mengamati perilaku pengunjung dan petugas perpustakaan ketika mereka berada di ruang perpustakaan. Dari sini diharapkan mereka tidak canggung lagi ketika harus berkunjung sendiri ke perpustakaan kelak.
Ketiga, mengadakan lomba membaca naskah sastra
Lomba membaca naskah sastra merupakan salah satu kegiatan yang dapat merangsang minat baca. Ini disebabkan karena masing-masing individu mempunyai selera yang berbeda. Mereka akan memilih dan memilah jenis bacaan yang sesuai dengan perasaannya. Dari beberapa poin di atas diharapkan nantinya bisa tercipta kebiasaan membaca di masyarakat sehingga tercipta suatu kondisi masyarakat pembelajar sepanjang hayat (long life education ).
*/PNS di Kab. Blora

Presentasi Lisan, Sulitkah?


Presentasi Lisan, Sulitkah?
Oleh Drs. Budi Sugito, M.Si.


Drs. Budi Sugito, M.Si.
Presentasi secara lisan sama sekali berbeda dengan presentasi secara tertulis, karena tujuan kedua komunikasi tersebut berbeda. Tujuan utama presentasi lisan adalah untuk membangkitkan minat dan perhatian para pendengarnya, tidak sekedar memberikan informasi. Sebaliknya presentasi tertulis (laporan, makalah, jurnal, dsb.) lebih berfungsi sebagai sumber informasi. Karena perbedaan ini maka tata cara penyampaian presentasi lisan sangat berbeda dengan tata cara penyampaian presentasi tertulis, bahkan untuk materi yang sama sekali pun.
Untuk memahami bagaimana sesungguhnya presentasi lisan yang baik, perlu mengetahui presentasi lisan yang buruk yang pernah kita ikuti. Pada umumnya komentar pendengar terhadap presentasi yang buruk adalah: pembicara membosankan karena masalah yang dibahas tidak menarik; terlalu banyak basa basi/variasi yang tidak perlu; pembicara tidak siap dan sering lupa pokok permasalahan; presentasi tidak sistematis (mbulet), sehingga sulit diikuti; tayangan tidak menarik; pembicara tidak berani memandang hadirin, tetapi selalu memandang screen; dsb.
Dari uraian hal-hal buruk tersebut, maka presentasi lisan yang baik adalah :
ü  Menarik (tidak membosankan)
ü  Terorganisasi rapi
ü  Jelas
ü  Menggunakan waktu secara efektif
ü  Menggunakan alat bantu secara efektif
ü  Apabila menggunakan tayangan, tayangan tersebut enak dilihat dan mengesankan.

Langkah Persiapan
Bila kita mampu mengendalikan perasaan gugup (yang memang wajar) karena harus berbicara didepan banyak orang atau bahkan didepan pimpinan kita, serta mampu menunjukkan performa yang baik, berarti kita telah melakukan persiapan dengan baik. Memiliki rasa percaya diri, percaya bahwa isi dan urutan topik pembicaraan telah sesuai, bahwa penampilan cukup meyakinkan, merupakan langkah terpenting menghadapi perasaan demam panggung. Sebagian besar kesan yang diterima hadirin akan timbul bukan dari apa yang kita ucapkan, tetapi dari bagaimana kita mengucapkan. Ekspresi, volume suara, pilihan kata dan urutan pembicaraan seringkali lebih menarik perhatian daripada pemikiran yang hendak kita sampaikan.
Ada tiga cara utama menyampaikan presentasi lisan :
Pertama: mengandalkan ingatan, memberikan presentasi tanpa membuat catatan-catatan terlebih dahulu. Gaya presentasi seperti ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah menguasai permasalahan, serta sudah  memiliki jam terbang yang tinggi berbicara di depan umum. Bagi yang belum terbiasa tentu sangat berat dan pembawaannya terbata-bata. Yang lebih parah lagi, memori/ingatan tiba-tiba bisa hilang, terutama bila kita merasa gugup.
Kedua: mengandalkan catatan/teks.  Cara ini dapat mengurangi kegugupan dan pembicara tidak perlu menyampaikan presentasi dengan mencari-cari kata seperti ”...eee”, ”anu” atau” apa itu”. Namun cara inipun sebenarnya bukan cara komunikasi yang baik, karena antara gaya bahasa tulis dan lisan bisa sangat berbeda.  Presentasi lisan yang hanya membaca tulisan kata demi kata akan terdengar sangat monoton, membosankan dan sulit diikuti.
Ketiga: menggunakan alat bantu presentasi. Cara ini paling banyak dilakukan pada saat ini, seiring dengan kemajuan teknologi. Dalam metode ini, sebaiknya materi  ditampilkan dengan gaya yang menarik dan hanya menampilkan pokok-pokok atau garis besar, sedangkan penjelasan disampaikan secara lisan diluar tampilan di layar. Dengan begini ada kesempatan bagi pembicara untuk menatap/berinteraksi dengan hadirin.
Memulai Presentasi
Bersikap penuh percaya diri sangat penting artinya untuk memulai suatu presentasi. Cobalah dicari bagaimana memperkenalkan topik yang hendak disampaikan secara menarik dan efektif. Pilihlah kata-kata yang tepat dan sesuai.
Pada umumnya suatu presentasi lisan menghendaki agar hadirin tertarik dan memusatkan perhatian pada topik pembicaraan kita. Suatu tayangan yang memikat, atau suatu pernyataan yang menghubungkan topik dengan pengalaman mental  hadirin akan sangat efektif sebagai pembuka. Buku-buku tentang cara berpidato pada umumnya mengusulkan agar membuka  pidato/presentasi dengan petikan (dalil, peribahasa, ayat, dsb.),    pertanyaan retoris (misalnya: bagaimana kabar ibu dan bapak sekalian, sehat-sehat semua?, dsb.), atau pernyataan kejutan (misalnya: hasil penelitian, peristiwa luar biasa, dsb) yang berkaitan dengan topik pembicaraan.
Perlu diingat, baik dalam memulai maupun selama presentasi, tidak ada perlunya meminta maaf kepada hadirin karena presentasi kita terlalu sederhana, atau kurang bermutu, dsb. Permintaan maaf seperti ini mungkin melegakan perasaan kita sebagai pembicara, namun menghilangkan simpati dan minat hadirin. Daripada meminta maaf, lebih baik  sampaikan presentasi dengan jelas dan dengan gaya yang memikat serta profesional. Kebanyakan orang tidak begitu memperhatikan kesalahan, apabila kita tidak menunjukkannya. Kesalahan-kesalahan kecil yang mungkin ada, akan tertutup oleh penampilan presentasi yang memikat dan elegan.
Bicaralah pelan-pelan (tidak cepat) dan jelas. Tunjukkan minat dan antusias kita terhadap topik yang kita ketengahkan, serta berbicaralah dengan hadirin, bukan kepada layar atau catatan!.

Mengakhiri Presentasi
Suatu akhir presentasi yang merangsang pemikiran sama pentingnya dengan awal presentasi yang menarik minat. Menit-menit terakhir suatu presentasi merupakan bagian yang sangat mempengaruhi kesan hadirin. Sampaikan kesimpulan sedemikian rupa sehingga mengundang komentar, kemudian akhiri presentasi dengan mantap. Jangan melirihkan suara atau meningkatkan kecepatan berbicara. Sesudah kalimat terakhir, jangan lupa ucapkan ”terima kasih” kemudian sampaikan salam. Ini sekaligus sebagai tanda bahwa presentasi telah berakhir.
Pada umumnya setelah presentasi dilanjutkan dengan tanya jawab. Bagian ini merupakan bagian yang paling menakutkan, terutama bagi pembicara yang belum berpengalaman atau kurang menguasai permasalahan yang dipresentasikan. Kebanyakan pembicara membayangkan bahwa pertanyaan yang akan diajukan adalah untuk mencari-cari kelemahan atau hal-hal yang tidak dikuasai pembicara. Kemungkinan seperti itu sangat kecil. Namun apabila hal seperti itu benar-benar terjadi, ingatlah bahwa kita tidak harus menguasai segala sesuatu secara lengkap, sehingga tidak pada tempatnya dan tidak ada gunanya bersikap difensif. Membual akan sangat membosankan, tetapi buta sama sekali terhadap masalah yang diajukan penanya juga tidak benar. Bila jawaban yang membantu dan informasi tidak kita miliki, maka ucapkan saja ”suatu pendapat yang bagus” atau ”masalah seperti itu belum cukup saya pahami”. Bila ada yang ngotot mengajak berdebat, ajak saja membahas masalah yang diajukan setelah presentasi selesai.
Catatan Penting
Hal yang sangat penting agar kita mampu presentasi lisan dengan baik adalah membiasakan diri untuk sesering mungkin berbicara didepan umum. Ada pameo bahwa, bisa itu karena biasa. Ibarat seorang pilot, jumlah jam terbang akan menentukan kualitas dalam menerbangkan pesawat. Jangan berpikir bahwa dengan berbekal ilmu pengetahuan pasti dapat berbicara di depan umum. Belum tentu! Banyak orang berstrata pendidikan tinggi namun sama sekali tidak berkemampuan atau bahkan tidak berani berbicara di depan umum. Untuk itu ketika ada kesempatan tampil dan berbicara di depan umum, manfaatkan kesempatan itu. Ketika kesempatan itu dilewatkan, berarti suatu kerugian besar atau indikasi bahwa seseorang itu memang tidak berkeinginan untuk mampu berbicara di depan umum.
Penulis adalah Camat Ambarawa
nsep - � r i �/ � tugas perpustakaan nasional dalam usaha pimbanaan dan pengembangan perpustakaan semakin ringan. Setelah mampu melakukan pengelolaan perpustakaan maka masyarakat dapat melakukan pengelolaan secara mandiri atau swadaya. Bahkan masyarakat diberikan keleluasaan untuk merumuskan peraturan yang berlaku di perpustakaan. Perumusan peraturan perpustakaan yang dirumuskan oleh masyarakat dapat menjadi salah satu faktor yang memotivasi masyarakat datang ke perpustakaan.
PNPM Mandiri Versi Perpustakaan
Jika melihat realita yang ada di masyarakat PNPM Mandiri ternyata mampu “merangsang” masyarakat untuk melakukan pembangunan secara mandiri. Berbagai fasilitas publik dan program pemberdayaan masyarakat lainnya mampu dilakukan masyarakat secara mandiri. Dengan program ini maka proses pembangunan atau program pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah akan lebih cepat terlaksana karena melibatkan masyarakat.
Pemerintah melalui PNPM Mandiri memberikan stimulan berupa dana bantuan untuk mendukung program pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat. Dana bantuan yang diberikan kepada masyarakat inilah yang memotivasi masyarakat untuk melakukan pembangunan secara mandiri. Untuk memperoleh dana bantuan atau dana stimulan tersebut, masyarakat diwajibkan untuk menyusun proposal dan memiliki modal awal untuk melakukan kegiatan atau program yang akan dilaksanakan dalam proposal tersebut. Modal awal yang ada dalam proposal ini disyarakatkan sebagai bentuk keseriusan masyarakat untuk melakukan pembangunan.
PNPM mandiri direspon positif oleh masyarakat. Banyak masyarakat yang termotivasi untuk melakukan pembangunan secara mandiri. Jika melihat hasil dari implementasi PNPM mandiri ini, maka konsep ini layak dijadikan sebagai referensi untuk membangunan perpustakaan di Tanah Air. Selama ini pembangunan perpustakaan di tanah air selalu bertumpu kepada Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Daerah. Dengan mengadopsi konsep dari PNPM mandiri ini maka peran masyarakat dalam pembangunan perpustakaan di tanah air sebagai besar. Masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai pihak yang dilayani oleh perpustakaan, akan tetapi menjadi aktor yang memiliki peranan penting dalam pembangunan dan pengelolaan perpustakaan itu sendiri.
Seperti PNPM Mandiri, pemerintah melalui lembaga terkait seperti Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Daerah atau bahkan Dinas Pendidikan dapat memberikan dana stimulan untuk peningkatan kualitas perpustakaan. Dana stimulan ini diberikan kepada kelompok masyarakat yang bersedia untuk mengajukan proposal pengembangan perpustakaan. Bagi masyarakat yang telah memiliki perpustakaan mereka dapat mengajukan proposal untuk peningkatan fungsi perpustakaan. Sementara bagi masyarakat yang belum memiliki perpustakaan dapat mengajukan proposal untuk membangunan embrio perpustakaan. Namun hendaknya tidak hanya memberikan stimulan bantuan dana, perpustakaan juga perlu melakukan kegiatan pendampingan serta evaluasi terhadap pengelolaan perpustakaan.
Jika konsep ini benar-benar terealisasi maka akan banyak tumbuh perpustakaan di Tanah Air, secara tidak langsung upaya pembinaan minat baca yang selama ini bertumpu dapat perpustakaan daerah dapat didistribusikan melalui perpustakaan-perpustakaan yang berada dilingkungan masyarakat. Dengan demikian maka beban perpustakaan umum dalam melakukan pembinaan minat baca masyarakat menjadi lebih ringan.
*\Staf Perpustakaan ISI Yogyakarta

PNPM Mandiri Versi Perpustakaan

PNPM Mandiri Versi Perpustakaan
Oleh : Heri Abi Burachman Hakim
Top of Form
Setiap negara tentu memiliki cita-cita atau tujuan untuk mensejahterakan rakyatnya. Tidak terkecuali bangsa Indonesia, bahkan  cita-cita ini diabadikan dan diamanatkan dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Para pendiri bangsa ini sadar betul bahwa kesejateraan rakyat adalah cita-cita yang harus diwujudkan sehingga perlu untuk dicantumkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Bagi bangsa Indonesia Undang-Undang merupakan pedoman bagi penyelenggaraan negara.
Heri Abi Burachman Hakim
Digulirkannya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri atau yang lebih dikenal dengan PNPM mandiri untuk mensejahteranakan masyarakat Indonesia. PNPM Mandiri merupakan program terbaru, dengan harapan mempercepat penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja melalui konsolidasi program-program pemberdayaan masyarakat yang ada di berbagai kementerian atau lembaga (Tim Penyusun Pedoman Umum PNPM Mandiri, 2007).
Dari konsep yang digunakan dalam program ini, dapat diketahui bahwa pemerintah mulai menyadari bahwa masyarakat merupakan modal dalam pembangunan. Pemberdayaan masyarakat merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program ini menjadikan masyarakat sebagai ujung tombak dalam meningkatan kesejahteraannya sendiri. Masyarakat menjadi aktor utama dalam penanggulangan kemiskinan yang dilibatkan dari proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi.
Hasil dari program seperti ini dapat dilihat disekitar kita, masyarakat mulai membangun unit-unit usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu dengan dana stimulan yang diberikan oleh program ini masyarakat mulai membangun infrastruktur ekonomi seperti jalan secara bersama-sama atau pembangunan infrastrukturnya.
Lalu bagaimana jika konsep Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri ini,  digunakan sebagai konsep dalam pengembangan perpustakaan di Tanah Air?  Menurut penulis konsep PNPM mandiri ini dapat ditiru sebagai konsep pengembangan perpustakaan. Program ini memposisikan masyarakat sebagai ujung tombak dalam pengembangan masyarakat.
Kondisi Perpustakaan Saat ini
Dunia perpustakaan di Indonesia saat ini mulai bangkit. Menyadari akan arti penting perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi kepada masyarakat, perpustakaan mulai bermunculan. Saat ini tersedia perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum, perpustakaan keliling, perpustakaan komunitas atau bahkan taman baca yang akan memanjakan minat baca masyarakat.
Berdasarkan data yang dipublikasikan melalui web Perpustakaan Nasional (www.pnri.go.id), saat ini terdapat 14468 perpustakaan yang siap melayani masyarakat indonesia dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan bacaan serta melakukan pembinaan minat baca masyarakat. Jumlah tersebut terdiri dari 9215 perpustakaan sekolah, 759 perpustakaan perguruan tinggi,  2151 perpustakaan umum dan 2343 perpustakaan khusus.
Walaupun jumlah perpustakaan terus meningkat, namun jika melihat data perpustakaan di atas maka jumlah tersebut kurang memadai untuk melayani masyarakat Indonesia yang berjumlah 206.264.595 (www.bps.go.id). Jika melihat data perpustakaan yang ada dengan jumlah penduduk maka sebuah perpustakaan harus melayani sekitar 14257 orang.
Selain jumlah perpustakaan yang minim, kondisi berbagai perpustakaan yang ada tersebut bagaikan dua sisi mata uang, di satu sisi ada perpustakaan maju yang ditopang dengan dana yang memadai, di sisi lain ada perpustakaan yang hidup dalam keterbatasan dan dikelola seadanya.  Belum lagi pertumbuhan berbagai perpustakaan tersebut terpusat di kota-kota besar sehingga masyarakat dipedalaman minimnya aksesnya terhadap perpustakaan. Dengan demikian ada ketimpangan kualitas perpustakaan di tanah air.
Pengembangan perpustakaan di tanah air selayaknya memang menjadi tanggung jawab pemerintah. Melalui Perpustakaan Nasional yang merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah, tanggung jawab pengembangan dan pembinaan perpustakaan di tanah air dilaksanakan. Namun jika melihat jumlah penduduk Indonesia yang terlalui besar serta luasnya wilayah Indonesia maka untuk mendukung pembinaan dan pengembangan perpustakaan di tanah air bukanlah pekerjaan mudah. Sebenarnya untuk mempermudah dan mempercepat proses pembinaan serta pengembangan perpustakaan di Indonesai dapat, Perpustakaan Nasional dapat memanfaatkan masyarakat sebagai salah satu komponen untuk mendukung pembinaan dan pengembangan perpustakaan di tanah air. Masyarakat belum dipandang sebagai salah satu komponen penting dalam pembinaan dan pengembangan perpustakaan di Tanah Air. Padahal jika masyarakat dilibatkan dalam pembinaan dan pengembangan perpustakaan maka beban yang ada dipundak perpustakaan nasional semakin ringan.
Masyarakat sebagai Ujung Tobak
Perpustakaan memiliki fungsi untuk melayani masyarakat. Sebagai lembaga yang memiliki fungsi melayani masyarakat lembaga ini senantiasa berada di tengah-tengah masyarakat. Pola interaksi antara perpustakaan dan masyarakat adalah pola interaksi yang saling membutuhkan. Eksistensi perpustakaan tidak akan berarti jika tidak diakses oleh masyarakat. Masyarakat juga berharap perpustakaan terus berkembang sehingga mampu memenuhi kebutuhan informasi.
Pola interaksi atau hubungan yang saling membutuhkan ini, maka apabila masyarakat dilibatkan dalam proses pembinaan dan pengembangan maka tentu dengan senang hati masyarakat akan berpartisipasi. Masyarakat tentu akan senang jika dilibatkan dalam proses pengembangan dan pembinaan perpustakaan karena apabila proses pembinaan dan pengembangan yang dilakukan perpustakaan nasional berhasil maka masyarakat sendirilah yang akan memperoleh manfaat.
Dalam program pembinaan dan pengembangan perpustakaan, masyarakat dapat dilibatkan dalam pendanaan dan pengelolaan perpustakaan. Masyarakat dapat diikut serta dalam pendanaan perpustakaan dan pengelola perpustakaan. Masih segar diingatan kita tentang jumlah koin yang berhasil dikumpulkan dalam kegiatan coin for prita atau coin for balqis mencapai milyaran  rupiah. Guna membantu ibu Prita Mulya Sari dan Balqis masyarakat kemudian mengadakan kegiatan pengumpulan uang receh atau yang dikenal dengan istilah coint for prita atau coin for balqis dan ternyata nominal uang yang berhasil dikumpulkan jumlahnya cukup besar. Dengan demikian sebenarnya masyarakat dapat diposisikan sebagai modal dalam pengembangan perpustakaan. Masyarakat juga dapat dilibatkan dalam pengelolaan perpustakaan, tentu dengan bimbingan dari perpustakaan nasional.
Agar masyarakat termotivasi untuk terlibat dalam pendanaan dan pengelolaan perpustakaan maka perpustakaan nasional perlu memberikan stimulan. Stimulan yang diberikan dapat berupa uang pembinaan perpustakaan atau berbagai bantuan fisik lainya seperti buku, komputer atau gedung untuk pengelolaan perpustakaan. Untuk memperoleh stimulan ini, masyarakat diwajibkan untuk mengajukan proposal. Namun, sebagai syarat untuk menyetujui proposal dan memberikan dana stimulan pengembangan perpustakaan  maka masyarakat diharuskan memiliki modal dasar. 
Masyarakat juga perlu diberikan pelatihan pengelolaan perpustakaan. Pengelolaan tidak hanya dilakukan oleh pustakawan yang dimiliki perpustakaan nasional karena jumlah pustakawan sangat terbatas. Pelatihan ini dilakukan secara berkesinambungan dan terencana. Dengan konsep seperti ini maka tugas perpustakaan nasional dalam usaha pimbanaan dan pengembangan perpustakaan semakin ringan. Setelah mampu melakukan pengelolaan perpustakaan maka masyarakat dapat melakukan pengelolaan secara mandiri atau swadaya. Bahkan masyarakat diberikan keleluasaan untuk merumuskan peraturan yang berlaku di perpustakaan. Perumusan peraturan perpustakaan yang dirumuskan oleh masyarakat dapat menjadi salah satu faktor yang memotivasi masyarakat datang ke perpustakaan.
PNPM Mandiri Versi Perpustakaan
Jika melihat realita yang ada di masyarakat PNPM Mandiri ternyata mampu “merangsang” masyarakat untuk melakukan pembangunan secara mandiri. Berbagai fasilitas publik dan program pemberdayaan masyarakat lainnya mampu dilakukan masyarakat secara mandiri. Dengan program ini maka proses pembangunan atau program pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah akan lebih cepat terlaksana karena melibatkan masyarakat.
Pemerintah melalui PNPM Mandiri memberikan stimulan berupa dana bantuan untuk mendukung program pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat. Dana bantuan yang diberikan kepada masyarakat inilah yang memotivasi masyarakat untuk melakukan pembangunan secara mandiri. Untuk memperoleh dana bantuan atau dana stimulan tersebut, masyarakat diwajibkan untuk menyusun proposal dan memiliki modal awal untuk melakukan kegiatan atau program yang akan dilaksanakan dalam proposal tersebut. Modal awal yang ada dalam proposal ini disyarakatkan sebagai bentuk keseriusan masyarakat untuk melakukan pembangunan.
PNPM mandiri direspon positif oleh masyarakat. Banyak masyarakat yang termotivasi untuk melakukan pembangunan secara mandiri. Jika melihat hasil dari implementasi PNPM mandiri ini, maka konsep ini layak dijadikan sebagai referensi untuk membangunan perpustakaan di Tanah Air. Selama ini pembangunan perpustakaan di tanah air selalu bertumpu kepada Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Daerah. Dengan mengadopsi konsep dari PNPM mandiri ini maka peran masyarakat dalam pembangunan perpustakaan di tanah air sebagai besar. Masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai pihak yang dilayani oleh perpustakaan, akan tetapi menjadi aktor yang memiliki peranan penting dalam pembangunan dan pengelolaan perpustakaan itu sendiri.
Seperti PNPM Mandiri, pemerintah melalui lembaga terkait seperti Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Daerah atau bahkan Dinas Pendidikan dapat memberikan dana stimulan untuk peningkatan kualitas perpustakaan. Dana stimulan ini diberikan kepada kelompok masyarakat yang bersedia untuk mengajukan proposal pengembangan perpustakaan. Bagi masyarakat yang telah memiliki perpustakaan mereka dapat mengajukan proposal untuk peningkatan fungsi perpustakaan. Sementara bagi masyarakat yang belum memiliki perpustakaan dapat mengajukan proposal untuk membangunan embrio perpustakaan. Namun hendaknya tidak hanya memberikan stimulan bantuan dana, perpustakaan juga perlu melakukan kegiatan pendampingan serta evaluasi terhadap pengelolaan perpustakaan.
Jika konsep ini benar-benar terealisasi maka akan banyak tumbuh perpustakaan di Tanah Air, secara tidak langsung upaya pembinaan minat baca yang selama ini bertumpu dapat perpustakaan daerah dapat didistribusikan melalui perpustakaan-perpustakaan yang berada dilingkungan masyarakat. Dengan demikian maka beban perpustakaan umum dalam melakukan pembinaan minat baca masyarakat menjadi lebih ringan.
*\Staf Perpustakaan ISI Yogyakarta

PERPUSTAKAAN VS GUDANG BUKU


PERPUSTAKAAN VS GUDANG BUKU
D. Arief .A.P.
Apa yang anda pikirkan ketikan mendengar perpustakaan dan gudang buku????,,,,,,,,,,,,,,,
D. Arief .A.P.
Menurut Random House Dictionary Of The English Language, perpustakaan adalah suatu tempat, berupa sebuah ruangan atau gedung yang berisi buku-buku dan bahan-bahan lain untuk bacaan, studi maupun rujukan. Menurut Encyclopedia Britannica, perpustakaan adalah himpunan bahan-bahan tertulis atau tercetak yang diatur dan diorganisasikan untuk tujuan studi dan penelitian atau pembacaan umum atau kedua-duannya.
Sedangkan menurut kamus istilah perpustakaan dan dokumentasi yang diterbitkan oleh pusat pembinaan dan pengembangaan bahasa, perpustakaan diartikan sebagai (1) koleksi buku, majalah dan bahan kepustakaan lainya yang disimpan untuk dibaca, dipelajari, dan dibicarakan. (2) tempat, gedung, atau ruangan yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku. Dan menurut keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002 perpustakaan (termasuk didalamnya pusat dokumentasi dan informasi) adalah suatu unit kerja yang memiliki sumber daya manusia, ruangan khusus dan koleksi bahan pustaka sekurang-kurangnya 1.000 judul dari berbagai disiplin ilmu yang sesuai dengan jenis perpustakaan yang bersangkutan dan dikelola menurut sistem tertentu.
Perpustakaan merupakan jantung atau urat nadi bagi suatu intansi/ institusi/ universitas/ badan korporasi laniya. Perpustakaan saat ini, tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan dan mencari buku, tetapi lebih dari itu  yaitu menjadi sumber/tempat mencari informasi. Berbagai informasi dapat ditemukan diperpustakaan, mulai dari yang informasi yang bersifat ilmiah, sejarah sampai informasi yang bersifat popular.
Tetapi mengapa sampai saat ini masih ada perpustakaan yang kondisinya sangat memprihatinkan. Pengalaman saya ketika saya berkunjung kesalah satu SD di pinggiran Wilayah Kabupaten Semarang saya mendapati sebuah perpustakaan yang sebenarnya tidak layak disebut perpustakaan, bahkan hampir mirip sebuah gudang buku. Tetapi mengapa pihak sekolah tersebut masih meyebut bangunan itu sebagai perpustakaan. Walaupun tidak ada aktifitas diruangan itu. Apalagi pengunjung, pustakawanya saja jarang masuk ke perpustakaan dan ruangannya pun jarang dibuka, Tanpa ada administrasi hanya ada inventaris koleksi buku itupun tidak lengkap/ baru sebagian, buku dibiarkan berserakan, berdebu, dan bahkan ada salah satu rak yang bukunya menjadi sarang semut.
Kondisi itu sangat menghawatirkan, dengan latar belakang pengelola yang berpendidikan di bidang ilmu perpustakaan mengapa kondisi itu masih terjadi. Mungkin karna hal seperti itu minat baca generasi muda bangsa Indonesia jadi berkurang. Bangsa Indonesia telah merdeka selama 66 tahun dan statusnya masih menjadi Negara berkembang,
Kapan? bangsa ini menjadi Negara maju jika minat baca dan belajar generasi penerus bangsa terhambat cuma karena perpustakaan yang kurang terorganisasi. Contohlah Negara Jepang, dan negara-negara maju lainya. Mereka sudah menjadikan membaca sebagai kebiasaan/ kegemaran. Dengan mencintai buku merupakan awal agar kita terbiasa membaca dan membaca akan menjadi kegemaran. Budaya membaca harus kita ajarkan kepada anak cucu kita agar bangsa Indonesia nantinya bisa lebih maju.
Misalnya dengan cara membelikan mereka buku, mengajak merepa ke perpustakaan, bukan membelikan mereka mainan. Tidak berarti tidak boleh membelian mainan tetapi harus kita imbangi dengan hal-hal yang mendidikan dan dapat meningkatkan minat baca agar perpustakaan dilingkunganya menjadi maju dan berkembang, bukan malah mundur dan menjadi gudang buku, dan hal penting yang harus dilakukan pustakawan adalah melayani pemustaka dengan baik dan ramah agar mereka puas, jika mereka puas dan senang mereka pasti akan datang kembali.
Sesungguhnya syarat sebuah gedung untuk dapat disebut perpustakaan adalah, harus ada:
·         Kumpulan bahan pustaka dalam bentuk tercetak maupun non cetak.
·         Bahan pustaka yang ada harus ditata berdasarkan sistem yang berlaku, diolah dan diproses, baik secara manual atau secara otomatis.
·         Bahan pustaka yang telah diolah dan diproses harus ditempatkan di ruangan tertentu.
·         Ada pengguna perpustakaan, yang memanfaatkan koleksi bahan pustaka untuk kepentingan ilmu pengetahuan, penelitian, informasi, dan hal-hal lainya yang berkepentingan dengan belajar dan menimba ilmu.
Pertanyaan saya terakhir buat para pustakawan apakan perpustaakan anda sudah memenuhi syarat diatas untuk disebut perpustakaan?????
Mahasiswa D2 Ilmu Perpusakaan Universitas Terbuka Pokjar Tengaran
> <�!% �/ � tr style='mso-yfti-irow:4'>
4
Buku-buku tentang Perpustakaan
1 %
5
Bacaan Sehat (fiksi dan Keterampilan)
50 %
6
Bacaan tentang daerahnya
4 %
7
Buku-buku profesi guru
10 %
8
Buku-buku untuk anak luar biasa
5 %
(Dian Sinaga. Mengelola Perpustakaan Sekolah, Bandung, Bejana, 2011)
Dari tabel diatas, jelas terlihat bahwa prosentase koleksi perpustakaan terhadap buku-buku yang bersifat rekreatif atau atau bacaan sehat hendaknya 50 % dari keseluruhan koleksi yang dimiliki perpustakaan. Sedangkan buku-buku teks hanya disyaratkan 10 % dari keseluruhan koleksi yang dimiliki perpustakaan.
Jika mengamati beberapa perpustakaan sekolah saat ini, koleksi yang dimiliki sebagian besar merupakan koleksi buku teks atau buku pelajaran sehingga belum sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Hal ini terjadi karena sebagian besar koleksi mereka merupakan koleksi pemberian pemerintah atau biasa dikenal dengan buku drop-dropan pemerintah, sehingga jenis buku, judul buku, pengarang buku, subyek buku sama antar satu sekolah dengan sekolah lain. Ditambah lagi dengan jumlah eksemplar yang berlebihan, misalnya satu judul 50 eksemplar, sehingga terkesan koleksi perpustakaan banyak eksemplar dengan sedikit variasi judul.
