Slogan kami

Redaksi Buletin Pustaka mengucapkan Selamat Hari Soempah Pemoeda, 28 Oktober 2013

Kamis, 08 November 2012

Taman Bacaan “ Kawan Kami”


Dolly, begitu masyarakat mengenal sebuah tempat ‘lokalisasi’ di daerah Surabaya, Buletin pustaka berhasil menemukan seorang kawan yang bergeliat membangun anak bangsa disana. Seperti oase di gurun pasir, menawarkan dahaga bagi anak-anak yang haus akan pengetahuan, lapar akan kreatifitas. Terletak di Jl. Putat Jaya Gang IIA/36 Kota Surabaya, dengan papan nama Taman Bacaan Kawan Kami.
Bapak Kartono sang pendiri Taman Baca Kawan Kami ini, melalui proses pendewasaan panjang Bapak Kartono mendirikan Taman Baca ini. Sosok Kartono adalah pria petualang. Tahun 1983 dari Banyuwangi ia merantau ke Surabaya. Setahun kemudian ia pindah ke Jakarta. Enam tahun kemudian ia kembali ke Surabaya. Di kota Pahlawan kemudian ia bekerja di sebuah perusahaan onderdil dan bengkel.
Kepintarannya menjalin hubungan dengan para customer-nya itulah yang akhirnya membuat dia mudah akrab dengan berbagai kalangan. Hingga satu ketika, Bapak Kartono mulai dengan dunia malam.
Pada 2000, ada seorang teman yang mengajak untuk membuka kafe di daerah Putat Jaya. Kafe itu mulanya memang hanya untuk menjual minuman dan tempat karaoke saja. Namun, berjalan tiga bulan, usaha itu tidak membawa untung. Agar ramai, teman-temannya menyarankan untuk menggunakan jasa wanita penghibur. Dan saran itu disetujuinya. Usaha itu ia jalankan hingga 2006.
Sambil menjalankan usahanya itulah, pria lulusan STM itu mengikuti pelatihan-pelatihan penanggulangan HIV/AIDS dan trafficking oleh LSM dan menjadi pengurus Yayasan Abdi Asih. Selama itu pula Kartono mulai berpikir tentang usahanya yang mulai dia sadari keliru. Mirisnya, di lingkungan usahanya itu banyak ia temui anak-anak yang tidak sekolah dan seringkali mendapat perlakuan tak manusiawi. Hingga akhirnya, bertepatan dengan malam pertama Ramadhan 2006, ia tutup usaha itu.
Taman Baca di Bekas ‘Wisma’
Enam tahun menjadi bos dunia malam membuat Kartono prihatin dengan nasib anak-anak di lingkungan lokalisasi Putat Jaya, Surabaya. Kekerasan psikis dan fisik hingga trafficking rentan mengancam keceriaan mereka. Berbekal pengalaman hidup di lingkungan prostitusi itulah, ia memutuskan membuat taman baca (TB) Kawan Kami.
Bagi pria kelahiran Banyuwangi, 29 Agustus 1963 itu, Kawan Kami adalah harga mati. “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya masa depan anak-anak itu. Mereka sangat rentan sekali dengan pengaruh lingkungannya. Mereka sangat mungkin meneruskan pekerjaan orang tuanya,” tegasnya.
Bersama enam temannya, ia mendirikan taman baca itu dengan dana awal urunan. Uang Rp 3 juta hasil urunan itu digunakan untuk menyewa dua kamar rumah bekas wisma 36 di gang 2 A Putat Jaya, Surabaya. Dengan hanya berbekal belasan buku bacaan, pada 9 Februari 2007, taman baca itu dibuka. Setelah itu seperti keran air berbagai bantuan buku datang dari beberapa lembaga.
“Taman Baca ini bukan semata milik pribadi atau milik pendiri tapi taman baca ini milik kita bersama/ milik semua orang sehingga semua kegiatan yang ada di ‘Kawan Kami’ gratis termasuk relawan pengajarnya, dengan begitu semua ikut berpartisipasi untuk merawat dan menjaga kelangsungannya,” jelas Bapak Kartono ketika ditanyakan mengenai  ihwal pemberian nama Kawan Kami.
Hambatan bukannya tidak ditemui oleh bapak Kartono, diawal berdirinya Taman Baca Kawan Kami. Dari berbelit-belitnya pengurusan izin hingga penarikan ‘upeti’ dari para oknum menjadi ganjalan. Namun, Kartono tak menghiraukan dan tetap jalan dengan impiannya.
Saya ingin mengubah kondisi anak-anak di sini agar lebih baik. Saya yakin dengan membaca, pola pikir mereka akan berubah dan tidak meniru pekerjaan yang jelek,” katanya.