Jika hal ini dibiarkan berlangsung terus menerus, maka dalam waktu tertentu perpustakaan akan penuh dengan buku-buku yang tidak terpakai, tidak dimanfaatkan karena tidak sesuai dengan kebutuhan dan akhirnya dana pemerintah untuk peningkatan kualitas pendidikan hanya terbuang sia-sia.   
Kebanyakan sekolah terutama sekolah negeri, mendapatkan koleksi perpustakaan melalui dana proyek pemerintah, baik APBD I, APBD II maupun APBN dan APBNP, dan pemberian dana pemerintah tidak diberikan langsung kepada sekolah untuk mengelola atau membelanjakan sendiri dana yang diberikan oleh pemerintah sesuai kebutuhan sekolah itu sendiri. Namun dalam bentuk buku atau juga sarana prasaran lain yang proses pengadaanya dilakukan oleh pemerintah pusat atau daerah. Tidak salah sebenarnya ketika pemerintah melakukan proses pengadaan buku sendiri untuk menghemat anggaran dan juga meminimalisir kesalahan dalam proses pengadaan. Namun, kesalahanya adalah bahwa pengadaan buku proyek ternyata sebagian besar tidak memenuhi target pemerintah dan tidak disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, yang akhirnya buku-buku tersebut tidak digunakan oleh sekolah. Pertanyaannya adalah mengapa bisa terjadi kasus yang demikian?
Pertanyaan ini barangkali seringkali menghinggapi pikiran para pemerhati dan praktisi dibidang perpustakaan.
Masih melekat diingatan kita mengenai kasus pengadaan buku ajar di sebuah kota  yang melibatkan beberapa oknum pejabat dilingkungan Pemerintah Kota Salatiga. Meskipun awalnya kasus tersebut dihentikan, namun akhirnya pada bulan November tahun 2011 para oknum yang awalnya dinyatakan tidak bersalah, namun sekarang para pelaku sudah ada yang dimasukkan ke dalam hotel prodeo.  Belum lagi kasus dana bantuan pendidikan yang melibatkan mantan bupati temanggung dan 6 mantan anggota DPRD temanggung periode 2001-2004 yang tersandung kasus dana bantuan pendidikan putra-putri anggota DPRD Kabupaten temanggung yang berkasnya sudah siap dilimpahkan ke Kejaksaan[1]. Ini sungguh ironi dengan tujuan pemerintah yang ingin meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, namun ternyata disalahgunakan oleh oknum-oknum dalam pemerintahan.
Kasus-kasus semacam ini sudah menjadi pemandangan yang biasa dan lumrah di negeri kita ini. hal ini menjadi indikator kegagalan pemerintah dalam melaksanakan proyek terutama proyek peningkatan kualitas pendidikan salah satunya proyek pengadaan buku sekolah maupun proyek pendidikan lainnya. Kita patut prihatin terhadap kondisi ini, kita tidak pernah tahu sampai kapan kondisi semacam ini akan berlangsung. Namun kita harus tetap optimis bahwa keadaan ini akan segara berubah bersama dengan kepedulian semua pihak untuk melakukan hal yang baik dan benar untuk kemajuan pemerintah utamanya dalam bidang pendidikan.
Nasib perpustakaan sekolah saat ini memang belum sebaik perpustakaan perguruan tinggi, dimana perpustakaan perguruan tinggi memiliki kewenangan melakukan pengadaan buku-buku sendiri sesuai yang dibutuhkan dan diinginkan oleh para pemustaka sebagai custumer setia perpustakaan. Nasib perpustakaan sekolah saat ini ibarat seperti gudang penyimpan buku proyek pemerintah pusat maupun daerah saja, baik melalui dana APBN maupun APBD, tanpa dapat melakukan penolakan dan penyesuaian dengan kebutuhan sekolah.
Melalui tulisan ini penulis merasa ikut prihatin dengan kondisi beberapa perpustakaan sekolah yang masih belum berfungsi sebagaimestinya. Penulis menghimbau kepada pemerintah, baik daerah maupun pusat agar selektif dan transparan dalam pelaksanaan proyek pengadaan buku yang nantinya akan disalurkan ke sekolah. Proyek pemerintah hendaknya berorientasi pada kebutuhan sekolah, bukan berorientasi yang lain, karena perpustakaan sekolah bukanlah gudang buku proyek yang ketika dilihat saja tidak menarik, apalagi digunakan sebagai literature untuk peningkatan kualitas pendidikan kita. Semoga bermanfaat….
*/Pustakawan di Stain Salatiga