Kartono akhirnya sendirian mengembangkan “Kawan Kami” karena kesibukan rekan-rekannya tak bisa ikut lagi,   mengharuskan dia membiayai seluruh biaya operasional dari hasil pekerjaan yang tak tentu. Tidak sedikit memang biaya yang harus ia tanggung. Mulai dari biaya kontrak, listrik, hingga pernak-pernik ruangan harus ia sediakan agar anak-anak asuhnya betah. Makanya, tak heran kalau untuk mencukupi itu semua, bapak empat anak itu harus pontang-panting mencari pinjaman dan bantuan.
Saya akan berusaha mati-matian untuk mempertahankan Kawan Kami. Andai tidak ada yang mau membantu, pinjam rentenir pun akan saya lakukan,” paparnya.
Pada awal berdirinya tak banyak anak yang tertarik untuk bermain dan belajar di tempat tersebut. Ruangan yang ada hanya sebesar (2,5m x 2,5m). Kegiatan belajar mengajarnya hanya pada hari minggu siang yang dilakukan oleh KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dari ITS. Sampai kemudian datang para relawan dari berbagai komunitas, seperti Relawan dari YDSF, komunitas Cerita Menulis Diskusi Online (Chendol), Remas Al Falah dan Remas Al Akbar.
Kini, perjuangan itu dirasakan manfaatnya. Puluhan anak-anak setiap hari memenuhi taman baca dengan koleksi buku lebih dari 4.000 eksemplar. Banyak orang tua mereka yang berprofesi sebagai mucikari dan PSK, merasa tertolong dengan hadirnya taman baca tersebut. Bahkan, mereka keberatan bila tempat belajar anak-anak mereka itu pindah atau ditutup.
Taman Baca ‘Kawan Kami’ buka setiap hari dari jam 9 pagi sampai jam 8 malam. Sementara itu,  Jadwal Kegiatan rutin di Taman Baca KAWAN KAMI :
1.    Menulis (Sastra),  Minggu, Jam Jam : 09.00-11.30 WIB yang diampu oleh Komunitas Penulis Surabaya (Cendol). Beberapakali performance di luar kompleks. Seperti pada Februari 2012 di Perpustakaan Umum Kota Surabaya dalam acara yang bertemakan tema "Mom, Please don't Die" , dimana anak-anak dari lokalisasi membacakan puisinya yang sebelumnya sudah di kompetisikan di Taman Bacaan Kawan Kami, Dolly.
2.    Bimbingan Belajar, setiap hari jam 13.00 - 16.00 WIB, oleh : KAMMI-ITS
3.    Seni Hadrah, Senin jam : 16.30-20.30, oleh : Remas Al Akbar
4.    Mengaji, setiap hari Kamis jam : 16.30-20.30 Oleh : Relawan YDSF dan Remas Al Akbar.
Anak anak yang belajar Al Quran di “Kawan Kami”, walaupun di gempur suara bising lagu karaoke namun adik adik tetap semangat dalam mempelajari Al Quran
5.    Pengembangan Kreativitas dan Pemutaran film Anak setiap hari Sabtu Jam : 18.30 - 20.30 oleh  Relawan YDSF dan Remas Al Falah
Selain kegiatan rutin, Taman Baca Kawan Kami juga mengadakan kegiatan dalam moment/ event tertentu, seperti pada Bulan Ramadhan diadakan Pesantren Sastra bekerjasama dengan komunitas grup CENDOL.
“Kawan Kami juga mengadakan kegiatan sosialisasi/ advokasi pencegahan perdagangan anak baik kepada masyarakat maupun pemerintah khususnya mengenai pemenuhan ha-hak anak”, jelas Bapak Kartono.
Prestasi yang pernah diraih, pada tahun 2008 lalu Taman Bacaan Kawan Kami meraih Piala Walikota sebagai taman bacaan umum terbaik ketiga se-Surabaya. Taman Baca Kawan Kami juga masuk dalam jaringan Against Child Trafficking —sebuah lembaga nonprofit yang berpusat di Belanda dengan misi memerangi trafficking.
Untuk berkorespondensi dan segala macam bantuan yang tidak mengikat, “Sukarelawan pun kami selalu membuka pintu asal sesuai dengan visi kami”, jelas Bapak Kartono saat mengakhiri wawancara dengan Buletin Pustaka. Siapa saja boleh datang langsung ke  Taman Baca Kawan Kami di Jl. Putat Jaya Gang IIA /36 Surabaya atau bisa mengungjungi weblog: http://tbkawankami.blogspot.com/  jika ingin informasi yang lebih jelas dapat menghubungi Bapak Kartono dengan no telp. : 085730004501 /082132502673.
---Semoga mampu menginspirasi yang lain.... (BM)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar